Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 03 Februari 2026
home masjid detail berita

Meniti Rambut Dibelah Tujuh: Anatomi Shirath dalam Eskatologi Islam

miftah yusufpati Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:45 WIB
Meniti Rambut Dibelah Tujuh: Anatomi Shirath dalam Eskatologi Islam
Meskipun shirath begitu halus dan tajam, Allah Maha Kuasa untuk menjadikan hamba-Nya mampu berjalan di atasnya. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Dalam khazanah eskatologi Islam, perjalanan menuju keabadian bukanlah sebuah jalan tol yang mulus. Setelah melewati berbagai fase pengadilan di hari kiamat, manusia harus menghadapi etape paling fisik sekaligus metafisik: melintasi shirath. Jika dibayangkan dalam nalar manusia, shirath menyerupai sebuah infrastruktur yang mustahil untuk ditaklukkan. Narasi yang berkembang di kalangan ulama Ahlus Sunnah, bersandar pada riwayat-riwayat kuat, menggambarkan shirath bukan sekadar jembatan, melainkan sebuah instrumen ujian yang memiliki anatomi mengerikan.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam riwayat Bukhari memberikan deskripsi yang membuat para sahabat kala itu terpaku dalam kecemasan. Shirath digambarkan sebagai sesuatu yang licin dan menggelincirkan. Frasa menggelincirkan di sini, menurut para pakar hukum Islam, mengandung makna yang sangat dinamis: jembatan itu tidak diam. Ia bergerak ke kanan dan ke kiri, menciptakan turbulensi luar biasa bagi siapa pun yang mencoba memijakkan kaki di atasnya.

Kengerian tidak berhenti pada permukaannya yang tidak stabil. Di sepanjang titian tersebut, terdapat kalalib atau besi-besi pengait yang ujungnya bengkok. Rasulullah menganalogikannya dengan duri pohon Sadan yang tumbuh di Nejd. Namun, ada satu pembeda krusial yang disebutkan beliau:

غَيْرَ أَنَّهَا لَا يَعْلَمُ قَدْرَ عِظَمِهَا إِلَّا اللَّه

Tiada yang mengetahui ukuran besarnya kecuali Allah.

Pengait-pengait raksasa ini memiliki kecerdasan teologis; ia tidak menyambar secara acak, melainkan mencangkok manusia sesuai dengan kadar amalan mereka.

Diskusi di kalangan ulama mengenai bentuk shirath juga menyentuh aspek yang melampaui logika material. Berdasarkan kabar yang disampaikan Abu Said Radhiyallahu anhu, shirath memiliki sifat yang sangat ekstrem: lebih halus daripada rambut dan lebih tajam daripada pedang. Penjelasan ini memiliki kaitan logis dalam ilmu fisika iman; sesuatu yang begitu halus namun tidak bisa putus secara otomatis akan memiliki ketajaman yang mampu membelah telapak kaki orang yang melewatinya.

Namun, yang paling krusial dari interpretasi mengenai shirath adalah variabel penentunya. Terpeleset atau tidak, tersambar pengait atau selamat, sama sekali tidak ditentukan oleh ketangkasan fisik atau keseimbangan atletis manusia. Semua itu murni ditentukan oleh kualitas keimanan. Shirath adalah cermin dari cara hidup seseorang di dunia. Barang siapa yang di dunia senantiasa berjalan di atas shirathal mustaqim (jalan lurus syariat), maka ia akan menemukan shirath di akhirat sebagai jalan yang bisa dilewati.

Pernyataan para Rasul saat itu, sebagaimana terekam dalam hadits Bukhari, hanyalah satu kalimat permohonan yang mencekam:

اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ

Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah.

Kalimat ini menunjukkan bahwa di atas titian tersebut, bahkan para utusan Tuhan pun merasa gemetar melihat dahsyatnya kondisi jembatan yang membujur di atas kawah neraka Jahannam itu.

Secara interpretatif, shirath adalah visualisasi dari sulitnya mempertahankan prinsip kebenaran. Ia sangat halus sehingga sulit dilihat, menunjukkan bahwa kebenaran terkadang samar. Ia sangat tajam, melambangkan bahwa meniti kebenaran sering kali menyakitkan. Dan ia sangat panas karena berada di atas bara api, menggambarkan godaan dunia yang membakar.

Namun, di balik semua kengerian itu, ada pesan tentang kekuasaan mutlak Allah. Meskipun shirath begitu halus dan tajam, Allah Maha Kuasa untuk menjadikan hamba-Nya mampu berjalan di atasnya. Kecepatan dan kemudahan manusia saat melintasinya akan sangat bergantung pada seberapa terang cahaya amal yang mereka bawa. Bagi sang pencari kebenaran, shirath adalah gerbang terakhir menuju surga, sebuah rintangan terakhir yang harus dilalui dengan membawa seluruh sisa harapan dan iman yang telah dipupuk selama hidup di dunia.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 03 Februari 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
12:10
Ashar
15:28
Maghrib
18:20
Isya
19:32
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan