Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 01 Mei 2026
home masjid detail berita

Di Balik Medan Perang: Jejak Perempuan dalam Angkatan Bersenjata

miftah yusufpati Kamis, 18 September 2025 - 05:45 WIB
Di Balik Medan Perang: Jejak Perempuan dalam Angkatan Bersenjata
Sejarah mencatat, perempuan tak hanya jadi penonton perang. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di sebuah riwayat yang dituturkan Imam Bukhari, Ruba’i binti Mu’awwidz mengenang pengalamannya. “Kami pernah ikut berperang bersama Rasulullah saw. Kami bertugas memberi minum pasukan dan melayani mereka serta memulangkan orang-orang yang terbunuh dan terluka ke Madinah.” Suaranya, yang dikutip dalam hadis, menyingkap peran perempuan di medan jihad yang kerap terhapus dalam narasi besar sejarah.

Bagi banyak orang, keterlibatan perempuan di medan perang mungkin terdengar asing—atau bahkan aneh—terutama jika dihubungkan dengan gagasan “kodrat”. Namun sejarah Islam menunjukkan perempuan tidak absen dari gelanggang pertempuran. Mereka hadir, meski bukan sebagai pemegang pedang, melainkan penguat logistik, kesehatan, dan transportasi.

Narasi klasik sering menekankan bahwa perempuan lebih cocok ditempatkan di wilayah domestik. Tetapi para sejarawan kontemporer menilai, pembacaan tunggal tentang “kodrat” bisa menutup peran nyata perempuan dalam sejarah militer. Laila Ahmed dalam Women and Gender in Islam (1992) menulis bahwa hadis-hadis tentang keikutsertaan perempuan dalam perang menunjukkan adanya fleksibilitas gender pada masa Nabi—suatu kelonggaran yang kemudian dipersempit oleh tafsir hukum yang lahir di abad-abad setelahnya.

Baca juga: Perempuan di Panggung Politik Islam: Dari Hijrah hingga Kritik Kekuasaan

Konteks ini terasa dalam kesaksian Ummu ‘Athiyyah al-Anshariyyah. Dalam riwayat Muslim ia berkata: “Aku ikut berperang bersama Rasulullah sebanyak tujuh kali peperangan. Aku selalu ditempatkan di bagian belakang pasukan. Akulah yang membuatkan makanan untuk mereka, mengobati yang luka-luka, dan membantu yang sakit.” Narasi itu menegaskan bahwa peran perempuan bukan sekadar tambahan, melainkan bagian dari strategi perang yang sistematis: logistik, perawatan medis, hingga evakuasi korban.

Perempuan sebagai “Tentara Bayangan”

Dalam analisis sejarawan Leila al-Imad dalam War and Faith in Sudan (1992), kehadiran perempuan di garis belakang ibarat “tentara bayangan”—keberadaannya menentukan daya tahan pasukan, meski tidak tercatat dalam struktur formal militer. Situasi serupa ditemukan dalam sejarah modern. Selama Perang Dunia II, perempuan Inggris dan Amerika ditempatkan di auxiliary corps, menangani konsumsi, perawatan medis, hingga komunikasi. Fungsinya tak berbeda jauh dengan yang dilakukan Ruba’i atau Ummu ‘Athiyyah di jazirah Arab 14 abad silam.

Keterlibatan semacam ini bukan pelanggaran kodrat, melainkan ekspresi kodrat itu sendiri—menyulam peran reproduktif menjadi kekuatan produktif dalam pertahanan. Seperti dicatat Asghar Ali Engineer dalam Islam, Women and Gender Justice (2004), apa yang disebut “kodrat” sebetulnya lebih merupakan hasil konstruksi sosial yang lentur, bukan garis kaku yang membatasi peran perempuan.

Baca juga: Jejak Perempuan dalam Pelayanan Sosial: Dari Madinah ke Jakarta

Pertanyaan pentingnya: apakah riwayat-riwayat ini masih relevan? Jawabannya mungkin “ya”, tetapi dengan tafsir baru. Di banyak negara Muslim modern, perempuan kini masuk ke angkatan bersenjata bukan hanya sebagai perawat, tapi juga dokter militer, pilot transportasi, bahkan komandan unit medis. Di Indonesia, sejak berdirinya Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) tahun 1963, kiprah perempuan di militer tetap mengacu pada “peran kodrati” mereka—kesehatan, konsumsi, dan pendidikan—namun juga mulai merambah fungsi strategis lain.

Tempo dulu, Ruba’i dan Ummu ‘Athiyyah hanya dicatat sebagai pelengkap dalam sirah nabawiyah. Tetapi hari ini, narasi itu bisa dibaca ulang sebagai inspirasi: bahwa “perempuan dalam perang” bukan sekadar catatan pinggiran, melainkan denyut utama yang menjaga pasukan tetap hidup. Sejarah memperlihatkan, di balik derap pedang, selalu ada tangan-tangan perempuan yang menyuapi, merawat, dan menghidupkan kembali harapan.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 01 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:50
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)