LANGIT7.ID - Ada banyak hikmah Islam melarang seseorang untuk berbohong. Selain bernilai keburukan di sisi Allah Ta’ala, namun juga mempengaruhi kondisi kesehatan.
Secara medis, ada beberapa hal yang diduga penyebab seseorang sering berbohong, seperti kelainan pada otak karena cedera fisik atau kelainan bawaan lahir. Secara psikologis, sering berbohong dapat menjadi salah satu penanda adanya gangguan mental, seperti gangguan kepribadian dan gangguan obsesif, bahkan psikopat.
Mengutip laman Alodokter, kebiasaan berbohong dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan, depresi, kecanduan judi, dan kanker serta obesitas. Selain itu, berbohonh juga dapat menurunkan kualitas hubungan interpersonal dan kepuasan kerja.
Hal itu disebabkan oleh peningkatan stres pada seseorang saat berbohong. Ada beban emosional dan fisik yang dirasakan seorang pembohong. Apalagi, berbohong sering kali harus diikuti dengan kebohongan berikutnya.
Kejujuran memang tidak selalu menyenangkan, namun mengatakan atau mendengar kebohongan justru lebih menyakitkan. Mengungkapkan fakta sebenarnya sambil mencari jalan keluar adalah cara terbaik. Sedapat mungkin bohong dihindari untuk kondisi kesehatan dan hubungan sosial yang lebih baik.
Tanda-Tanda Orang BerbohongSeseorang yang berbohong dapat dikenali melalui ekspresi pada wajah yang tidak disadari. Ekspresi tersebut digerakkan oleh otot-otot yang berada di sekitar alis, dahi, dan bibir. Ketika berbohong bersifat sesuatu yang emosional, maka tanda-tanda tersebut akan semakin jelas.
Saat berkata jujur, maka lebih banyak kontraksi otot di sekitar mata dan mulut. Sementara, pembohong tampak lebih banyak mengalami kontraksi otot di sekitar dahi dan pipi. Dahi yang tampak jelas berkerut saat seseorang berbicara, merupakan salah satu tanda kejujurannya dipertanyakan.
Namun, ada sebagian wajah yang tampak polos saat berbohong. Wajah ini bisa mengecoh orang lain. Wajah tidak berdosa itu umumnya terlihat simetris antara sisi kanan dan kiri, tampak menarik dengan mata yang besar, memiliki kulit halus dan dahi lebar yang sesuai dengan bentuk dagunya, atau sering dikategorikan memiliki wajah bayi (baby face).
Namun ada beberapa jenis pemeriksaan psikologis (psikotes) yang dapat digunakan sebagai penentu seseorang memiliki kecenderungan untuk berbohong atau berkata jujur.
(jqf)