Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 14 Januari 2026
home masjid detail berita

Ketika Al-Ghazali Menyindir Orang Saleh yang Lupa Fakir Miskin

miftah yusufpati Kamis, 18 September 2025 - 16:15 WIB
Ketika Al-Ghazali Menyindir Orang Saleh yang Lupa Fakir Miskin
Imam al-Ghazali bilang memberi makan orang lapar lebih utama daripada berpuasa panjang. Sebuah kritik sosial yang terasa segar hingga kini. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di tengah riuh kehidupan religius abad ke-11, Abu Hamid al-Ghazali berdiri sebagai ulama yang berani memotret wajah umatnya. Dalam karya monumentalnya Ihya’ ‘Ulum al-Din, ia tidak sekadar mengajarkan doa, puasa, atau ibadah malam, melainkan juga mengajukan pertanyaan yang menusuk: benarkah semua itu mendekatkan kita kepada Allah, atau justru menipu diri sendiri?

Bagi al-Ghazali, inti agama bukanlah kuantitas ibadah, tetapi kualitas niat dan kebermanfaatannya. Konsep ini kelak dikenal sebagai fiqh al-awlawiyat—fikih prioritas. Ia menuntut umat Islam menimbang mana amal yang lebih mendesak, lebih bermanfaat, dan lebih berdampak sosial.

Dalam Dzamm al-Ghurur, bagian dari al-Muhlikat, al-Ghazali menulis kritik pedas kepada kelompok kaya yang tekun puasa dan salat malam, tetapi enggan mengeluarkan zakat atau memberi makan fakir miskin. Baginya, orang semacam itu ibarat “seseorang yang bajunya dimasuki ular berbisa, tapi sibuk meracik jamu untuk penyakit kuningnya.”

Baca juga: Fikih Prioritas: Mendidik Sebelum Mengangkat Senjata

Kritik yang Tak Lekang Zaman

Sejarawan Marshall Hodgson dalam The Venture of Islam (1974) menilai al-Ghazali sebagai intelektual yang berhasil mengikatkan dimensi spiritual ke dalam kehidupan sosial. Kritiknya terhadap orang kaya yang lalai bersedekah, misalnya, merupakan upaya menyeimbangkan syariat dengan realitas sosial.

Syaikh Yusuf al-Qardhawi dalam Fiqh Prioritas (1996) menyebut ajaran al-Ghazali relevan hingga kini. Umat kerap terjebak pada ibadah seremonial, sementara melupakan kewajiban sosial yang lebih mendesak, seperti mengentaskan kemiskinan, memberantas kebodohan, dan menegakkan keadilan.

Dari Ihya’ ke Dunia Modern

Psikolog sosial Jonathan Haidt dalam The Righteous Mind (2012) menjelaskan bahwa manusia cenderung mencari legitimasi moral untuk perilaku yang menyenangkan dirinya. Kritik al-Ghazali seakan mengantisipasi kecenderungan itu: manusia bisa menutupi sifat bakhil dengan ibadah yang “tampak suci”.

Fenomena serupa hadir dalam masyarakat modern. Laporan Oxfam (2022) menunjukkan jurang kesenjangan global makin menganga, sementara sebagian elite dunia justru mengisi ruang publik dengan aksi filantropi simbolis ketimbang redistribusi kekayaan yang nyata.

Baca juga: Makruh: Antara Larangan dan Adab dalam Fikih Islam

Al-Ghazali bukan sedang meremehkan puasa atau salat malam. Ia hanya mengingatkan skala prioritas. Dalam pandangannya, menyelamatkan sesama dari kelaparan lebih utama daripada melaparkan diri sendiri. Itulah “zuhud yang aktif”, bukan sekadar asketisme yang menjauh dari dunia.

Lebih dari sembilan abad setelah wafatnya, kritik al-Ghazali masih terdengar segar. Bahwa kesalehan sejati tidak terletak pada ibadah individual semata, melainkan pada keberanian menempatkan prioritas di tempat yang benar—antara ritual dan kemanusiaan, antara diri dan sesama.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 14 Januari 2026
Imsak
04:17
Shubuh
04:27
Dhuhur
12:05
Ashar
15:29
Maghrib
18:18
Isya
19:32
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan