LANGIT7.ID-Menurut
Imam Al-Ghazali, siapa pun yang berkhayal dapat meraih kebahagiaan di akhirat tanpa mencintai Allah, sungguh telah jauh tersesat. Sebab inti dari kehidupan akhirat adalah perjumpaan dengan Allah, ibarat seseorang yang akhirnya berhasil meraih sesuatu yang sejak lama ia dambakan, setelah melewati rintangan yang tak terhitung.
Kebahagiaan itu sendiri adalah kenikmatan berada bersama Allah.
Jika seseorang di dunia tidak merasakan kenikmatan mencintai Allah, maka di akhirat ia pun tidak akan bergembira ketika berjumpa dengan-Nya. Dan jika cintanya di dunia sangat kecil, maka kebahagiaannya di akhirat pun hanya sebesar itu.
Sebaliknya —
na‘ūdzu billāh — bila hati seseorang lebih mencintai sesuatu yang bertentangan dengan Allah, maka kehidupan akhirat akan terasa asing dan menyakitkan baginya. Apa yang menjadi kebahagiaan bagi para pecinta Allah justru menjadi kesedihan baginya.
Baca juga: Kimia Kebahagiaan Imam Al-Ghazali: Tirai yang Menyelubungi Allah Al-Ghazali menggambarkan hal ini lewat sebuah anekdot:
Ada seorang pemakan bangkai yang pingsan ketika mencium aroma wangi-wangian di pasar. Orang-orang mencoba menyadarkannya dengan minyak misyk dan air mawar, tetapi ia justru semakin menderita. Hingga datang seseorang lain — juga pemakan bangkai — yang mendekatkan sampah busuk ke hidungnya. Sontak ia siuman dan berkata puas, “Nah, inilah aroma yang sesungguhnya!”
Demikianlah kelak di akhirat: seseorang yang hidupnya hanya menyukai kesenangan-kesenangan cabul duniawi, tak akan dapat menikmati kebahagiaan ruhani yang merupakan pancaran keindahan Allah.
Karena itu, semua kezuhudan, ibadah, dan pengkajian yang kita lakukan di dunia ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Allah, karena itulah inti kebahagiaan. Sebagaimana firman Allah:
"Orang yang telah menyucikan jiwanya akan berbahagia."
Sebaliknya, dosa dan syahwat justru mengotori jiwa sehingga terhalang dari kebahagiaan ini: "Dan orang yang mengotori jiwanya akan merugi."
Baca juga: Imam Al-Ghazali: Melihat Wajah-Nya, Kebahagiaan yang Terlupakan Orang-orang yang diberi wawasan rohani sudah merasakan kebenaran ini sebagai kenyataan pengalaman, bukan sekadar pepatah. Keyakinan mereka kepada para nabi tidak lagi bergantung pada mukjizat lahiriah, karena mereka sudah memahami kebenaran yang disampaikan para nabi dari dalam diri mereka sendiri — sebagaimana seorang dokter mengenali ilmu kedokteran ketika mendengar orang lain berbicara tentang penyakit dan obat.
(mif)