Makna Tuli, Bisu, dan Buta dalam Surat Al-Baqarah Ayat 18
ahmad zuhdiRabu, 12 Agustus 2026 - 13:00 WIB
LANGIT7.ID, Jakarta; - Dalam rangkaian Surat Al-Baqarah ayat 17 hingga 20, Allah ﷻ memberikan perumpamaan yang begitu mendalam mengenai gambaran kehidupan orang-orang munafik. Setelah pada ayat ke-17 keadaan mereka diibaratkan seperti seseorang yang menyalakan api—yang mana cahayanya sempat menerangi namun kemudian padam dan meninggalkan mereka dalam kegelapan—ayat ke-18 hadir menegaskan akibat fatal dari kondisi tersebut.Ayat ke-18 Surat Al-Baqarah memperlihatkan puncak kebangkrutan amal seorang manusia. Kondisi ini ditandai ketika seseorang telah sampai pada titik di mana hatinya tidak lagi mampu merespons kebenaran, baik untuk mendengarnya, menyatakannya, maupun melihatnya, sehingga mustahil baginya untuk kembali ke jalan yang lurus. Penggalan ayat ṣummum bukmun 'umyun yang menggambarkan sifat tuli, bisu, dan buta dipahami para ulama tafsir bukan sebagai kecacatan fisik. Syekh Al-Baghawi dalam tafsirnya Maʿālim al-Tanzīl menekankan bahwa sifat-sifat tersebut merujuk pada kondisi batin atau hati yang telah tertutup rapat dari petunjuk Ilahi.Kondisi tersebut tercipta akibat tipu daya, kesyirikan, serta kedustaan yang mereka lakukan secara terus-menerus, sehingga Allah memalingkan mereka dari agama dan menghalangi mereka dari jalan yang benar. Dengan demikian, kebutaan dan ketulian dalam ayat ini merupakan metafora atas ketidakmampuan total seseorang dalam menerima hidayah. Sikap berpalingnya hati dari kebenaran ini memiliki pola yang serupa dengan kisah-kisah umat terdahulu. Syekh As-Sa'di dalam tafsirnya menggambarkan bagaimana kesadaran akan kebenaran terkadang sempat hinggap di dalam pikiran manusia—sebagaimana yang terjadi pada kaum Nabi Ibrahim 'Alaihis Salam ketika menyadari kekeliruan menyembah berhala.Namun akibat dominasi kesombongan dan kezaliman, kesadaran tersebut tidak bertahan lama. Hati mereka kembali berbalik (nukisū 'alā ru'ūsihim), akal mereka kembali tertutup, dan mereka tetap berada dalam kesesatan. Pola inilah yang melekat pada diri orang munafik: kebenaran sempat hadir menerangi, namun mereka memilih untuk kembali berbalik dalam kegelapan.