LANGIT7.ID, Jakarta - Banyak warisan budaya berbentuk bangunan wisata di Jakarta yang dijadikan sebagai cagar budaya. Tak hanya tempat wisata saja, namun juga ada sejumlah masjid yang ditetapkan sebagai cagar budaya.
Selain menjadi tempat ibadah rutin umat muslim, masjid-masjid yang dibangun juga mempunyai latar belakang nilai sejarah yang besar sehingga menjadi cagar budaya.
Sebagai sarana ibadah, tidak ada salahnya juga kita berkunjung ke masjid untuk mengetahui nilai sejarah yang melekat. Meski ada ratusan bahkan ribuan masjid di Ibu Kota Jakarta, hanya beberapa yang menjadi cagar budaya.
Baca Juga: Masjid Jami Al-Mujahidin Menteng, Berawal dari Bangunan Kayu Tahun 1943Berikut tiga masjid cagar budaya yang dapat kita kunjungi untuk beribadah ataupun mempelajari nilai sejarahnya:
1. Masjid Jami Al-Ma'murMasjid Jami Al-Ma'mur di bilangan Raden Saleh Cikini Jakarta Pusat hingga kini masih mempertahankan konsep bangunan zaman penjajahan Belanda. Arsitektur tersebut menjadi saksi sejarah terkait imperialisme di masa lalu.
Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua dengan sejarahnya yang panjang. Masjid yang dibangun pada tahun 1890 ini merupakan pindahan dari sebuah Surau yang dibangun oleh Raden Saleh sekitar tahun 1860.
Pada bagian luar depan masjid terdapat ukiran besar aksara Arab berwarna putih tepat di bagian tembok teratas masjid. Pintu masuk beserta jendela juga masih mempertahankan bangunan ciri khas zaman kolonial. Masjid ini terpilih menjadi cagar budaya oleh Gubernur DKI Jakarta berdasarkan Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 9 Tahun 1999.
2. Masjid Jamik Al-MansurMasjid yang berada di Jembatan Lima Jakarta Barat, Masjid Jamik Al Mansur, pernah menjadi markas para pejuang kemerdekaan dari Tanah Betawi. Bangunan rumah ibadah ini pertama kali dibangun pada 1717 mengambil nama seorang guru, Muhammad Manshur bin Imma Abdul Hamid.
Masjid Jami Al Mansur dibangun pada 1717 berdasar inskripsi yang terdapat di menara masjid yang bertuliskan tahun 1330 Hijriah atau 1717 Masehi. Masjid ini dibangun oleh Abdul Mihit atau Abdul Mukhit, putra Pangeran Cakrajaya dari Kerajaan Mataram Islam.
Baca Juga: Mengenal Cheng Ho, Sang Ahli Geografi Muslim Berpengaruh di DuniaAwalnya masjid ini bernama Masjid Jami Kampung Sawah yang kemudian berubah nama, dengan mengambil nama Guru Mansur. Sang guru sendiri merupakan keturunan Abdul Mukhit yang tentu masih memiliki ikatan darah dengan Kesultanan Mataram Islam tahun 1628-1629.
Seiring berjalannya waktu, Pada 1937, Masjid Jamik Al Mansur dipugar dan diperluas pada periode Guru Mansur. Perubahan nama masjid didasarkan untuk menghormati dan mengenang perjuangan Guru Mansur yang dilakukan pada 1967, setelah beliau wafat. Kemudian pada 1980, Masjid Jami Al Mansur ditetapkan sebagai Cagar Budaya.
3. Masjid Al-Alam MarundaMasjid Al-Alam Marunda Jakarta Utara merupakan masjid tertua di Jakarta. Pada tahun 1975, pemerintah provinsi DKI Jakarta menetapkan Masjid Al-Alam sebagai cagar budaya. Masjid Al-Alam juga dikenal dengan Masjid si Pitung, jawara Betawi dari Rawa Belong.
Mengenai sejarah pembangunan masjid, ada beberapa versi yang dapat dicocokkan dengan fakta dan data sejarah. Konon, warga sekitar Masjid Al-Alam percaya bahwa masjid tersebut dibangun oleh para wali pada abad ke 16 dengan waktu semalam.
Versi lain, masjid yang berlokasi di dekat Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) itu di bangun oleh pasukan Fatahillah yang hendak menyerbu pelabuhan Sunda Kelapa saat bersinggah di Marunda pada abad ke 16.
Selain keunikan bentuk bangunan dan versi sejarahnya, Masjid Al-Alam Marunda memiliki sumur yang terjaga sampai saat ini. Sumur tersebut terletak persis di depan bangunan utama Masjid Al-Alam yang dikenal dengan nama sumur tiga rasa.
Baca Juga: Pemerintah Rencanakan Kenaikan Harga Pertalite, Ini Kata Luhut(zhd)