Pengecut bukan sekadar absennya keberanian, melainkan penyakit hati yang melumpuhkan integritas dan tanggung jawab sosial. Ia adalah muara dari ketidakmampuan manusia menunaikan hak Tuhan dan sesama.
Di tengah riuhnya percakapan tentang moral publik dan integritas keagamaan, seruan tobat dari sifat munafik kembali bergema. Ia menuntut bukan pengakuan, melainkan perubahan karakter yang paling dalam.
Tidak semua kekufuran berarti murtad, tidak semua nifaq mengantar ke neraka. Yusuf Al-Qardhawi mengingatkan: keliru menafsirkan istilah bisa menyalakan api takfir yang dilarang agama.
Di antara tanda-tanda sempurnanya tobat mereka adalah mereka memperbaiki apa yang dirusak oleh sifat munafik mereka. Serta agar mereka hanya berpegang pada Allah SWT saja bukan kepada manusia.
Dedengkot kaum munafik, Abdullah bin Ubay, pernah bertanya perihal mukjizat Rasulullah SAW. Pertanyaan yang terkesan menantang itu disampaikan Abdullah bin Ubay kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Allah mengecam orang munafik yang karakteristiknya adalah tidak memahami al-Qur'an, senantiasa membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan silaturahim.
Berawal dari penyakit hati hingga menimbulkan sifat buruk lainnya. Orang munafik tentunya pandai berdusta ataupun berbohong. Sebab itu, golongan tersebut sangat dibenci Allah dan hamba-Nya.
Meski hanya perumpamaan buah, akan tetapi perumpamaan ini begitu berarti dalam hidup manusia. Sebab, dengan adanya perumpamaan tersebut semakin menyadarkan umat mukmin bahwa membaca Al-Quran sangat bernilai ibadah.
Seorang muslim dianjurkan untuk menyegerakan Shalat Ashar awal waktu. Mereka yang lalai dan baru mengerjakan ibadah tersebut jelang Maghrib akan dicap munafik.