LANGIT7.ID-Jakarta; - Segala keistimewaan yang melekat pada diri manusia bukanlah sebuah kebetulan, melainkan wujud nyata dari luasnya rahmat Allah SWT. Penegasan tentang bagaimana Allah menempatkan manusia di kedudukan yang sangat mulia tertuang indah dalam Al-Qur'an, tepatnya pada QS. Al-Isra ayat 70:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
“
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, dan Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”
Dalam ayat tersebut, terdapat kata
hamalnahum (Kami angkut mereka). Para ulama tafsir seperti dikutip laman Tafsir Alquran memiliki sudut pandang menarik dalam mengartikan kata ini. Menurut Imam Ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib, Allah memfasilitasi manusia untuk mengarungi daratan dan lautan dengan cara menundukkan kedua alam tersebut. Tujuannya agar manusia bisa mengeksplorasi dan memanfaatkan potensi alam demi keberlangsungan hidup.
Sementara Ibnu 'Asyur dalam At-Tahrir wat Tanwir melihat kata hamala sebagai bentuk ilham atau kecerdasan yang Allah tiupkan kepada manusia. Dengan akal tersebut, manusia mampu menciptakan inovasi berupa moda transportasi untuk menaklukkan daratan dan lautan.
Terkait penggalan ayat
wa razaqnahum (Kami beri mereka rezeki), Ibnu Manzur dalam kitab Lisan al-'Arab menegaskan bahwa rezeki adalah murni pemberian dari Allah SWT. Rezeki ini tidak melulu soal materi (dzahir) seperti makanan, pakaian, kekuatan, atau kesehatan fisik. Rezeki juga mencakup hal-hal yang bersifat abstrak atau batin, seperti ketenangan jiwa, pemahaman ilmu, dan kelapangan hati.
Sementara itu, kata
at-thayyibat diartikan sebagai segala bentuk kebaikan yang mendatangkan kenikmatan, baik yang diperoleh lewat keringat usaha manusia sendiri maupun yang didapatkan secara cuma-cuma atas kemurahan Allah.
Meskipun sekilas terdengar mirip karena sama-sama bermakna kemuliaan dari Allah, Imam Al-Alusi dalam tafsir Ruh al-Ma’ani membedakan makna
al-takrim dan
al-tafdil. Al-Takrim merupakan hadiah modal awal dari Allah yang membedakan fisik dan mental manusia dengan makhluk lain. Sedangkan
al-Tafdil adalah kemampuan dan potensi yang diberikan kepada manusia untuk mengelola, mengolah, dan mengeksplorasi hadiah/modal awal tersebut. Sederhananya, al-takrim adalah pemberiannya, sedangkan al-tafdil adalah kecakapan manusia untuk mengelola pemberian tersebut.
4 Kemuliaan Manusia dalam Surat Al-Isra Ayat 70Berdasarkan struktur ayatnya, setidaknya ada empat bentuk kemuliaan yang Allah anugerahkan kepada anak cucu Nabi Adam. Pertama, penegasan kemuliaan sejak awal. Kalimat 'Sungguh Kami telah memuliakan Bani Adam' diawali dengan huruf laqad yang berfungsi sebagai penegas keyakinan. Dalam Tafsir al-Kasyaf, Az-Zamakhsyari menyebutkan kemuliaan ini berupa kemampuan eksklusif manusia dalam membedakan hal baik dan buruk, memaksimalkan fungsi panca indera, hingga kecakapan mengatur urusan dunia.
Kedua, kemampuan menaklukkan darat dan laut. Manusia dianugerahi kemampuan untuk melintasi bumi. Menurut Ibnu Abbas (yang dikutip Ar-Razi), di darat manusia memanfaatkan hewan tunggangan (dan kendaraan modern saat ini), sedangkan di laut manusia dibekali kecerdasan untuk merakit perahu dan kapal. Makna lainnya, seluruh sumber daya di darat dan laut telah ditundukkan Allah demi hajat hidup manusia.
Ketiga, limpahan rezeki yang baik dan utuh. Allah menjamin kebutuhan manusia dengan menyediakan rezeki yang bersifat fisik maupun batin (kesehatan hingga kedamaian hati).
Keempat, keunggulan mutlak di atas makhluk lain. Jika poin pertama berbicara tentang sarana kemuliaan yang diberikan, maka poin keempat, sesuai pandangan Al-Alusi menekankan pada kelebihan manusia untuk mendominasi dan melangsungkan kehidupan dengan memanfaatkan sarana-sarana tersebut secara superior dibanding makhluk lain.
Segala fasilitas mewah dan keistimewaan yang melekat pada diri manusia sejatinya bersumber dari Allah Al-Karim (Dzat Yang Maha Mulia). Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban moral bagi manusia untuk menggunakan semua potensi tersebut di jalan yang diridhai-Nya. Tubuh yang sehat digunakan untuk beribadah, dan harta yang berkecukupan disisihkan untuk sedekah serta membantu sesama.
Surat Al-Isra ayat 70 adalah peringatan bagi manusia untuk senantiasa bersyukur. Sebagaimana yang digarisbawahi dalam Tafsir al-Maraghi, cara terbaik mensyukuri keistimewaan ini adalah dengan mengoptimalkan potensi diri demi kebaikan serta konsisten mengesakan Allah SWT.
(zhd)