LANGIT7.ID, Jakarta; - Surat Al-Baqarah ayat 22 hadir sebagai penjelas dan pembukti dari perintah beribadah yang ditegaskan pada ayat sebelumnya. Jika pada ayat 21 manusia diperintahkan untuk menyembah Rabb yang telah menciptakan mereka dan orang-orang sebelum mereka, maka ayat 22 ini merinci kelayakan Allah ﷻ untuk disembah melalui pemaparan nikmat-nikmat penciptaan serta pemeliharaan alam semesta.
ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ فِرَٰشًۭا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءًۭ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءًۭ فَأَخْرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزْقًۭا لَّكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا۟ لِلَّهِ أَندَادًۭا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui (QS Al-Baqarah: 22).
Imam al-Ṭabarī menjelaskan bahwa frasa "al-ladzī ja'ala" (Yang menjadikan) merupakan sifat lanjutan yang merujuk pada "al-ladzī khalaqakum" (Yang menciptakan kamu) pada ayat sebelumnya, di mana keduanya menggambarkan keagungan Rabb yang wajib ditauhidkan. Ayat ini memadukan tiga dimensi utama: peringatan atas nikmat penciptaan bumi dan langit, karunia air dan rezeki, serta larangan tegas mempersekutukan Allah.
Menurut al-Shanqīṭī, pemaparan ini sekaligus mengandung tiga bukti kebangkitan yang sering diulang dalam Al-Qur'an, yakni penciptaan awal, penghidupan bumi yang mati, dan kekuasaan mutlak Allah atas alam semesta.
Pada penggalan pertama, "Alladzī ja'ala lakumul-arḍa firāsyā" (Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu), Allah menegaskan fasilitas bumi yang disediakan untuk manusia. Al-Ṭabarī merinci bahwa firāsy bermakna bumi yang diratakan dan dijadikan tempat menetap yang nyaman agar manusia menyadari karunia-Nya lalu kembali bertobat dan taat.
Al-Baghawī menambahkan bahwa Allah melunakkan permukaan bumi sehingga tidak keras berbatu yang menyulitkan kehidupan. Ibn Katsīr mengaitkannya dengan keberadaan gunung-gunung kokoh sebagai penyeimbang, sementara al-Saʿdī menjelaskan manfaat praktisnya: bumi dijadikan hamparan agar manusia dapat membangun pemukiman, bercocok tanam, berlayar, serta melakukan perjalanan guna memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Selanjutnya pada kalimat "Was-samā'a binā'ā" (dan langit sebagai bangunan), Allah menggambarkan bentangan langit di atas bumi. Al-Baghawī mengartikannya sebagai atap yang ditinggikan, yang dipertegas oleh Ibn Katsīr dengan mengutip Surah Al-Anbiyā' ayat 32 tentang langit sebagai atap yang terjaga.
Al-Saʿdī melengkapi bahwa langit difungsikan sebagai Naungan atau "bangunan tempat tinggal" yang menyimpan berbagai fasilitas vital bagi kelangsungan hidup manusia di bumi, seperti keteraturan edar matahari, bulan, serta bintang-bintang.
Pada penggalan "Wa anzala minas-samā'i mā'an fa-akhraja bihī minaṣ-ṣamarāti rizqal-lakum" (dan Dia menurunkan air dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan air itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu), terdapat pembahasan menarik di kalangan mufasir mengenai makna "langit". Al-Baghawī dan al-Saʿdī berpendapat bahwa yang dimaksud as-samā' di sini adalah awan, sebab segala sesuatu yang berada di atas manusia dapat disebut langit.
Namun, al-Shawkānī menukil riwayat dari al-Ḥasan dan Ka'b yang menjelaskan bahwa air sejatinya turun dari langit, sedangkan awan berfungsi sebagai saringan agar air tidak jatuh menghantam dan merusak tanaman atau tanah. Kedua pandangan ini saling melengkapi: air berkeyakinan berasal dari atas (langit) dan diturunkan secara teratur melalui perantara awan. Karunia air ini kemudian melahirkan buah-buahan yang, sebagaimana dijelaskan al-Baghawī, menjadi sumber makanan bagi manusia serta pakan bagi hewan ternak mereka.
Rangkaian pembuktian nikmat tersebut bermuara pada perintah utama dalam penggalan "Falā taj'alū lillāhi andādaw wa antum ta'lamūn" (Karena itu janganlah kamu menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui). Al-Baghawī menjelaskan bahwa andād adalah tandingan atau sekutu yang disembah selain Allah. Al-Saʿdī menegaskan betapa tidak logisnya perbuatan syirik, sebab tandingan-tandingan tersebut hanyalah makhluk yang juga diciptakan, diberi rezeki, diatur, serta tidak memiliki kekuasaan sekecil apa pun untuk memberikan manfaat atau mudarat.
Peringatan ini diakhiri dengan klausa "wa antum ta'lamūn" (padahal kamu mengetahui). Al-Baghawī menekankan bahwa manusia sebenarnya sadar dan mengetahui secara fitrah maupun akal bahwa hanya Allah satu-satunya Pencipta alam semesta. Ibn Katsīr menguatkan hal ini dengan merujuk pada hadis riwayat Ibn Mas'ūd, di mana Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa dosa terbesar di sisi Allah adalah menjadikan sekutu bagi-Nya, padahal Dialah yang menciptakan manusia.
Sebagaimana disimpulkan oleh al-Rāzī, karena seluruh nikmat pada hakikatnya berasal dari Allah semata, maka menyembah selain-Nya adalah bentuk penyimpangan dan kezaliman yang paling nyata.
Secara keseluruhan, Surat Al-Baqarah ayat 22 menyajikan argumentasi yang utuh dan logis. Pengakuan terhadap tauhid rububiyyah—bahwa Allah adalah pencipta bumi, penata langit, penurun hujan, dan penyedia rezeki—secara otomatis menuntut manusia untuk menegakkan tauhid uluhiyyah, yaitu mengesakan Allah dalam seluruh ritual ibadah dan pengabdian. Penggetaran kesadaran akan nikmat alam semesta ini menutup semua celah alasan bagi manusia untuk mempersekutukan Allah SWT.
(zhd)