Iman kepada shirth membuktikan bahwa amal adalah bagian tak terpisahkan dari iman. Renungan Imam al-Qurthubi mengajak kita mempercepat langkah dalam kebaikan demi keselamatan di atas Jahannam.
Kaum Mutazilah menolak shirth hakiki karena dianggap tidak logis. Para ulama membantahnya dengan menegaskan bahwa kekuasaan Allah melampaui hukum fisika dunia dan hukum akal yang terbatas.
Kecepatan manusia meniti shirth mencerminkan kecepatan mereka dalam beramal di dunia. Dari yang secepat kilat hingga yang merangkak, semua bergantung pada cahaya iman dan amanah yang dibawa.
Shirath digambarkan lebih halus dari rambut dan lebih tajam dari pedang. Di atas neraka Jahannam, jembatan ini menjadi ujian fisik terakhir yang hanya bisa dilewati dengan cahaya iman dan amal.
Mengimani shirath bukan sekadar meyakini adanya jembatan, melainkan menyadari kedahsyatan ujian di atas neraka. Akumulasi amal di dunia akan menjadi penentu kecepatan setiap hamba menuju surga.
Di tengah pergeseran gaya hidup urban yang cenderung instandari donasi sekali klik hingga bantuan musimangagasan shadaqah jariyah mengajak umat menanam amal yang berjangka panjang.
Kepemimpinan dalam Islam, sebagaimana dipahami para ulama klasik, bukan sekadar jabatan administratif. Ia adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Cinta yang sejati juga diuji dengan ujian ketiga: apakah dzikir, ingatan pada Allah, secara alami terus segar dalam hati? Orang yang mencintai akan terus mengingat, bahkan saat yang diingat itu jauh.
Inti dari kehidupan akhirat adalah perjumpaan dengan Allah, ibarat seseorang yang akhirnya berhasil meraih sesuatu yang sejak lama ia dambakan, setelah melewati rintangan yang tak terhitung.
Khalifah Umar bin Khattab pernah berkata, Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab. Bagi Al-Ghazali dan para wali sesudahnya, pernyataan ini bukan retorika moral, tetapi sebuah disiplin harian.
Dunia ini adalah sebuah panggung atau pasar yang disinggahi oleh para musafir di tengah perjalannya ke tempat lain. Di sinilah mereka membekali diri dengan berbagai perbekalan untuk perjalanan itu.
Kemah-kemah para perusak sangat menyenangkan. Mereka yang mendurhakai Tuhan (tampak) tenang. Ini semua dilihat oleh mataku, didengar oleh telingaku dan kuketahui sepenahnya.