Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 26 Agustus 2026
home masjid detail berita

Bedah Tafsir Al-Baqarah 28: Dari Ketiadaan Menuju Kebangkitan

ahmad zuhdi Rabu, 26 Agustus 2026 - 09:00 WIB
Bedah Tafsir Al-Baqarah 28: Dari Ketiadaan Menuju Kebangkitan
LANGIT7.ID, Jakarta; - كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِٱللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَٰتًۭا فَأَحْيَٰكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? (QS. Al-Baqarah: 28).
Surat Al-Baqarah ayat 28 menempati posisi yang sangat strategis dalam konteks pembukaan surah. Ayat ini hadir tepat setelah pemaparan tentang perumpamaan orang-orang munafik serta pembahasan mengenai golongan yang berbuat kerusakan di muka bumi, yang menegaskan bahwa kekufuran merupakan bentuk perusakan terbesar.
Posisinya bertindak sebagai kelanjutan dari rangkaian argumen Allah ﷻ mengenai kekuasaan-Nya yang mutlak sekaligus menjadi sanggahan langsung atas kekufuran manusia. Lebih dari itu, ayat ini menjadi jembatan pengantar menuju ayat selanjutnya yang membahas penciptaan langit dan bumi, sehingga membentuk satu kesatuan argumen yang utuh dan logis mengenai kekuasaan Ilahi. Pada penggalan pertama, yaitu kaifa takfurūna billāh, Allah ﷻ menyampaikan pertanyaan retoris yang bermakna keheranan (taʿajjub), celaan (tawbīkh), dan pengingkaran (inkār). Syekh As-Sa'dī menjelaskan bahwa ayat ini mempertanyakan bagaimana mungkin kekufuran bisa terjadi dari manusia, padahal bukti-bukti keesaan Allah begitu nyata dan membentang luas.
Imam Al-Baghawī menambahkan bahwa celaan ini disampaikan setelah tegaknya berbagai dalil dan jelasnya bukti-bukti kekuasaan Allah. Sejalan dengan itu, Ibnu Katsir mengartikan bahwa ayat ini menegur mereka yang tega mengingkari keberadaan Allah atau menyembah selain-Nya.

Secara kebahasaan, Imam Al-Ālūsī memberikan catatan penting mengenai penggunaan kata kerja bentuk kini (fiʿil muḍāriʿ) pada kata takfurūna, yang mengisyaratkan sifat kekufuran yang terus diperbarui sekaligus menghindarkan celaan langsung bagi mereka yang pernah kufur namun kemudian beriman.

Penggalan berikutnya, wa kuntum amwātan fa-aḥyākum, mengingatkan manusia akan asal-usul keberadaannya. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa manusia pada awalnya berada dalam kondisi tiada (ʿadam), lalu Allah ﷻ mengeluarkan mereka menuju alam wujud. Secara lebih terperinci, Al-Baghawī menguraikan keadaan mati tersebut sebagai kondisi saat calon manusia masih berupa benih di tulang punggung para ayah, yang kemudian dihidupkan oleh Allah di dalam rahim hingga lahir ke dunia.

Penafsiran ini didukung oleh riwayat Ibnu Mas'ud dan Ibnu Abbas dalam Jāmiʿ al-Bayān karya At-Tabari, yang menegaskan bahwa frasa tadinya mati bermakna manusia dahulu bukanlah sesuatu apa pun sebelum akhirnya diciptakan oleh Allah ﷻ.

Siklus Kematian Dunia dan Kebangkitan Akhirat

Pada penggalan tsumma yumītukum tsumma yuḥyīkum, Allah ﷻ menjelaskan fase kehidupan selanjutnya. Al-Baghawī memaparkan bahwa Allah mematikan manusia ketika ajal mereka di dunia telah habis, kemudian Dia menghidupkan mereka kembali kelak pada hari kebangkitan. Ibnu Katsir menghubungkan ayat ini dengan Surah Ghafir ayat 11 mengenai pengakuan manusia yang dimatikan dua kali dan dihidupkan dua kali. Melalui sanad yang dirawat oleh At-Tabari, Ibnu Mas'ud mengonfirmasi bahwa dua fase kematian dan dua fase kehidupan yang disebutkan dalam Surah Ghafir merujuk pada hakikat yang sama sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 28 ini.
Penggalan terakhir, tsumma ilaihi turjaʿūn, menegaskan muara akhir seluruh makhluk. Al-Baghawī menafsirkan bahwa seluruh manusia akan dikembalikan kepada Allah ﷻ di akhirat untuk menerima balasan yang setimpal atas segala amal perbuatannya. Dari segi tata bahasa dan pembacaan, beliau mencatat bahwa Imam Ya'qub membaca kata turjaʿūn dengan bacaan tarjiʿūn yang berarti kalian kembali.
Imam Al-Ālūsī menjelaskan bahwa kalimat pengunci ini berdiri sebagai kalimat baru (jumlaha musta'nifah) yang menegaskan kepastian hari akhir. Sementara itu, Al-Biqa'i menambahkan bahwa penyebutan hari kebangkitan di akhir ayat berfungsi sebagai peringatan bahwa peristiwa kebangkitan memiliki tingkat kepastian dan kejelasan yang sama tingginya dengan bukti-bukti penciptaan manusia di dunia.
Kajian mendalam terhadap Surah Al-Baqarah ayat 28 menghasilkan berbagai pelajaran berharga bagi kehidupan spiritual manusia. Pertama, ayat ini menegaskan bahwa kekufuran merupakan tindakan yang sangat tidak masuk akal karena bertentangan dengan fitrah dan bukti-bukti keesaan Allah yang sangat membentang. Kedua, ayat ini merumuskan siklus hidup manusia secara urut, mulai dari ketiadaan, kehidupan dunia, kematian, kebangkitan, hingga pengembalian kepada Allah ﷻ sebagai dalil mutlak adanya hari akhir.
Ketiga, penciptaan manusia dari ketiadaan menjadi hujah paling kuat atas kekuasaan Allah yang tidak tertandingi. Keempat, adanya kepastian pengembalian diri kepada Allah mengisyaratkan pentingnya mempersiapkan diri menghadapi hari hisab. Kelima, ungkapan kalian tadinya mati memperingatkan bahwa kehidupan di dunia adalah murni karunia Allah yang wajib disyukuri dengan ketaatan. Sebagai penutup, ayat ini menunjukkan betapa fatalnya kekufuran; manusia yang awalnya bukan siapa-siapa dan dihidupkan oleh Allah justru membangkang kepada Sang Pencipta, yang oleh Syekh As-Sa'dī disimpulkan sebagai puncak kebodohan dan kerugian yang paling nyata.

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 26 Agustus 2026
Imsak
04:30
Shubuh
04:40
Dhuhur
11:58
Ashar
15:17
Maghrib
17:57
Isya
19:06
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan