Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 04 Mei 2026
home masjid detail berita

Menakar Kemegahan Akhirat Melampaui Batas Dunia

miftah yusufpati Senin, 04 Mei 2026 - 05:56 WIB
Menakar Kemegahan Akhirat Melampaui Batas Dunia
Kisah penghuni surga yang paling akhir ini mengajarkan kita tentang harapan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Apa yang sebenarnya menanti manusia setelah kehidupan yang singkat ini berakhir? Dalam sebuah riwayat yang sangat terkenal dan dicatat oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya, Rasulullah menceritakan kisah yang penuh dengan nuansa keajaiban dan rahmat Tuhan. Kisah ini adalah sebuah interpretasi mendalam mengenai keutamaan akhirat yang jauh melampaui segala kenikmatan yang pernah ada di muka bumi.

Berikut adalah teks hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu anhu:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي َلأَ عْلَمُ آخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنْهَا وَآخِرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُولاً الْجَنَّةَ رَجُلٌ يَخْرُجُ مِنْ النَّارِ حَبْوًا فَيَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلْ الْجَنَّةَ فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلْأَى فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلْأَى فَيَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلْ الْجَنَّةَ قَالَ فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلْأَى فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلْأَى فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلْ الْجَنَّةَ فَإِنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا وَعَشَرَةَ أَمْثَالِهَا أَوْ إِنَّ لَكَ عَشَرَةَ أَمْثَالِ الدُّنْيَا قَالَ فَيَقُولُ أَتَسْخَرُبِي أَوْ أَتَضْحَكُ بِي وَأَنْتَ الْمَلِكُ قَالَ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ قَالَ فَكَانَ يُقَالُ ذَاكَ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً

Terjemahan dari hadis tersebut adalah sebagai berikut. Dari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Aku benar-benar mengetahui seorang penduduk neraka yang paling akhir keluar darinya dan seorang penduduk surga yang paling akhir masuk ke dalam surga. Yaitu seorang laki-laki yang keluar dari neraka dengan keadaan merangkak, lalu Allah berkata kepadanya, Pergilah, masuklah ke dalam surga."

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Lalu dia mendatangi surga, namun dikhayalkan kepadanya bahwa surga telah penuh. Maka dia kembali lalu berkata, Wahai Rabbku, aku mendapati surga telah penuh. Allah Azza wa Jalla berkata kepadanya, Pergilah, masuklah ke dalam surga."

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Lalu dia mendatangi surga, namun dikhayalkan kepadanya bahwa surga telah penuh. Maka dia kembali lalu berkata, Wahai Rabbku, aku mendapati surga telah penuh."

Allah Azza wa Jalla berkata lagi kepadanya, "Pergilah, masuklah ke dalam surga! Sesungguhnya engkau memiliki semisal dunia dan sepuluh kalinya, atau engkau memiliki sepuluh kali dunia." Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Laki-laki itu berkata, Apakah Engkau memperolok-olok aku (atau Engkau menertawakan aku) padahal Engkau adalah Raja?" Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu anhu berkata, "Aku melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tertawa sampai nampak gigi gerahamnya." Dan dikatakan bahwa orang itu adalah penduduk surga yang paling rendah derajatnya. (HR. Muslim, no. 308/186).

Hadis di atas memuat lapisan makna yang sangat dalam bagi kehidupan seorang mukmin. Imam An-Nawawi, dalam kitab Syarh Shahih Muslim, menjelaskan bahwa tawa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam hadis ini adalah bentuk keheranan dan kekaguman terhadap kemurahan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Orang yang menjadi penghuni surga paling akhir dan berstatus paling rendah itu mendapatkan karunia yang begitu luar biasa, yakni sepuluh kali lipat dari luas dan kenikmatan dunia. Jika kenikmatan satu dunia saja sudah membuat manusia lalai dan saling berebut, bagaimana dengan sepuluh kali lipat darinya yang abadi di akhirat?

Dalam literatur tafsir Al-Qur'an, Allah Subhanahu wa Ta'ala juga telah lama memberikan peringatan keras mengenai perbandingan antara dunia dan akhirat. Allah berfirman dalam Surat Al-A'la ayat 16 sampai 17. Ayat ini menjelaskan bahwa manusia sering kali lebih memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu jauh lebih baik dan lebih kekal. Ayat ini tidak bermaksud untuk mengharamkan dunia secara total, melainkan mendudukkan dunia pada porsi yang sebenarnya. Dunia adalah jembatan, sementara akhirat adalah tujuan akhir yang kekal abadi.

Hal ini sejalan dengan pandangan yang diuraikan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab monumental beliau, Ihya Ulum al-Din. Beliau menegaskan bahwa penyakit terbesar umat manusia adalah tertipu oleh dunia atau yang dikenal dengan istilah gurur. Dunia sering kali menampakkan keindahan yang semu sehingga membuat manusia lupa akan kampung halamannya yang hakiki, yakni akhirat. Menurut Al-Ghazali, manusia yang bijaksana adalah mereka yang menggunakan dunia sebagai ladang untuk menanam kebaikan demi memanen hasilnya di akhirat kelak.

Dari perspektif sosiologis dan psikologis, pengejaran terhadap dunia yang tanpa henti sering kali memicu krisis eksistensial. Dalam karya ilmiah yang ditulis oleh Yusuf Al-Qaradawi dalam bukunya yang berjudul Al-Ibadah fil Islam, beliau menyatakan bahwa ibadah dan orientasi akhirat mampu memberikan ketenangan jiwa yang tidak akan pernah ditemukan dalam materi semata. Ketika seseorang memiliki visi akhirat yang jelas, ia akan terbebas dari kecemasan berlebihan dan keserakahan yang merusak tatanan sosial masyarakat.

Kisah dalam hadis riwayat Muslim tersebut seakan menjadi antitesis terhadap budaya hedonisme yang melanda dunia modern. Saat manusia merasa dunia ini adalah segalanya, hadis ini mengingatkan bahwa dunia hanyalah sebagian kecil dari kemurahan Allah. Seseorang yang merasa dirinya tidak memiliki apa-apa, bahkan harus merangkak keluar dari neraka, pada akhirnya diberikan kerajaan yang sangat luas di surga. Ini menunjukkan bahwa keadilan dan rahmat Allah melampaui batas-batas kalkulasi manusia yang terbatas.

Para ulama tafsir kontemporer juga memberikan catatan penting mengenai persepsi kita tentang kemuliaan. Dalam Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab, dijelaskan bahwa konsep akhirat dalam Islam mengajarkan kita untuk tidak mengukur kesuksesan hanya dari apa yang tampak di dunia. Kesuksesan sejati adalah keselamatan dan derajat yang diberikan oleh Allah di akhirat. Apa yang terlihat sebagai penderitaan atau kekurangan di dunia bisa jadi merupakan ujian yang akan meninggikan derajat seseorang di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Refleksi ini membawa kita pada sebuah kesimpulan bahwa keutamaan akhirat bukanlah sekadar janji kosong, melainkan sebuah kepastian yang harus menjadi kompas moral dan spiritual. Nalar kritis kita dituntut untuk melampaui batas pandangan materialistik. Kita diajak untuk menyeimbangkan antara usaha duniawi dan kesiapan spiritual untuk menghadapi kehidupan yang kekal abadi.

Pada akhirnya, kisah penghuni surga yang paling akhir ini mengajarkan kita tentang harapan. Sebesar apa pun kesalahan manusia, jika masih ada secercah keimanan di dalam hati, rahmat Allah akan selalu ada. Rahmat tersebut tidak hanya membersihkan, tetapi juga memberikan ganjaran yang jauh melampaui apa yang pernah dibayangkan oleh akal manusia. Dunia, dengan segala kemewahan dan kesulitannya, hanyalah sebuah tempat singgah sementara sebelum kita menyeberang menuju keabadian yang sesungguhnya.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 04 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)