Sistem ekonomi kapitalistik yang bertumpu pada bunga atau riba terus memicu ketimpangan distribusi kekayaan dunia. Sistem alternatif yang mengintegrasikan nilai moral dan rohani menawarkan penghapusan eksploitasi melalui skema bagi hasil.
Stabilitas sebuah negara berkelindan erat dengan kapasitas intelektual dan moralitas pemimpinnya. Syariat Islam meletakkan keadilan, kemandirian ijtihad, dan akuntabilitas mutlak sebagai pilar penahan agar manusia tidak saling memangsa di ruang publik.
Asumsi gugurnya kewajiban syariat bagi individu yang mengklaim tingkat makrifat tertinggi dinilai sebagai anarki teologis. Doktrin hukum Islam menegaskan ikatan ibadah hanya dapat diputus oleh kematian.
Analisis teks sejarah dan data sosiologi perilaku membuktikan bahwa kegagalan integritas publik, seperti skandal korupsi, berakar dari runtuhnya moralitas berbasis iman yang digantikan kalkulasi untung-rugi.
Analisis teks sejarah dan data filantropi membuktikan bahwa Al-Quran memuat doktrin komprehensif yang mendorong kebaikan sosial sekaligus melarang perilaku koruptif tanpa kompromi.
Studi sosiologi Islam dan data kesejahteraan membuktikan bahwa pembangunan fasilitas publik yang didasari rasa syukur transendental menghasilkan kebahagiaan universal yang melampaui konsep materialisme.
Kesalehan dalam teologi Islam diukur melalui kepatuhan terhadap anatomi aturan yang baku. Pelanggaran terhadap salah satu dari enam variabel pokok akan menggugurkan seluruh keabsahan ritual.
Kesaksian lisan terhadap kenabian membawa konsekuensi yuridis yang mengikat secara formal. Parameter teologi Islam menetapkan kesesuaian prosedur ritual dengan preseden rasul sebagai syarat mutlak penerimaan amal.
Persamaan derajat manusia di hadapan Allah dalam ritual ibadah merupakan motor utama penggerak persaudaraan yang sejati. Konsep teosentris ini meruntuhkan sekat materialisme sosial sekaligus membebaskan jiwa dari hambatan fisik melalui latihan spiritual yang disiplin.
Tuduhan para orientalis mengenai adanya kontradiksi dalam siasat Nabi Muhammad terhadap kaum Nasrani dinilai tidak berdasar. Di balik ketegasan politik Surah At-Taubah, esensi ketauhidan Islam tidak pernah bergeser sejak awal risalah.
Lebih dari tiga milenial lalu, Ibrahim as. mengumandangkan syariat haji sebagai manifesto kesetaraan. Sempat terdistorsi oleh ego kelompok, Muhammad saw. hadir mengembalikan ruh haji pada nilai kemanusiaan universal.
Jejak Ibrahim bukan sekadar tumpukan batu di Ka'bah. Ia adalah manifesto kemanusiaan universal dan monoteisme murni yang meruntuhkan sekat-sekat kasta di hadapan Sang Pencipta.
Di tengah hingar-bingar kehidupan yang fana, Islam menyeru umatnya untuk berlomba dalam kebaikan. Melalui jejak sahabat Nabi, semangat fastabiqul khairat menjadi kompas moral dan spiritual.