Al-Quran menyediakan ruang bagi nalar manusia untuk menggali maknanya. Namun, di balik kebebasan interpretasi, ada batas otoritas dan kaidah ilmu yang menjaga agar pesan Tuhan tidak terdistorsi.
Kodifikasi tafsir menempuh perjalanan panjang dari tradisi lisan hingga menjadi disiplin ilmu mandiri. Jejaknya terekam mulai dari masa Nabi hingga pemisahan sistematis di tangan Al-Farra.
Tafsir Al-Quran berevolusi dari sekadar riwayat lisan menjadi laboratorium pemikiran yang kaya. Setiap zaman menawarkan sudut pandang unik, menjadikan wahyu tetap relevan sebagai kompas kehidupan.
Tafsir Al-Quran berkembang dari sekadar riwayat lisan menjadi belantara pemikiran yang kaya. Seiring perubahan zaman, makna ayat terus memancar bagai intan yang membiaskan cahaya di setiap sudutnya.
Pengetahuan manusia berkembang, tafsir ikut bergeser. Al-Quran tetap sama, tetapi pemahamannya menuntut keberanian merevisi tafsir lama tanpa menjadikannya tunduk pada sains.
Meluasnya tafsir ilmiah juga dipicu trauma sejarah Barat. Konflik gereja dan sains membuat sebagian cendekiawan Muslim tergesa membuktikan bahwa Islam bebas pertentangan.
Tafsir ilmiah Al-Quran berkembang pesat sejak abad ke-19. Ia lahir dari kegelisahan umat Islam menghadapi dominasi Barat dan hasrat membuktikan bahwa wahyu tidak kalah oleh sains modern.
Badan Pelaksana Pengelola (BPP) Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS) memamerkan Kitab Digital karya 10 Ulama Nusantara, diantaranya Syekh Nawawi Al Bantani, Syaikhona Kholil
Perkembangan tafsir dapat ditinjau dari segi kodifikasi (penulisan) juga dari sudut metode penafsiran. Walaupun disadari bahwa setiap mufassir mempunyai metode yang berbeda dalam perinciannya dengan mufassir lain.