LANGIT7.ID- Al-Quran tidak datang dengan bisikan lembut. Ia tampil dengan nada menantang. Kepada para peragunya, kitab suci ini mengajukan uji terbuka: buatlah yang semisal dengannya. Tantangan itu tidak sekali, melainkan bertahap, seolah memberi kesempatan berulang bagi siapa pun yang ingin membuktikan bahwa wahyu hanyalah karya manusia.
Tahap pertama berskala besar: susunlah satu kitab seperti Al-Quran. Ketika itu tak terjawab, tantangan dipersempit menjadi sepuluh surah, lalu satu surah, bahkan sesuatu yang setara dengan satu surah saja. Hingga kini, tantangan itu tetap menggantung di udara sejarah.
Quraish Shihab, dalam
Membumikan Al-Quran, membaca tantangan ini bukan sebagai retorika kosong, melainkan sebagai ciri keberanian epistemik. “Tidak ada orang waras,” tulis seorang sarjana bahasa Arab klasik yang dikutipnya, “yang berani mengajukan tantangan seperti itu kecuali ia gila atau sangat yakin.” Muhammad memilih yang kedua: keyakinan penuh bahwa wahyu adalah informasi yang benar-benar bersumber dari Tuhan.
Para orientalis awal seperti Theodor Nöldeke dan Arthur Jeffery memang mengkaji Al-Quran dari sudut filologi. Mereka mengurai struktur bahasa, rima, dan diksi. Namun, seperti dicatat Angelika Neuwirth, keunikan Al-Quran justru terletak pada kombinasi yang sulit ditiru: kepadatan makna, irama lisan, dan daya gugah moral. Ia bukan sekadar teks sastra, tetapi wacana yang membentuk komunitas.
Namun Al-Quran tidak berhenti sebagai bukti kenabian. Fungsi utamanya adalah petunjuk hidup. Di sinilah konsep syariat mengambil peran. Secara etimologis, syariat berarti jalan menuju sumber air. Analogi ini, menurut Fazlur Rahman, menempatkan hukum agama bukan sebagai beban, melainkan sarana bertahan hidup rohani.
Quraish Shihab menggambarkannya dengan metafora lampu lalu lintas. Larangan bukan penghambat, melainkan penanda keselamatan. Seperti rambu jalan, syariat mengatur perjalanan manusia menuju tujuan yang tak sepenuhnya ia pahami: kehidupan setelah mati.
Masalahnya, manusia memiliki keterbatasan. Ia egoistis dan pengetahuannya parsial. Jika ia menyusun sendiri “aturan lalu lintas” menuju akhirat, hasilnya akan bias dan timpang. Karena itu, argumen teologis klasik menyimpulkan: aturan itu harus datang dari Zat yang tidak berkepentingan dan Mahatahu. Di situlah agama menemukan logikanya.
Karena tak semua manusia mampu berkomunikasi langsung dengan Tuhan, wahyu disampaikan melalui perantara: para nabi. Namun klaim kenabian selalu mengundang kecurigaan. Untuk itulah mukjizat hadir, bukan sebagai hiburan magis, tetapi sebagai bukti yang melampaui kemampuan manusia biasa.
Dalam Islam, Al-Quran sendiri adalah mukjizat utama. Ia tidak dipamerkan sebagai keajaiban sesaat, melainkan sebagai tantangan intelektual yang terus hidup. Setiap generasi dipersilakan mengujinya. Dan sejauh ini, sejarah mencatat satu hal yang konsisten: tantangan itu belum pernah terjawab.
(mif)