Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 18 Agustus 2026
home masjid detail berita

Tafsir Al-Baqarah Ayat 20: Ketika Kilat Kebenaran Menyinari

ahmad zuhdi Selasa, 18 Agustus 2026 - 06:04 WIB
Tafsir Al-Baqarah Ayat 20: Ketika Kilat Kebenaran Menyinari
LANGIT7.ID, Jakarta; -
‎Ayat ke-20 dari Surah Al-Baqarah merupakan kelanjutan langsung dari perumpamaan (amtsal) bagi orang-orang munafik pada ayat 17 hingga 19. Jika ayat 17 menggambarkan keadaan mereka seperti orang yang menyalakan api, maka ayat 19 dan 20 menyerupakan mereka dengan kondisi hujan lebat yang disertai kegelapan, guruh, dan kilat. ‎‎يَكَادُ ٱلْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَٰرَهُمْ ۖ كُلَّمَآ أَضَآءَ لَهُم مَّشَوْا۟ فِيهِ وَإِذَآ أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا۟ ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَٰرِهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ‎‎"Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu." (QS Al-Baqarah: 20).‎‎Ayat ini menutup rangkaian perumpamaan tersebut dengan penegasan kuasa mutlak Allah atas pendengaran dan penglihatan mereka, sekaligus menjadi peringatan keras bahwa keberadaan orang munafik sepenuhnya berada dalam genggaman kekuasaan-Nya. ‎‎Al-Biqa'i menjelaskan dalam Nazhm ad-Durar bahwa setelah menyempurnakan perumpamaan Al-Qur'an, Allah melanjutkan pemberitaan tentang keadaan orang-orang yang diumpamakan serta hal yang diumpamakan bagi mereka, baik secara hakiki maupun majazi.‎‎Pada penggalan yakadul barqu yakhtafu absarahum (hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka), Al-Tabari menjelaskan dalam Jami' al-Bayan bahwa kilat melambangkan pengakuan lisan yang ditampakkan orang-orang munafik kepada Allah, Rasul-Nya, dan wahyu yang dibawanya. Cahaya pengakuan itu begitu kuat sehingga hampir menyambar dan merenggut penglihatan mereka. ‎‎Ibn Abi Hatim meriwayatkan tiga penafsiran: 'Amr bin Dinar mengartikan kata yakadu menunjukkan kejadian tersebut mendekati namun tidak benar-benar terjadi; Ibn Abbas menafsirkan hal itu terjadi karena sangat kuatnya cahaya kebenaran; sedangkan Mujahid memandangnya sebagai perumpamaan orang di daratan luas yang ketakutan saat hujan dan petir. ‎‎Al-Baghawi menambahkan makna linguistiknya bahwa yakhthafu berarti merenggut dengan cepat. Adapun Ibn Katsir menjelaskan bahwa hal ini terjadi akibat dahsyatnya kilat itu sendiri serta lemahnya pandangan batin (bashirah) orang munafik yang tidak tegak di atas iman, seraya mengutip Ibn Abbas bahwa ayat-ayat Al-Qur'an yang muhkam hampir-hampir menyingkap seluruh aib mereka.‎‎Selanjutnya pada penggalan kullama adha'a lahum mashaw fihi wa idha azhlama 'alaihim qamu (setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti), Al-Baghawī menerangkan bahwa susunan kata kullama berfungsi menunjukkan pengulangan (matama atau kapan pun). ‎‎Ibn Katsir meriwayatkan dua pandangan dari Ibn Abbas. Pertama, setiap kali tampak kebenaran iman, orang munafik merasa tentram dan mengikutinya, tetapi ketika keraguan menghadang, hati mereka menjadi gelap dan berhenti dalam kebingungan. Kedua, setiap kali memperoleh kemuliaan dan keuntungan dari Islam, mereka merasa tenang, namun jika Islam tertimpa musibah, mereka berhenti untuk kembali pada kekufuran.‎‎Al-Sa'di menguraikan dalam tafsirnya bahwa setiap kali kilat menyinari kegelapan, orang munafik berjalan, tetapi jika kegelapan menimpa, mereka berdiri kaku. Demikian pula saat mendengar Al-Qur'an berisi perintah, larangan, janji, dan ancaman, mereka menyumbat telinga dan berpaling karena ancaman Allah menakutkan dan menggelisahkan mereka. ‎‎Al-Shanqiti menambahkan secara konkret dalam Adhwa' al-Bayan bahwa orang munafik mengamalkan Al-Qur'an hanya ketika sesuai dengan hawa nafsu, seperti dalam urusan pernikahan, warisan, dan pembagian harta ghanimah dengan kaum muslimin demi keselamatan diri. Namun, ketika Al-Qur'an menuntut pengorbanan jiwa dan harta dalam jihad di jalan Allah, mereka serta-merta berhenti dan mengundurkan diri.‎‎Penggalan walau sha'allahu ladzahaba bisam'ihim wa absarihim (dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka) ditafsirkan oleh Al-Sa'di sebagai ancaman hukuman fisik di dunia. Hal ini menjadi peringatan keras agar mereka bertobat dan menghentikan kejahatan serta kemunafikan mereka.‎‎Ayat ini diakhiri dengan innallaha 'ala kulli syai'in qadir (sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu). Al-Razi menjelaskan dalam Mafatih al-Ghayb bahwa lafaz al-Qadir merupakan bentuk penekanan (mubalaghah) yang menunjukkan kesempurnaan sifat kuasa Allah. Al-Sa'di menutup penjelasannya bahwa tidak ada satu pun yang mampu melemahkan Allah; apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia pasti melaksanakannya tanpa ada yang sanggup menghalangi atau menentang.‎‎Dari keseluruhan uraian tafsir tersebut, dapat dipetik beberapa faidah penting. Pertama, Al-Baghawi menegaskan kilat sebagai perumpamaan Al-Qur'an yang menyilaukan hati mereka, sementara hujan adalah simbol Al-Qur'an sebagai sumber kehidupan hati. Kedua, Ibn Katsir menekankan bahwa terancamnya penglihatan mereka disebabkan oleh lemahnya bashirah dan goyahnya iman. ‎‎Ketiga, Al-Shanqiti menelanjangi sifat plin-plan orang munafik yang hanya memanfaatkan hukum Islam demi keuntungan duniawi. Keempat, Al-Sa'di mengingatkan adanya ancaman hukuman fisik duniawi bagi mereka yang terus memelihara kemunafikan. Kelima, Al-Razi menegaskan mutlaknya kekuasaan Allah yang tidak terbatas oleh apa pun. ‎‎Keenam, Abu Hayyan dalam Al-Bahr al-Muhith menyebut rangkaian ayat ini sebagai tamtsil tarkibi (perumpamaan majemuk) yang menggambarkan betapa pekatnya kegelapan, guruh, dan kilat yang mengepung orang-orang munafik hingga mereka kehilangan arah.‎‎Sebagai sintesis, ayat ini menutup perumpamaan orang munafik dengan gambaran yang sangat hidup. Mereka hanya melangkah ketika cahaya kebenaran menguntungkan keinginan mereka, dan mendadak berhenti saat ujian kegelapan datang. Di balik itu semua, Allah SWT menegaskan bahwa pendengaran, penglihatan, serta seluruh keberadaan mereka berada dalam genggaman kekuasaan-Nya yang mutlak, sehingga tidak ada tempat berlindung bagi siapa pun yang berpaling dari kebenaran.‎

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 18 Agustus 2026
Imsak
04:33
Shubuh
04:43
Dhuhur
12:00
Ashar
15:20
Maghrib
17:57
Isya
19:07
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan