Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 14 April 2026
home masjid detail berita

Kufur, Syirik, Munafik: Garis Tipis yang Kerap Disalahpahami

miftah yusufpati Ahad, 31 Agustus 2025 - 05:45 WIB
Kufur, Syirik, Munafik: Garis Tipis yang Kerap Disalahpahami
Tidak semua kekufuran berarti murtad, tidak semua nifaq mengantar ke neraka. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Tidak semua dosa lahir dengan wajah yang sama. Dalam khazanah fikih Islam, istilah kekufuran, kemusyrikan, dan kemunafikan kerap digunakan untuk menggambarkan pelanggaran keyakinan. Tetapi, apakah setiap kekufuran berarti keluar dari Islam? Apakah setiap kemunafikan setara dengan nifaq yang membuat seseorang terjerumus ke neraka terdalam?

Syaikh Yusuf Al-Qardhawi dalam Fiqh Prioritas (1996) mengajak pembaca berhati-hati: tidak mencampuradukkan istilah sehingga mudah menuduh sesama Muslim sebagai kafir. Kesalahan tafsir ini, kata Qardhawi, bisa menggelincirkan umat ke jurang permusuhan yang justru dilarang agama.

Dalam pandangan ulama klasik, kufur besar adalah ingkar total terhadap Allah, Rasul, atau risalah Muhammad. Ini termasuk mereka yang menolak kerasulan Nabi, seperti kaum Yahudi dan Nasrani di masa lalu, setelah kebenaran dijelaskan kepada mereka. Ayat Al-Qur’an pun menegaskan: “Barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya… Kami masukkan ia ke dalam Jahannam” (QS. An-Nisa: 115).

Baca juga: Mengapa Mencela Aisyah Dianggap Kafir oleh Para Ulama Ahlus Sunnah?

Namun, ada pula kufur kecil, bukan berarti tanpa dosa, tetapi tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam. Misalnya meninggalkan salat karena malas, bukan karena mengingkari kewajibannya. Meski hadis menyebut “Barangsiapa meninggalkan salat, ia kafir”, jumhur ulama menafsirkannya sebagai bentuk ancaman, bukan vonis kafir murtad.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah menyatakan, orang yang enggan salat setelah dinasihati bisa dihukum mati. Tetapi, Ibn Qudamah dalam al-Mughni mengklarifikasi: hukuman ini karena pelanggaran hukum (hudud), bukan karena kekafiran. Mayoritas ulama, dari Abu Hanifah, Malik, hingga Syafi’i, menolak menjadikan pelanggaran salat sebagai dalih takfiri.

Ayat lain berbunyi: “Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, mereka itulah orang-orang kafir” (QS. Al-Maidah: 44).

Apakah ini mutlak? Tidak, kata Ibn Abbas. Baginya, ini bukan kekufuran yang mengeluarkan seseorang dari Islam, melainkan kufur kecil, kecuali jika disertai keyakinan bahwa hukum Allah tidak wajib diterapkan. Maka, dua kondisi menjadi pembeda: jika hakim tahu wajibnya syariat namun tetap menyimpang karena hawa nafsu, itu dosa besar tapi tidak murtad. Sebaliknya, bila ia meyakini hukum Allah tidak wajib, di situlah kufur akbar bekerja.

Baca juga: Mengapa Sebagian Kaum Muslimin Mengkafirkan Sesamanya?

Nifaq, Syirik, dan Garis Samar di Antaranya

Kemunafikan pun demikian. Ada nifaq besar—seperti yang dilakukan kaum munafik Madinah—dan nifaq kecil, misalnya berdusta atau mengingkari janji. Nabi sendiri mengingatkan, tanda-tanda nifaq kecil bukan berarti seseorang keluar dari Islam, melainkan indikator penyakit moral yang harus diobati.

Begitu juga syirik. Tidak semua bentuknya berupa menyembah berhala. Riya, ujub, atau menggantungkan hati kepada selain Allah, meski tipis, tetap dikategorikan syirik kecil.

Qardhawi menutup dengan peringatan keras: memukul rata istilah-istilah ini sama dengan mengobarkan api fitnah. “Hidungmu adalah bagianmu, walau pesek,” kata peribahasa Arab yang ia kutip. Sesama Muslim ibarat satu tubuh. Mengkafirkan tanpa dasar hanya akan merobek tubuh itu sendiri.

Wallahu a’lam.

Baca juga: Kufur yang Tak Selalu Kafir: Mengurai Makna dan Kebijaksanaan Islam dalam Perbedaan

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 14 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:55
Isya
19:05
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)