LANGIT7.ID- Sebelum arkeologi, filologi, dan manuskrip kuno diajukan sebagai saksi, Al-Quran lebih dulu tampil membela dirinya sendiri. Inilah tesis yang disorot M. Quraish Shihab dalam
Membumikan Al-Quran. Kitab suci itu, tulisnya, tidak sepenuhnya bergantung pada pembuktian sejarah eksternal. Ia membawa argumen internal yang terus hidup sejak pertama kali dibaca hingga hari ini.
Pandangan serupa dikemukakan Muhammad Husain Al-Thabathaba’iy, ulama besar Syi’ah kontemporer. Dalam tafsir dan karya-karyanya, ia menegaskan bahwa sejarah Al-Quran demikian terbuka dan berlangsung secara publik. Al-Quran dibaca, dihafal, dan diajarkan secara massal dari generasi ke generasi. Karena itu, keotentikannya tidak menunggu legitimasi sejarawan modern. Ia hadir sebagai teks yang terus berfungsi sebagaimana ia memperkenalkan dirinya sejak awal.
Salah satu argumen internal terkuat adalah tantangan Al-Quran sendiri. Kitab ini berulang kali menantang manusia dan jin untuk menyusun satu surah semisal dengannya. Tantangan itu, dicatat Quraish Shihab, tidak pernah dicabut dan tidak dibatasi oleh zaman. Ia menjadi klaim yang terus terbuka untuk diuji, baik dari sisi bahasa, struktur, maupun makna. Dalam kajian sastra Arab klasik, seperti ditulis Toshihiko Izutsu, Al-Quran memang tampil sebagai teks yang memutus pola bahasa sebelumnya, sekaligus melampauinya.
Bukti lain yang kerap dikemukakan adalah konsistensi sifat dan ciri Al-Quran tentang dirinya sendiri. Al-Quran menyebut dirinya sebagai petunjuk, cahaya, penjelas, dan pembeda antara yang hak dan batil. Ciri-ciri ini, menurut Al-Thabathaba’iy, masih dapat ditemukan sepenuhnya dalam mushaf yang ada di tangan umat Islam hari ini. Tidak ada pergeseran pesan yang menandakan perubahan teks.
Perdebatan modern kemudian bergerak ke wilayah yang lebih teknis. Mustafa Mahmud, mengutip gagasan Rasyad Khalifah, mengangkat apa yang disebut sebagai kode matematis Al-Quran. Huruf-huruf hija’iyah yang membuka sejumlah surah, seperti
alif lam mim, kaf ha ya ‘ain shad, atau
ha mim, disebut membentuk pola numerik yang konsisten dengan bilangan 19. Angka ini merujuk pada Surah al-Muddatstsir ayat 30.
Dalam kerangka ini, pengulangan huruf tertentu dalam surah-surah spesifik dianggap sebagai sistem pengaman teks. Jika satu huruf saja berubah, pola itu akan rusak. Bagi pendukung teori ini, matematika menjadi saksi bisu bahwa Al-Quran tidak mengalami penambahan atau pengurangan.
Namun, Quraish Shihab bersikap lebih hati-hati. Ia mengapresiasi upaya membaca isyarat internal Al-Quran, tetapi mengingatkan agar bukti numerik tidak diposisikan sebagai satu-satunya fondasi iman. Sejumlah sarjana Muslim kontemporer, seperti Nasr Hamid Abu Zayd, juga menekankan bahwa keagungan Al-Quran tidak boleh direduksi menjadi teka-teki angka, betapapun menariknya.
Yang lebih penting, menurut Quraish Shihab, adalah kenyataan bahwa Al-Quran tetap koheren dalam pesan dan strukturnya. Ia tidak menunjukkan gejala teks yang disusun ulang atau ditambal-sulam. Dalam studi modern tentang teks suci, konsistensi internal semacam ini justru menjadi indikator kuat keotentikan.
Dengan demikian, sebelum manuskrip Birmingham atau naskah Sana’a diajukan ke ruang akademik, Al-Quran sudah lebih dulu mengajukan argumennya sendiri. Ia menantang, menjelaskan, dan memelihara dirinya melalui struktur bahasa dan pesan yang utuh. Bagi pembacanya, keotentikan Al-Quran bukan hanya kesimpulan sejarah, melainkan pengalaman teks yang terus berulang, dari abad ke abad.
(mif)