Ayat ke-50 dari Surat Al-Baqarah merupakan kelanjutan dari deretan pengingat nikmat Allah ﷻ kepada Bani Israil. Jika ayat sebelumnya membahas penyelamatan dari kekejaman dan penindasan Firaun, ayat ini menyajikan peristiwa penyelamatan yang jauh lebih dahsyat melalui terbelahnya laut.
Kehadiran ayat ini menegaskan kekuasaan mutlak Allah ﷻ terhadap hukum alam, tetapi juga menjadi bukti otentik atas kerasulan Nabi Musa ﷺ. Al-Biqāʿī menjelaskan bahwa ayat ini berfungsi sebagai perincian (tafṣīl) dari bentuk keselamatan yang sebelumnya disampaikan secara umum, yaitu memperjelas mekanisme penyelamatan itu sendiri sebagai penghitungan nikmat.
Al-Ālūsī pun mengonfirmasi bahwa frasa pembelahan laut ini tersambung ('aṭaf) secara langsung dengan uraian pada ayat 49. Di sisi lain, meskipun para mufasir seperti al-Rāzī dan Ibn Abī Ḥātim menyinggung latar belakang asbabun nuzul terkait mimpi Fir'aun tentang api dari Baitul Maqdis yang membakar Mesir, perincian peristiwa tersebut dikaji dalam pembahasan tersendiri.
Pembahasan ayat dimulai dengan penggalan yang berarti "Dan ingatlah ketika Kami belah laut untukmu". Menurut al-Ṭabarī, frasa ini merupakan sambungan dari ayat 49 yang mengandung perintah untuk senantiasa mengingat nikmat Allah ﷻ. Al-Ālūsī memberikan analisis kebahasaan yang mendalam mengenai kata farraqnā, di mana pemisahan dua hal dalam frasa ini dipadukan dengan makna al-syaqq atau membelah. Dengan demikian, pemisahan tersebut terjadi secara fisik dan nyata hingga membentuk lajur kering yang dapat dilintasi oleh Bani Israil, bukan sekadar air yang bergelombang atau terpisah secara semu.
Baca Juga: Masjid-Masjid Inggris Buka Pintu untuk Publik, Warga Bisa Tanya Langsung soal Islam
Uraian dilanjutkan dengan penyelamatan Bani Israil serta penenggelaman Fir'aun beserta bala tentaranya. Sebagaimana ditafsirkan oleh al-Saʿdī, bagian ini menegaskan kembali karunia Allah ﷻ yang diberikan secara beriringan. Al-Biqāʿī melihat hikmah di balik rangkaian peristiwa ini, yaitu penghancuran kaum pria yang menjadi musuh dan pelestarian kaum wanita. Hal ini memperlihatkan dua sisi dari satu keadilan ilahi: pemberian keselamatan bagi hamba-Nya yang beriman dan penjatuhan hukuman bagi mereka yang berbuat zalim.
Selanjutnya, penggalan "sedang kamu sendiri menyaksikan" menekankan bahwa Bani Israil melihat langsung kehancuran musuh mereka di depan mata. Al-Saʿdī menegaskan bahwa penyaksian secara langsung ini menutup segala celah keraguan maupun alasan untuk mengingkari karunia tersebut. Sementara itu, al-Ālūsī membawa pemaknaan ini ke dalam sudut pandang spiritual, di mana peristiwa tersebut dipandang sebagai bentuk peningkatan derajat (tarqiyah) spiritual Bani Israil secara bertahap dari satu maqam ke maqam berikutnya hingga mereka makin dekat dengan Tuhan mereka.
Mengenai frasa "Āl Fir'aun", ada pembahasan khusus mengenai makna linguistiknya. Al-Naḥḥās mengutip pandangan al-Kisā'ī yang menjelaskan bahwa penggunaan kata āl tidak ditujukan untuk wilayah atau tempat, melainkan khusus bagi pemimpin agung dan para pengikutnya. Dalam konteks ini, "Āl Fir'aun" merujuk kepada seluruh pasukan dan sekutu yang mengikutinya dalam kesesatan dan kekafiran, bukan hanya kerabat atau keluarga sedarahnya.
Dari keseluruhan ayat ini, berbagai pelajaran mendasar dapat dipetik. Mengingat nikmat Allah ﷻ merupakan fondasi dari rasa syukur, sedangkan melupakannya menjadi pintu menuju kekufuran. Peristiwa membelah laut membuktikan bahwa Allah ﷻ memegang kendali penuh atas hukum alam demi melindungi hamba-Nya. Selain itu, peristiwa ini memperlihatkan bagaimana keselamatan dan kebinasaan bisa terjadi secara bersamaan dalam satu momen yang sama. Kesaksian langsung juga berfungsi untuk menghilangkan alibi bagi Bani Israel untuk tidak taat, sementara konsep pengikut ( āl ) menunjukkan bahaya mengikuti kepemimpinan yang sesat.
Secara keseluruhan, peristiwa ini mengandung pesan bahwa nikmat Allah ﷻ berkesinambungan sebagai sarana menaikkan derajat spiritual manusia. Al-Saʿdī menempatkan rangkaian ayat ini sebagai cermin sejarah yang menunjukkan kontras antara kebaikan Allah ﷻ dan pembalasan atas perbuatan manusia. Ayat ini secara sintetis mengajarkan bahwa pertolongan Allah ﷻ selalu hadir tepat waktu bagi orang-orang yang bersabar, sekaligus menegaskan bahwa tidak ada yang mustahil di hadapan kekuasaan-Nya.
Baca Juga: Nasaruddin Umar Kumpulkan Imam Besar dari 39 Negara di Jakarta, Bahas Perdamaian Dunia
