LANGIT7.ID, Jakarta; - Surat Al-Baqarah ayat 45 memuat seruan langsung dari Allah SWT kepada Bani Israil—sekaligus petunjuk universal bagi seluruh umat manusia—untuk menjadikan sabar dan shalat sebagai sarana utama dalam memohon pertolongan. Perintah ini diturunkan di tengah rangkaian nasihat agar mereka mengimani Al-Qur'an serta mengikut ajaran Nabi Muhammad SAW. Dalam konteks kehidupan yang lebih luas, perintah ini menegaskan prinsip fundamental bagi setiap mukmin dalam mengarungi berbagai cobaan dan beban ketaatan.
وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (QS. Al-Baqarah: 45).
Sebagaimana diriwayatkan dari Muqatil bin Hayyan, seruan ini menekankan pentingnya meminta pertolongan demi meraih kebahagiaan akhirat melalui kesabaran menjalankan kewajiban serta mendirikan shalat. Dari sudut pandang tafsir, ayat ini memiliki keterikatan yang sangat erat dengan ikrar Iyyaka nasta'in dalam Surah Al-Fatihah. Hal tersebut menandakan bahwa permohonan bantuan kepada Allah secara konkret diwujudkan melalui pengamalan sabar dan shalat.
Makna sabar dalam penggalan ayat ini berakar pada ketahanan jiwa untuk menekan hawa nafsu demi menunaikan ketaatan. Imam at-Tabari menjelaskan bahwa sabar mencakup kerelaan meninggalkan kesenangan duniawi dan ambisi kepemimpinan demi tunduk sepenuhnya pada perintah Allah dan Rasul-Nya. Istilah sabar ini juga yang menjadi alasan mengapa puasa Ramadhan disebut sebagai ibadah kesabaran, karena orang yang berpuasa mampu menahan diri dari nafsu makan dan minum.
Para ulama memiliki beberapa pandangan terkait cakupan makna kesabaran tersebut. Sahabat Mujahid memandang bahwa sabar dalam ayat ini merujuk secara khusus pada ibadah puasa, karena puasa mendidik seseorang untuk zuhud terhadap dunia, sementara shalat menumbuhkan kerinduan pada akhirat.
Pandangan ini juga didukung oleh riwayat yang menyebutkan bahwa puasa adalah separuh dari kesabaran. Kendati demikian, ulama lain memperluas maknanya sebagai bentuk penahanan diri dari perbuatan maksiat dan keteguhan dalam menunaikan seluruh kewajiban agama.
Penjelasan yang lebih komprehensif membagi kesabaran ke dalam tiga pilar utama: sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabar dalam menerima takdir Allah yang pahit tanpa berkeluh kesah. Jiwa yang dilatih dengan kesabaran akan memperoleh kekuatan besar dalam menghadapi segala urusan. Di sisi lain, shalat berkedudukan sebagai timbangan iman yang berfungsi mencegah perbuatan keji dan mungkar, sehingga sangat efektif dijadikan benteng pertolongan.
Terkait penggalan wa innaha lakabiratun yang menyatakan bahwa perkara ini sungguh berat, terdapat perbedaan penafsiran mengenai arah kata ganti (damir) dalam kalimat tersebut. Sebagian mufasir seperti Mujahid berpendapat bahwa kata berat tersebut merujuk langsung kepada ibadah shalat. Namun, terdapat pula pandangan bahwa kata ganti tersebut mencakup sabar dan shalat sekaligus, atau dikembalikan kepada shalat karena shalat secara implisit sudah mencakup hakikat kesabaran.
Allah SWT memberikan pengecualian bahwa ibadah yang terasa berat tersebut akan menjadi sangat ringan bagi orang-orang yang khusyuk. Rasa takut kepada Allah, sikap rendah hati, serta harapan mendalam akan balasan pahit dan manisnya akhirat membuat orang-orang khusyuk menjalankan shalat dengan dada yang lapang. Sebaliknya, bagi orang yang hatinya kosong dari rasa takut dan harapan kepada Allah, shalat akan terasa sebagai beban yang sangat berat karena tidak adanya pendorong iman di dalam jiwa mereka.
Hakikat shalat yang benar tercermin dari dampaknya yang mampu memalingkan seseorang dari perbuatan batil dan menuntunnya menuju kebenaran. Kesabaran berperan membersihkan jiwa dari jerat hawa nafsu, sementara shalat mengokohkan keikhlasan tersebut. Kombinasi keduanya membentuk pribadi mukmin yang tangguh, sebab semakin tinggi tingkat kekhusyukan seseorang, semakin ringan pulalah seluruh beban ketaatan yang dipikulnya.
(zhd)