Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 24 Januari 2026
home masjid detail berita

Mengubah Sedekah Menjadi Investasi Pahala Tanpa Batas Waktu

miftah yusufpati Selasa, 12 Agustus 2025 - 16:26 WIB
Mengubah Sedekah Menjadi Investasi Pahala Tanpa Batas Waktu
Bukan sekadar memadamkan lapar sesaat, tetapi membangun mata air yang tak kering, bahkan setelah tangan yang menuangnya telah terkubur. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di sebuah masjid kecil di pinggiran Jakarta, seorang dermawan diam-diam menyerahkan sepasang kambing bunting kepada seorang petani. Tak ada publikasi, tak ada foto seremonial. “Biar yang memotret hanya malaikat,” katanya sambil tersenyum.

Bagi sebagian orang, memberi kambing mungkin tampak sederhana. Namun dalam kacamata fiqh, pemberian seperti itu justru masuk kategori derma paling utama—shadaqah jariyah. Yusuf al-Qardhawi, ulama asal Mesir, dalam Fiqh Prioritas (Robbani Press, 1996) menekankan bahwa pekerjaan yang manfaatnya lebih luas dan tahan lama “lebih dicintai Allah dan Rasul-Nya” ketimbang amal yang habis sekali pakai.

Ia memberi contoh: seekor domba atau unta yang sedang bunting. Hewan itu bukan sekadar harta, tapi sumber keberlangsungan hidup: susu, anak yang lahir, dan keuntungan dari hasil ternak. Pepatah Tiongkok bahkan lebih lugas: “Memberi jala untuk mencari ikan lebih baik daripada memberi ikan.”

Pandangan ini bersandar pada sejumlah riwayat. Dalam satu hadis, Nabi Muhammad bersabda, “Shadaqah yang paling utama ialah memberikan tenda, atau seorang pembantu, atau seekor unta untuk perjuangan di jalan Allah” (HR Ahmad, Tirmidzi dari Abu Umamah; Shahih al-Jami’ as-Shaghir, no. 1109). Riwayat lain mencatat: “Empat puluh sifat, yang paling tinggi ialah memberikan kambing…” (HR Bukhari, Abu Dawud dari Abdullah bin Amr, no. 791).

Baca juga: Punya Bisnis Omzet Jutaan Dollar, Zakir Naik Sisihkan 51% Keuntungan untuk Sedekah

Konsep ini, kata Qardhawi, menjelaskan mengapa Islam mengenal wakaf sejak masa Nabi. Dari masjid hingga rumah singgah musafir, dari kanal air hingga mushaf Al-Qur’an yang diwariskan, semuanya adalah bentuk investasi amal yang terus “menghasilkan” pahala walau pemiliknya sudah tiada. Dalam hadis sahih yang populer disebutkan, “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak shaleh yang mendoakannya” (HR Muslim, Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad).

Lebih rinci, sebuah hadis riwayat Ibn Majah dan Baihaqi (isnad hasan) yang dikutip al-Hafizh al-Mundiri, menyebut tujuh amal yang pahalanya terus mengalir: ilmu yang diajarkan, anak shaleh, mushaf yang diwariskan, masjid yang dibangun, rumah singgah musafir, saluran air, dan shadaqah yang diberikan saat sehat dan masih hidup.

Bagi Qardhawi, inilah “perpanjangan umur” yang dianugerahkan Allah. Seseorang bisa saja berpulang pada usia 50 tahun, namun amalnya membuat ia “tetap hidup” seratus tahun setelahnya. Syair Ahmad Syauqi, penyair Mesir, menangkap esensi ini:

“Degup jantung berkata kepadamu: hidup hanyalah menit dan detik.
Buatlah kenangan yang membuat namamu terus diingat setelah kematian.
Sebab kenangan adalah umur yang kedua bagi manusia.”

Baca juga: Sedekah Terbaik Dimulai dari Keluarga Sendiri, Kata Buya Yahya

Di tengah pergeseran gaya hidup urban yang cenderung instan—dari donasi sekali klik hingga bantuan musiman—gagasan shadaqah jariyah mengajak umat menanam amal yang berjangka panjang. Bukan sekadar memadamkan lapar sesaat, tetapi membangun mata air yang tak kering, bahkan setelah tangan yang menuangnya telah terkubur.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 24 Januari 2026
Imsak
04:22
Shubuh
04:32
Dhuhur
12:08
Ashar
15:30
Maghrib
18:20
Isya
19:33
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan