Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 04 Juni 2026
home masjid detail berita

Ketika Tafsir Berubah, Wahyu Tetap: Antara Tafsir Klasik dan Pengetahuan Modern

miftah yusufpati Rabu, 24 Desember 2025 - 17:30 WIB
Ketika Tafsir Berubah, Wahyu Tetap: Antara Tafsir Klasik dan Pengetahuan Modern
Tiada pertentangan antara Al-Quran dengan ilmu pengetahuan. Ilustrasi: Ist

LANGIT7.ID- Perubahan tafsir sering disalahpahami sebagai perubahan ajaran. Padahal, yang bergerak adalah pemahaman manusia, bukan wahyu. Dalam konteks inilah Quraish Shihab mengajak pembaca melihat ulang cara memahami Al-Quran di era modern.

Setiap Muslim, menurutnya, berkewajiban mempelajari Al-Quran. Kewajiban ini berlaku lintas zaman, sebagaimana ditegaskan Abbas Mahmud Al-‘Aqqad: generasi hari ini memiliki tanggung jawab yang sama dengan masyarakat Arab pada masa Nabi. Namun tanggung jawab itu harus dijalankan dengan kesadaran metodologis.

Berpikir kontemporer tidak berarti menundukkan Al-Quran pada hipotesis ilmiah. Ilmu pengetahuan dapat membantu proses tadabbur, tetapi tidak berhak menjadi hakim kebenaran ayat. Di sinilah batas halus antara dialog dan pemaksaan sering terlanggar.

Kasus al-‘alaq kembali menjadi contoh penting. Tafsir klasik menyebutnya darah beku, sebuah pemahaman yang masuk akal pada masanya. Tetapi embriologi modern memaksa pembacaan ulang. Fase awal janin justru ditandai oleh proses melekatnya zigot pada dinding rahim, bukan pembentukan darah.

Alih-alih memaksakan sains pada teks, para mufasir kontemporer menelusuri kembali bahasa Arab itu sendiri. Dalam Al-Mishbah Al-Munir, al-‘alaq diartikan sebagai sesuatu yang bergantung dan melekat. Tafsir baru ini lahir bukan dari ambisi saintifik, melainkan dari kedalaman linguistik.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa koreksi tafsir bukan ancaman bagi agama. Ia justru memperlihatkan vitalitas tradisi keilmuan Islam. Al-Quran tidak kehilangan wibawa ketika tafsirnya direvisi, sebab yang dikoreksi adalah pemahaman manusia yang selalu terbatas.

Pemikir seperti Mohammed Arkoun mengingatkan bahwa pembacaan teks suci selalu terikat konteks sejarah. Mengabaikan kenyataan ini berarti mengubah tafsir menjadi dogma. Sebaliknya, kesediaan mengkaji ulang tafsir membuka ruang perjumpaan yang sehat antara iman dan akal.

Pada akhirnya, memahami Al-Quran di masa kini bukan soal membuktikan kesesuaiannya dengan sains, melainkan menjaga agar wahyu tetap berbicara dengan bahasa yang dapat dipahami manusia modern, tanpa kehilangan tujuan utamanya sebagai petunjuk hidup.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 04 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:48
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)