LANGIT7.ID, Jakarta; - Ayat ke-35 Surat Al-Baqarah memegang peranan penting dalam kisah penciptaan manusia. Rangkaian firman ini merupakan kelanjutan langsung dari pemberitahuan Allah ﷻ kepada para malaikat mengenai rencana pengangkatan khalifah di bumi, yang disusul perintah sujud kepada Adam.
Setelah Iblis membangkang dan menolak perintah tersebut, Allah ﷻ melimpahkan kemuliaan besar kepada Adam dengan mengizinkannya menempati surga bersama Hawa. Di sana, mereka diperkenankan menikmati segala kenikmatan, namun diberikan satu batas ujian: larangan mendekati sebuah pohon tertentu.
Dalam penafsirannya, Imam al-Ṭabarī menegaskan bahwa ayat ini menjadi bukti kuat bahwa Iblis telah diusir dari surga sesaat setelah menyombongkan diri dan menolak sujud. Adam baru diperintahkan untuk menghuni surga setelah kepindahan Iblis tersebut, sebelum akhirnya peristiwa penurunan manusia ke bumi terjadi. Peristiwa ini mencatatkan titik tolak ujian pertama bagi umat manusia sekaligus memperlihatkan kemurahan dan kelembutan Allah ﷻ kepada sang khalifah pertama.
Menurut analisis Syekh al-Shanqīṭī, redaksi firman Allah ﷻ pada ayat ini menunjukkan penjelas bahwasanya Allah berkomunikasi secara langsung dengan Adam tanpa melalui perantara malaikat. Keistimewaan dialog langsung ini mirip dengan kemuliaan yang diterima oleh Nabi Musa ﷺ di kemudian hari.
Sementara itu, Imam al-Baghawī merincikan latar belakang penciptaan Hawa. Saat berada di surga, Adam belum memiliki pasangan yang sejenis darinya. Allah ﷻ kemudian membuatnya tertidur lalu menciptakan Hawa dari tulang rusuk pendek di sisi kirinya tanpa menimbulkan rasa sakit sedikit pun.
Proses penciptaan tanpa rasa sakit ini mengandung hikmah mendalam, yakni agar tercipta rasa kasih sayang dan kelembutan seorang suami terhadap istrinya. Ketika terbangun dan melihat sosok Hawa yang anggun di sampingnya, Adam bertanya mengenai identitasnya. Hawa menjawab bahwa ia diciptakan sebagai istri agar mereka saling menemukan ketenangan satu sama lain.
Silang Pendapat Terkait Lokasi Surga dan Jenis Pohon Mengenai keberadaan surga yang dihuni Adam dan Hawa, mayoritas ulama sebagaimana dikutip Ibn Katsīr berpendapat bahwa tempat tersebut berada di langit. Meskipun demikian, Imam al-Qurṭubī merekam pandangan lain dari kelompok Mu'tazilah dan Qadariyyah yang meyakini lokasi surga berada di bumi. Imam al-Ālūsī memperkuat pandangan mayoritas dengan berargumen bahwa surga keabadian (Jannat al-Khuld) bukanlah tempat pembebanan hukum (taklif), sehingga terdapat dinamika penafsiran mengenai bagaimana Iblis dapat membisikkan godaan.
Di sisi lain, terdapat pula perbedaan pendapat terkait jenis pohon terlarang yang dimaksud dalam ayat. Sejumlah riwayat ulama terdahulu yang dikutip al-Baghawī menyebutkan berbagai kemungkinan, mulai dari pohon gandum (sunbulah), anggur, tin, kapur barus, hingga pohon pengetahuan. Namun, Syekh al-Saʿdī mengambil sikap yang lebih hati-hati. Menurutnya, Allah ﷻ sengaja tidak merinci jenis pohon tersebut karena esensi utamanya bukanlah pada fisik pohonnya, melainkan pada fungsi larangan tersebut sebagai bentuk ujian ketaatan dan cobaan bagi Adam dan Hawa.
Penggunaan redaksi "jangan mendekati" (lā taqrabā) dan bukannya sekadar "jangan makan", menurut para mufasir, mengandung prinsip pencegahan (sadd al-dharā'i). Syariat Islam tidak hanya melarang tindakan maksiat itu sendiri, tetapi juga menutup rapat segala jalan dan celah yang dapat mengantarkan manusia pada pelanggaran tersebut.
Peringatan Allah bahwa pelanggaran tersebut akan membawa mereka menjadi bagian dari "orang-orang yang zalim" (al-ẓālimīn) mengindikasikan hukum larangan ini bersifat haram. Secara bahasa, zalim berarti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Ketika seseorang melanggar larangan Allah, pada hakikatnya ia sedang merusak dan menzalimi dirinya sendiri.
Rangkaian ayat ini memberikan pelajaran berharga bahwa ujian dari Allah tidak selalu hadir dalam bentuk kesulitan atau kemalangan. Sering kali, ujian datang dalam bentuk kelimpahan kenikmatan yang di dalamnya terselip satu larangan, guna menguji sejauh mana seorang hamba mampu menundukkan keinginan pribadinya demi mentaati perintah Sang Pencipta.
(zhd)