LANGIT7.ID-, Jakarta- - Sebagian ulama mengategorikan dusta atau berbohong sebagai dosa besar, karena saking bahaya. Dusta berarti memberitakan sesuatu berbeda dengan fakta. Dalam beberapa hadits, Rasulullah SAW menggambarkan sikap dusta sebagai perbuatan yang memiliki konsekuensi sangat besar.
Dari Ibnu Mas'ud RA, Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh, dusta akan mengantarkan pada kejahatan dan kejahatan akan mengirim ke neraka. Sesungguhnya, jika seseorang selalu berdusta, ia akan dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta." (HR Bukhari)
Dari Abdullah bin Amr RA, Rasulullah SAW bersabda, "Ada empat tanda, jika seseorang memiliki tanda ini, maka ia disebut munafik tulen. Jika ia memiliki salah satu tandanya, maka dalam dirinya ada tanda kemunafika sampai ia meninggalkan perilaku tersebut, yaitu: jika diberi amanah, khianat; jika berbicara, dusta; jika membuat perjanjian, tidak dipenuhi; jika berselisih, dia akan berbuat zalim (melampaui batas)." (HR Muslim)
Founder Formula Hati, Ustadz Muhsinin Fauzi, menjelaskan, ibrah dari dua hadits tersebut adalah kebohongan identik dengan kemunafikan. Sifat utama seorang mukmin adalah jujur dan rendah hati. Sifat utama orang kafir adalah sombong. Sifat utama orang munafik adalah dusta.
"Dalam sejarah, beberapa ulama menyikapiDalam sejarah, beberapa ulama menyikapi akhlak buruk ini dengan keki (sebal). Ke-keki-an itu nampak ketika mereka membahas tentang apakah pendusta diterima taubatnya? Sebagian mengatakan taubatnya diterima, sebagian lainnya mengatakan tidak diterima," kata Ustadz Fauzi dalam kajian Ahlak dan Adab Formula Hati, dikutip Senin (24/7/2023)
Ulama berpendapat taubat pendusta tidak diterima beralasan tidak ada jaminan taubat mereka jujur. Artinya, timbul polemik bahwa jujurnya seorang pendusta tidak bisa dipastikan dusta atau jujur.
"Membuktikan kejujuran pendusta itu bukan perkara sederhana, sehingga daripada membuang waktu untuk hal yang sulit maka lahirlah pendapat kedua seperti yang telah disebutkan di atas," ujar Ustadz Fauzi.
Ustadz Fauzi menyebutkan beberapa baya dusta. Di antaranya dusta merupakan bagian dari nifaq,
dusta bisa membuat orang kehilangan kepercayaan dalam hubungan antar sesama, dusta akan membawa kepada kesalahan dan kejahatan (berikutnya), dan dusta termasuk dosa yang bisa dikategorikan dosa besar karena bahayanya itu sebesar dosa munafik.
Tingkatan sasaran dusta dimulai dari yang paling berbahaya. Pertama, dusta kepada Allah. Misalnya, sumpah palsu dan tidak percaya kepada Allah (orang kufur). Kedua, dusta kepada Rasulullah SAW seperti membuat hadits palsu dan menyebarkan hadits palsu (yang sudah diketahui kepalsuannya).
"Ketiga, dusta kepada sesama manusia, sesuai dengan tingkat yang wajib dimuliakan, makin tinggi kemuliaan orang itu, makin besar dosanya. Contohnya dosa kepada orangtua, guru, suami/isteri," ungkap Ustadz Fauzi.
Ada beberapa penyebab orang berdusta. Pertama, kelemahan mental, karena lemah membuat rasa takut. Kedua, besarnya keinginan yang tidak diikuti oleh besarnya kemampuan. Ketiga, memang sudah ada benih nifaq.
"Keempat, karena menjadi korban dusta. Kelima, dia berada di lingkungan pendusta," ujar Ustadz Fauzi.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar terhindar dari akhlak buruk dusta. Perlu penguatan mental agar tidak mudah diintimidasi. Mental pemberani atau kokoh berawal dari ikhlas, tanggung jawab, berani ambil risiko.
Kemudian, harus ada proses penanaman agama yang kuat, terutama penguatan iman kepada malaikat dan hari akhir. Perlu pembiasaan penanaman sikap jujur sejak kecil. Seseorang bisa menghindari sikap dusta dengan moderat dalam berkeinginan yakni wajib zuhud.

"Banyak berdoa dan cari lingkungan yang jujur," ungkap Ustadz Fauzi.
(ori)