LANGIT7.ID-Jakarta; - Ayat ke-14 dari Surat Al-Baqarah menguraikan secara mendalam salah satu karakter utama orang-orang munafik, yaitu sifat bermuka dua. Dalam ayat ini, Allah ﷻ memaparkan perbandingan kontras antara perilaku mereka di hadapan kaum mukminin dengan sikap mereka saat berada di belakang layar bersama para pemimpin kesesatan mereka.
وَإِذَا لَقُوا۟ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قَالُوٓا۟ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْا۟ إِلَىٰ شَيَٰطِينِهِمْ قَالُوٓا۟ إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُونَ
"
Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok". (QS Al-Baqarah: 14).
Ketika orang-orang munafik bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka secara lisan menyatakan aamannaa atau kami telah beriman. Berdasarkan penafsiran Ibnu Katsir yang diringkas oleh Syaikh Hikmat bin Basyir bin Yasin, ungkapan ini disampaikan untuk menampakkan keimanan, janji, dan kecintaan palsu kepada kaum mukmin. Tujuan utama dari kepura-puraan ini adalah untuk melindungi diri mereka serta agar bisa ikut mengambil bagian dari kebaikan dan harta rampasan perang yang diperoleh oleh orang-orang mukmin.
Namun kondisi tersebut berubah total ketika mereka kembali kepada kelompoknya (wa idzaa khalaw ilaa syayaathiinihim). Kata khalau bermakna berpaling atau pergi berlalu. Penggunaan kata ini disambungkan dengan ilaa untuk menunjukkan fi'il yang mengandung dhamir dan fi'il yang tampak. Meskipun sebagian ulama berpendapat bahwa kata ilaa di sini bermakna ma'a (bersama), Ibnu Jarir at-Tabari menegaskan bahwa pendapat pertamalah yang lebih tepat. Sementara itu, As-Suddi meriwayatkan dari Abu Malik bahwa kata khalau berarti telah berlalu.
Mengenai frasa syayaathiinihim atau setan-setan mereka, para ulama tafsir memberikan rincian sosok yang dimaksud. Secara umum, istilah ini merujuk kepada para pemimpin, pembesar, dan pemuka mereka dalam kejahatan. Ibnu Abbas menjelaskan bahwa setan-setan tersebut adalah orang-orang Yahudi yang memerintahkan kaum munafik untuk berdusta dan menentang risalah Rasulullah ﷺ. Mujahid berpendapat bahwa mereka adalah rekan-rekan sesama munafik dan musyrik. Qatadah, Abu Malik, Abu Al-'Aliyah, As-Suddi, serta Ar-Rabi' bin Anas juga sepakat bahwa makna setan di sini adalah para pemimpin kesyirikan dan kejahatan.
Baca Juga: Kajian Al-Baqarah Ayat 12: Ketika Perusak Merasa Melakukan PerbaikanIbnu Jarir at-Tabari memberikan definisi yang lebih luas bahwa setan dari segala sesuatu adalah pihak yang menentang kebenaran, baik berasal dari golongan manusia maupun jin. Hal ini diperkuat oleh Surah Al-An'am ayat 112 serta hadits dalam Musnad Abu Dzar, di mana Rasulullah ﷺ mengonfirmasi kepada Abu Dzar bahwa memang ada setan dari kalangan manusia. Ketika kembali kepada para pemuka tersebut, orang munafik berkata innaa ma'akum, yang menurut Ibnu Abbas bermakna: sesungguhnya kami berada di tempat dan keyakinan yang sama dengan kalian. Adapun ucapan mereka innamaa nahnu mustahzi'uun dijelaskan oleh Ibnu Abbas, Ar-Rabi' bin Anas, dan Qatadah bermakna bahwa mereka hanya mengolok-olok serta bermain-main dengan kaum mukminin.
Atas perbuatan tersebut, Allah ﷻ memberikan tanggapan tegas pada ayat ke-15 bahwa Dialah yang akan memperolok-olok dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan. Ibnu Jarir menjelaskan bahwa balasan olok-olok dan tipu daya dari Allah ini terwujud dalam pembalasan yang adil kelak pada hari kiamat, sebagaimana digambarkan dalam Surah Al-Hadid ayat 13 dan Surah Ali Imran ayat 178.
Ulama lain menambahkan bahwa olok-olok dari Allah merupakan bentuk celaan dan cemoohan atas kekafiran mereka, atau bentuk jawaban seperti seseorang yang menyatakan telah membalas tipuan setelah berhasil menggagalkannya. Ulama lainnya juga menerangkan bahwa Allah mengolok-olok mereka dengan menampakkan hukum duniawi seperti perlindungan nyawa dan harta, namun menyiapkan azab di akhirat. Ibnu Jarir mempertahankan pendapat terakhir ini karena ejekan untuk tujuan main-main dilarang bagi Allah, sedangkan pembalasan yang adil dan hukuman adalah hal yang sah.
Terkait penggalan yamudduhum fii thughyaanihim ya'mahuun, Ibnu Jarir menegaskan bahwa Allah akan menambah pembiaran atas kedurhakaan dan kesombongan mereka, sebagaimana ditegaskan dalam Surat Al-An'am ayat 110. Kata thughyan berarti melampaui batas (seperti luapan air pada Surah Al-Haqqah ayat 11). Mengenai kata ya'mahuun, Ibnu Abbas, As-Suddi, Abu Al-‘Aliyah, Qatadah, Ar-Rabi' bin Anas, Mujahid, Abu Malik, dan Abdul Rahman bin Zaid menafsirkannya sebagai kondisi kebingungan di dalam kekufuran dan kesesatan. Ibnu Jarir menambahkan bahwa al-'amah adalah kesesatan dan Kebutaan hati yang telah menutup penglihatan mereka dari petunjuk. Sebagian ulama membedakan bahwa al-'amyu adalah kebutaan mata fisik, sedangkan al-'amah adalah kebutaan hati, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 46.
Berdasarkan penjelasan Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi dalam Aisarut Tafasir, ayat ini menegaskan bahaya nifaq dan memberikan peringatan keras terhadap orang-orang bermuka dua. Dalam pandangan Islam, orang bermuka dua yang menampilkan wajah baik di hadapan suatu kaum dan wajah buruk di kelompok lain merupakan salah satu seburuk-buruknya manusia. Penjelasan serupa dikemukakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi dan Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, bahwa pengakuan iman kaum munafik di lisan hanyalah benteng kepura-puraan karena rasa takut, sementara hati mereka sepenuhnya terikat pada para pembesar kekafiran.
Baca Juga: Tantangan Mempertahankan Agama di Tengah Fitnah Akhir Zaman (zhd)