LANGIT7.ID, Jakarta - Al-Qur’an merupakan wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai mukjizat yang ditulis dalam mushaf, dan diriwayatkan secara mutawatir atau diketahui orang banyak.
Membaca al-Qur’an dapat bernilai ibadah serta mampu membuat hati tentram dan memberikan kedamaian. Rasulullah sallallahu 'alaihi wassalam dalam hadisnya memberikan perumpamaan kepada orang mukmin yang membaca Al-Qur’an, baik itu bagi yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya atau bagi yang membaca Al-Qur’an dan mengetahui maknanya.
Di hadapan para sahabat, Rasulullah menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan sebaik-baik hal yang terucapkan dalam keseharian setiap orang. Dengan keagungan Al-Qur’an tersebut, setiap mukmin yang membacanya akan mendapatkan pahala.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah menjelaskan perbedaan antara muslim yang membaca al-Qur’an dan tidak membacanya:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ التَّمْرَةِ لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ
Artinya: “Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti buah utrujah yang memiliki wangi yang sedap dan rasa yang manis. Sedangkan perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an ibarat buah tamar (kurma) yang tidak memiliki bau namun rasanya manis. Adapun perumpamaan seorang munafik yang membaca Al-Qur’an ibarat buah raihanah yang memiliki wangi yang sedap tapi rasanya pahit. Dan perumpamaan seorang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an ibarat buah handzhalah yang tidak memiliki bau dan rasanya pahit,” (HR Muslim).
Baca Juga: Sejarah Masjid Raya Pulo Asem, Diresmikan Langsung Buya HamkaSyekh Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi dalam kitabnya Fadhail Amal menjelaskan, hadis di atas menunjukan perumpamaan orang yang membaca Al-Quran dengan orang yang tidak membacanya.
Kemudian dia menjelaskan tentang perumpamaan tersebut, meski kenikmatan ketika membaca Al-Quran tidak bisa diperumpamakan dengan kelezatan buah atau makanan yang lainnya, akan tetapi sabda Rasulullah akan membuka pemikiran dan pemahaman dengan begitu luasnya.
Dalam hadis tersebut juga terdapat tiga kategori buah yang menggambarkan orang yang membaca dan tidak membaca Al-Quran, yaitu buah utrujah, raihanah, dan hanzalah.
Ibnu Hajar mengatakan, orang yang membacakan Al-Quran diperumpamakan dengan buah utrujah sebagai buah yang memiliki rasa begitu lezat, bentuknya menawan, serta warnanya kuning terang menyenangkan mata.
Kemudian, mempunyai tekstur yang lembut membuat siapapun ingin memakannya, seperti itulah muslim yang membaca al-Quran. Sedangkan muslim yang tidak membaca al-Quran, bagaikan buah kurma, rasanya manis tapi tidak berbau harum.
Baca Juga: Tips Parenting dari Ustadz Abdul Somad, Sediakan Waktu untuk AnakMaulana Muhammad Zakariyya Al Khandahlawi dalam kitabnya Fadhilah Amal, buah utrujah ini seperti mendekati buah jeruk, baunya yang mengharumkan mulut, menguatkan pencernaan, dan sebagainya. Begitu juga dengan membaca Al-Quran memiliki manfaat yang besar saat membacanya, yaitu mewangikan mulut, membersihkan batin, dan menguatkan ruhani.
Kedua, raihanah merupakan buah yang mengandung racun akan tetapi memiliki bau yang harum, seperti itulah gambaran untuk orang munafik yang rajin membaca Al-Quran. Kemudian ketiga adalah buah hanzalah, buah ini memiliki refleksi rasa yang begitu pahit tetapi tidak berbau.
Ibnu Hajar menyebutnya buah ini seperti buah kurma, yakni mirip dengan orang munafik yang tidak membaca al-Quran. Tidak adanya rasa manis, hal ini menyerupai tidak adanya iman dalam dirinya.
Meski hanya perumpamaan buah, akan tetapi perumpamaan ini begitu berarti dalam hidup manusia. Sebab, dengan adanya perumpamaan tersebut semakin menyadarkan umat mukmin bahwa membaca Al-Quran sangat bernilai ibadah.
Membaca Al-Quran bukan untuk menjadikan diri seseorang terlihat baik di mata orang lain. Akan tetapi hati yang lapang dan tentram menjadi kenikmatan tiada tara setelah membacanya dengan ikhlas.
Baca Juga: Efek Buruk Konsumsi Makanan Haram, Jauh dari Rahmat Allah SWT(zhd)