LANGIT7.ID, Jakarta - Kisah latar belakang pembangunan pasti dimiliki oleh setiap masjid. Hal serupa terjadi pada Masjid Raya Pulo Asem yang berlokasi di Jalan Taman Pulo Asem Timur, Pulo Gadung, Jakarta Timur.
Kisah berawal dari sebuah taman yang diperebutkan oleh pihak gereja yang berada di sekitar lokasi dengan para warga muslim sekitar yang hendak membangun sebuah masjid.
"Kebetulan dulu pak RW kita, pak Muhammad itu mantan atasan pak Ali Sadikin, dulu RW kita saat masih di korps KKO (Komando Korps Operasi/Marinir) pernah jadi atasan Ali Sadikin. Pak RW kita lah yang meminta lahan ini untuk menjadi masjid kepada pak Ali Sadikin," ujar Sekretaris Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Raya Pulo Asem, Nursal saat ditemui
Langit7.id, Senin (22/8/2022).
![Sejarah Masjid Raya Pulo Asem, Diresmikan Langsung Buya Hamka]()
"Kebetulan di saat yang bersamaan di sini ada gereja, dulu gereja belum ada, tapi menginginkan lahan ini juga," imbuhnya.
Nursal melanjutkan, kabar rencana dari pihak gereja tersebut sampai ke telinga Gubernur DKI Jakarta kala itu Ali Sadikin. Lantas ia pun membeberkan informasi tersebut kepada RW setempat sekaligus mantan atasannya kala di Korps KKO, Muhammad untuk segera mengurus pembangunan Masjid Raya Pulo Asem.
Baca Juga: Peninggalan Bersejarah, 3 Masjid di Jakarta Ini Jadi Cagar Budaya"Karena kita sudah duluan, kita ajukan langsung," katanya.
Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1972. Kemudian pada tahun 1974 peletakan batu pertama pun terealisasi dan diresmikan langsung oleh Buya Hamka. Lalu mendapatkan izin pembangunan masjid pada tahun 1976 yang dibarengi dengan proses awal pembangunan.
Nursal melanjutkan, proses pembangunan dilakukan secara bertahap dan perlahan karena terbatasnya anggaran. Pengumpulan dana sumbangan masjid pun dilakukan dengan sistem lelang.
"Cari dananya dari lelang per tiang, hitungan meter lantai. Lelang ditawarkan langsung misal harga tiang ini Rp10 juta, dan waktu itu siapa yang mau langsung dicatatkan," jelasnya.
Baca Juga: Tafsir Surat An-Nur Ayat 41: Semua Makhluk Bertasbih kepada AllahKendati belum selesai pembangunan kala itu, masjid sudah digunakan untuk warga muslim setempat. "Dulu pak Isa kalau azan, dia buat cerobong dari seng, dia azan pakai itu," tuturnya.
Singkat cerita, Masjid Raya Pulo Asem pun resmi berdiri kokoh pada tahun 1980 dengan proses pembangunan secara perlahan akibat minimnya dana.
Renovasi Besar-besaranSebelum menjadi masjid modern dengan fasilitas yang benar-benar memadai. Masjid Pulo Raya Pulo Asem akhirnya di renovasti total pada tahun 2017 dengan konsep yang berkiblat pada Masjid Nabawi.
Berbeda dengan proses pembangunan masjid pertama kali, renovasi total ini hanya memakan waktu singkat yakni satu tahun. Hal tersebut karena dampak dari perkembangan zaman yang memudahkan para donatur masjid menghibahkan sebagian hartanya melalui transfer ke rekening masjid.
Nursal menuturkan, rencana awal renovasi memiliki Rencana Anggaran Biaya (RAB) sebesar Rp3,4 miliar. Akan tetapi dana membengkak hingga Rp5,6 miliar.
"Desain pun berubah-ubah, dengan perubahan itu pula biayanya pun nambah," jelas Nusal.
Pembengkakan dana yang relatif besar tidak menjadi masalah bagi para pengurus masjid. Karena jamaah sekitar pun tergolong orang-orang mampu dan memberlakukan sistem penempatan poster sumbangan masjid di berbagai titik dengan mencantumkan nomor rekening. Kini Masjid Raya Pulo Asem berdiri kokoh mengusung konsep modern dengan luas bangunan 800 meter persegi.
Baca Juga: Tips Parenting dari Ustadz Abdul Somad, Sediakan Waktu untuk Anak(zhd)