Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 20 September 2026
home masjid detail berita

Tafsir Al-Baqarah 46: Makna Zann dan Kunci Kekhusyukan Ibadah

ahmad zuhdi Ahad, 20 September 2026 - 10:06 WIB
Tafsir Al-Baqarah 46: Makna Zann dan Kunci Kekhusyukan Ibadah
LANGIT7.ID, Jakarta; - Surat al-Baqarah ayat 46 merupakan kelanjutan dari konteks ayat 43–45 yang memuat perintah Allah ﷻ kepada Bani Israil untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta meruku' bersama orang-orang yang ruku'. Ayat ini secara khusus menguraikan karakter al-khāshiʿīn (golongan yang khusyu' dalam ibadah), yakni mereka yang memiliki yazunnūna—keyakinan mendalam bahwa mereka kelak akan bertemu dengan Rabb mereka (liqāʾ Allāh) dan kembali kepada-Nya.

ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَٰقُوا۟ رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS Al-Baqarah: 46).

Kedudukan ayat ini sangat penting karena mengorelasikan secara langsung antara kepastian iman terhadap hari akhirat dan kemudahan dalam menjalankan ibadah. Imam al-Baghawī mencatat bahwa ayat ini menegaskan fondasi akidah mengenai hari kebangkitan (al-baʿth). Para mufasir juga menggarisbawahi bahwa terminologi zann pada ayat ini tidak bermakna keraguan (shakk), melainkan keyakinan yang kokoh (yaqīn).

Analisis Tafsir Per Penggalan Ayat

الَّذِينَ يَظُنُّونَ

“(Yaitu) mereka yang meyakini…”

Secara harfiah, kata yazunnūna sering diartikan "mereka mengira" atau "mereka menduga". Namun, dalam struktur ayat ini, mayoritas ulama tafsir sepakat bahwa kata tersebut bermakna yaqīn (keyakinan yang mantap), bukan shakk (keraguan).

Imam al-Ṭabarī menjelaskan problematika kebahasaan ini: bagaimana mungkin Allah ﷻ mengagungkan hamba-Nya yang khusyu' dan taat, namun menggunakan istilah zann yang berkonotasi ragu-ragu—padahal meragukan pertemuan dengan Allah bisa mengarahkan pada kekufuran? Al-Ṭabarī menegaskan bahwa dalam tradisi bahasa Arab, kata zann tergolong al-aḍdād (kata yang memiliki dua arti berlawanan):

Kata zann dapat digunakan untuk merujuk pada keyakinan (yaqīn) sekaligus keraguan (syakk). Hal ini serupa dengan kata sadfah yang bisa bermakna terang maupun gelap, atau kata ṣārikh yang dapat merujuk pada pihak yang menolong maupun yang meminta pertolongan.

Untuk memperkuat argumen tersebut, al-Ṭabarī mengetengahkan bukti (shawāhid) dari bait-bait syair Arab Jahiliyah yang mengaplikasikan kata zann dalam arti keyakinan mutlak.

Senada dengan hal itu, al-Baghawī menerangkan bahwa yazunnūna berarti yastaqinūna—mereka meyakini secara penuh akan hari kebangkitan, hisab, dan kepulangan menuju mahsyar. Ibnu Katsir menukil keterangan al-Ṭabarī dan menegaskan bahwa maknanya adalah yaʿlamūna (mereka mengetahui dan meyakini). Hal ini dipertegas pula oleh al-Saʿdī bahwa keyakinan akan balasan amal inilah yang memotivasi ketaatan.

Di sisi lain, al-Biqāʿī mengutip pendapat al-Harālī yang mendefinisikan zann sebagai kecenderungan prasangka kuat (tarjīḥ) yang masih menyisakan sedikit pergolakan pemikiran (munāziʿ). Meski demikian, pandangan jumhur mufasir tetap lebih kuat karena konteks ayat secara eksplisit memuji kedudukan orang-orang yang khusyu'.

أَنَّهُم مُّلَاقُو رَبِّهِمْ

“…bahwa mereka akan menemui Rabb mereka…”

Penggalan ini menguraikan hakikat liqāʾ Rabb (bertemu dengan Allah ﷻ). Imam al-Baghawī mengemukakan dua penafsiran utama. Pertama, menyaksikan Allah ﷻ secara langsung (muʿāyinū) di akhirat melalui penglihatan mata (ruʾyat Allāh).

Kedua, bertemu dalam arti kembalinya seluruh urusan makhluk kepada-Nya (al-ṣayrūrah ilayh). Ibnu Katsīr menambahkan bahwa liqāʾ bermakna maḥshūrūna ilayh—yakni dikumpulkan di padang mahsyar pada hari kiamat untuk dihadapkan di hadapan Allah ﷻ. Sementara itu, Syaikh al-Saʿdī menekankan bahwa pertemuan ini bertujuan untuk menerima balasan (jazāʾ) atas seluruh amal perbuatan selama di dunia.

وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“…dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”

Penggalan ketiga ini menegaskan kepastian kepulangan setiap manusia. Menurut al-Baghawī, muara dari kepulangan ini adalah untuk menerima keputusan dan balasan yang adil. Ibnu Katsīr menguraikan bahwa seluruh perkara hamba akan dikembalikan kepada kehendak dan keadilan Allah ﷻ.

Syaikh al-Saʿdī menguraikan dampak spiritual dan psikologis dari kesadaran ini. Kesadaran akan kepulangan inilah yang meringankan beban ibadah, memberikan penghiburan (tasallī) saat tertimpa musibah, mengobati kesedihan, serta mencegah seseorang dari perbuatan maksiat. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak meyakini pertemuan dengan Rabbnya, shalat dan ibadah lainnya akan terasa sebagai beban yang sangat berat.

Dalam sintaksis bahasa Arab, kata zann tergolong al-aḍdād yang dapat bermakna keyakinan mantap (yaqīn), bukan sekadar prasangka atau keraguan. Fondasi kekhusyukan ibadah. Khusyu' dalam shalat bukanlah penyebab lahirnya iman akhirat, melainkan buah (natījah) dari kepastian iman terhadap liqāʾ Allāh dan hari pembalasan.

Keyakinan yang kokoh terhadap hari akhirat berfungsi sebagai penawar kesusahan, penghibur saat musibah, serta perisai dari perbuatan mungkar. Para ulama menafsirkan pertemuan dengan Allah sebagai kenikmatan melihat Wajah-Nya (ruʾyat Allāh) atau kepastian dikumpulkan di padang mahsyar untuk dihisab.

Keengganan dan rasa berat dalam menunaikan ibadah berakar dari lemahnya kepastian iman seseorang terhadap pertemuan dengan Allah ﷻ. Surat al-Baqarah ayat 46 mengajarkan bahwa kekhusyukan bukanlah usaha fisik semata, melainkan kondisi hati yang ditopang oleh kepastian iman. Ketika keyakinan akan pertemuan (liqāʾ) dan kepulangan (rujūʿ) kepada Allah telah meresap ke dalam jiwa, segala bentuk ibadah yang awalnya terasa berat akan bertransformasi menjadi sarana ketenangan dan kelezatan iman.

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 20 September 2026
Imsak
04:19
Shubuh
04:29
Dhuhur
11:50
Ashar
15:01
Maghrib
17:52
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan