LANGIT7.ID-Di sebuah majelis pengajian di Depok, seorang ustaz muda melontarkan pernyataan yang membuat jamaah terperangah: “Jangan sekali-kali berdusta atas nama Allah. Itu lebih berat daripada dosa apa pun.” Ucapannya seakan menyambar, mengingatkan bahwa dusta bukan sekadar kebohongan antar-manusia, tapi bisa menjelma menjadi penistaan terhadap Sang Pencipta.
Al-Qur’an menegaskan dengan bahasa tajam: “
Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan.” (QS. al-An‘am [6]: 21).
Ayat itu, menurut Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, bukan sekadar peringatan, melainkan vonis teologis: mereka yang berani mengada-ada atas nama Tuhan, boleh jadi mendapat sedikit kesenangan dunia, tapi kesudahannya hanya siksa dan kehinaan.
Baca juga: Perut Berbohong dan Jiwa Menangis: Pesan Nabi tentang Sakit yang Tak Tampak di Luar Kebohongan yang Membawa KufurImam Ibnul Jauzi, ulama besar abad ke-12, menulis dengan nada keras. Berdusta atas nama Allah dan Rasul, katanya, adalah bentuk kekafiran yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam.
Imam adz-Dzahabi, dalam kitab al-Kabâ’ir—kompilasi dosa-dosa besar—mencatatnya sebagai salah satu yang paling berbahaya: menukar halal menjadi haram, dan haram menjadi halal, seolah-olah Tuhan menitipkan otoritas mutlak kepada manusia.
Menurut Al-Qurthubi dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, kebohongan atas nama Allah adalah bentuk tahrif (penyelewengan), yang pada hakikatnya menggeser otoritas Ilahi ke tangan manusia.
Sejarah panjang umat manusia mencatat berbagai bentuk dusta atas nama Allah. Al-Qur’an mengurai dengan detail:
- Menjadikan berhala dan leluhur sebagai perantara sembahan, lalu menisbatkannya kepada Tuhan (QS. Yunus [10]:18).
- Mengaku-aku menerima wahyu—padahal kosong dari langit—seperti Musailamah al-Kadzab di era Nabi Muhammad SAW (QS. al-An‘am [6]:93).
- Menganggap Allah punya anak (QS. Yunus [10]:68).
- Mengharamkan rezeki yang sejatinya halal (QS. al-An‘am [6]:140, 144).
- Ritual jahiliah seperti thawaf telanjang, lalu diklaim sebagai perintah Tuhan (QS. al-A‘raf [7]:28).
Fazlur Rahman, dalam Major Themes of the Qur’an (1980), menegaskan bahwa pola dusta ini selalu terkait legitimasi sosial-politik: untuk melanggengkan otoritas, ekonomi, atau tradisi.
Baca juga: Hati-Hati, Berbohong Ternyata Mengakibatkan Penyakit Dusta yang Menjadi TradisiDalam konteks kekinian, praktik dusta atas nama Allah bisa lebih subtil. Misalnya, klaim politik sepihak: menyebut kelompok tertentu sebagai “partai Allah” dan lawannya “partai setan”. Atau menjadikan tafsir sempit sebagai seolah titah mutlak Tuhan.
Menurut Abdul Moqsith Ghazali dalam Argumen Pluralisme Agama (2009), kecenderungan ini muncul karena manusia ingin mengukuhkan posisi dengan cara menyakralkan tafsir pribadi. “Dengan mengatasnamakan Allah, klaim mereka jadi sakral, seolah tak bisa digugat,” katanya.
Padahal, Al-Qur’an berulang kali mengingatkan: “Apakah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS. Yunus [10]:68).
Baca juga: Inses dalam Perspektif Islam: Hukumnya Haram dan Termasuk Dosa Besar Hukum Berat, Efek Sosial Lebih BeratSecara teologis, dusta atas nama Allah berbuah murka Ilahi. Tapi efek sosialnya tak kalah berbahaya: ia melahirkan polarisasi, konflik, bahkan kekerasan.
Sejarah mencatat, perang-perang besar kerap diawali klaim sakral: ini kehendak Tuhan, ini hukum Allah. Padahal, tak jarang ia hanya strategi manusia.
Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menulis: “Kebohongan yang disandarkan kepada Allah adalah seburuk-buruknya kebohongan, karena ia menutup jalan kebenaran.”
Pada akhirnya, pertanyaan yang mengemuka: bagaimana agar umat tak terjebak dalam dusta yang mengatasnamakan Tuhan?
Jawabannya mungkin terletak pada kerendahan hati. Mengakui keterbatasan pengetahuan, menahan diri dari klaim absolut, dan meyakini bahwa kebenaran hakiki hanya milik Allah.
Berdusta kepada manusia adalah dosa. Tapi berdusta kepada Allah? Ia bisa meruntuhkan iman, menghancurkan peradaban, dan mengubur nurani.
Baca juga: Imam Besar Masjid Istiqlal: Cara Mandi Taubat untuk Pelaku Dosa Besar(mif)