LANGIT7.ID-Makkah pada tahun kesepuluh kenabian bukan sekadar kota yang gersang secara geografis, melainkan juga secara politik dan emosional bagi Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Baru saja menghirup udara kebebasan setelah tiga tahun terhimpit boikot di lembah Syi’ib, sang Nabi justru dihadapkan pada rentetan duka yang melumpuhkan. Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad dalam
as-Siratun Nabawiyatu fi Dhau-il Mashadiril Ashliyyah menggambarkan periode ini sebagai fase transisi paling krusial, di mana kekuatan eksternal dan internal penopang dakwah rontok satu per satu.
Kesedihan itu dimulai saat Abu Thalib, sang paman yang menjadi tameng politik di hadapan elit Quraisy, jatuh sakit. Di ambang maut, sebuah drama teologis terjadi. Rasulullah membisikkan kalimat tauhid, namun Abu Jahl dan sekutunya berdiri di sisi lain, memagari fanatisme kesukuan sang paman. Kalimat La ilaha illallah kalah oleh bayang-bayang harga diri klan. Abu Thalib wafat di atas agama leluhurnya.
Kematian Abu Thalib adalah lonceng pembuka bagi eskalasi kekerasan. Tanpa perlindungan klan yang disegani, Nabi Muhammad menjadi sasaran empuk perundungan fisik dan mental. Namun, pukulan telak sesungguhnya datang tiga hari kemudian—ada pula yang menyebut satu hingga dua bulan setelahnya. Khadijah binti Khuwailid, sang istri yang memberikan segenap harta dan kenyamanannya untuk dakwah, menghembuskan napas terakhir.
Secara psikologis, kehilangan beruntun ini sangat membekas. Sebagian sejarawan melabeli periode ini sebagai Amul Huzni atau Tahun Kesedihan. Namun, Dr. Mahdi Rizqullah memberikan interpretasi menarik: kesedihan Nabi bukan semata karena romantisme ditinggal orang tercinta, melainkan kekhawatiran mendalam akan nasib dakwah. Tanpa dua pilar ini, kaum musyrikin semakin berani berupaya mematikan cahaya al-haq. Allah menegaskan batasan kasih sayang manusiawi melalui surat Al-Qashash ayat 56:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَSesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.
Namun, di sinilah letak keunikan karakter Nabi Muhammad. Alih-alih tenggelam dalam depresi yang melumpuhkan, beliau justru melakukan apa yang disebut psikologi modern sebagai
resilience atau ketangguhan mental. Beliau memutus masa kesedihannya dengan tindakan nyata: melindungi orang lain yang lebih lemah.
Pernikahan beliau dengan Saudah binti Zam'ah pada bulan Syawwal tahun kesepuluh tersebut adalah manifestasi dari empati di tengah duka. Saudah adalah seorang janda muhajirah yang suaminya, Sakran bin Amr, meninggal dunia setelah kembali dari pengasingan di Habasyah. Tanpa perlindungan, Saudah terancam oleh keluarganya sendiri yang dikenal sangat keras memusuhi Islam.
Maka, pernikahan ini bukan didasari motif biologis atau keinginan duniawi. Dalam perspektif sosiologis sejarah, ini adalah "
marriage of protection". Rasulullah mengambil beban penderitaan Saudah ke dalam rumah tangganya sendiri. Saudah pun membalas kebaikan itu dengan keluhuran budi. Saat usianya kian senja, ia merelakan malam gilirannya untuk Aisyah radhiyallahu anha demi menjaga keutuhan rumah tangga bersama Nabi. Sikap diplomatis dan penuh perdamaian ini pun diabadikan Allah dalam surat An-Nisa ayat 128:
فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًاMaka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya.Kisah dari Sirah Nabawiyah ini memberikan pelajaran penting bagi pembaca modern tentang cara mengelola kedukaan. Rasulullah tidak membiarkan diri terbelenggu oleh Tahun Kesedihan. Beliau memvalidasi perasaannya, namun tetap menjaga fungsionalitas sosialnya. Dengan menikahi Saudah, beliau tidak hanya memberikan keamanan bagi seorang wanita yang terancam, tetapi juga menyembuhkan luka batinnya sendiri melalui dedikasi pada misi yang lebih besar.
Kesimpulannya, Tahun Kesedihan berakhir bukan karena waktu yang menghapus kenangan, melainkan karena aktivitas membantu sesama yang menggantikan kehampaan. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam membuktikan bahwa jalan tercepat untuk keluar dari lembah duka pribadi adalah dengan menjadi jembatan bagi kebahagiaan orang lain. Di tengah himpitan Quraisy yang kian beringas, langkah-langkah kemanusiaan ini justru menjadi energi baru bagi keberlangsungan dakwah Islam di masa depan.
(mif)