Ibnu Katsir memaparkan bahwa penggunaan kata lan berfungsi menafikan sesuatu di masa depan secara mutlak, yang bermakna manusia tidak akan pernah sanggup menandingi Al-Qur'an hingga kapan pun.
Jika pada ayat 21 manusia diperintahkan untuk menyembah Rabb yang telah menciptakan mereka dan orang-orang sebelum mereka, maka ayat 22 ini merinci kelayakan Allah untuk disembah melalui pemaparan nikmat-nikmat penciptaan serta pemeliharaan alam semesta.
Setelah menguraikan tiga karakter manusia pada ayat-ayat sebelumnyayakni kelompok bertakwa, kafir, dan munafikAllah secara langsung menyeru seluruh umat manusia untuk beribadah.
?Ayat ini menutup rangkaian perumpamaan tersebut dengan penegasan kuasa mutlak Allah atas pendengaran dan penglihatan mereka, sekaligus menjadi peringatan keras bahwa keberadaan orang munafik sepenuhnya berada dalam genggaman kekuasaan-Nya.
Dalam Surat Al-Baqarah ayat 16, Allah memberikan perumpamaan yang sangat tajam mengenai keputusan kaum munafik yang memilih bertransaksi dengan menukar hidayah demi kesesatan.
Allah menyatakan bahwa Dia membiarkan dan memberi tenggang waktu (yamudduhum) kepada kaum munafik dalam kedurhakaan mereka. Penangguhan siksaan ini sama sekali bukan bentuk kepedulian atau kebaikan dari Allah, melainkan pembiaran agar dosa-dosa mereka kian bertambah dan menumpuk.
Imam al-Tabari menjelaskan bahwa ayat ini ditujukan kepada mereka yang berpura-pura berkata beriman kepada Allah dan hari akhir padahal hatinya mengingkari.
Penjelasan al-Tabari merinci empat indikator pelaku kerusakan, yaitu menyelisihi perintah Allah, melampaui batas hukum-Nya, menjalankan maksiat, dan meninggalkan kewajiban syariat.
Secara kontekstual, ayat ke-11 dari Surat Al-Baqarah ini menempati posisi penting dalam rangkaian penyingkapan tabir kemunafikan setelah pembatasan sifat orang-orang bertakwa dan orang-orang kafir.
Dalam Al Baqarah ayat sembilan, orang-orang munafik berusaha menipu Allah dan orang-orang beriman dengan berpura-pura beriman, padahal tipu daya tersebut sama sekali tidak mengenai Allah.