LANGIT7.ID-Bagi setiap Mukmin, hari kiamat bukan sekadar narasi tentang kehancuran semesta, melainkan serangkaian etape ujian yang menuntut keimanan mutlak. Di antara sekian banyak peristiwa yang akan menggetarkan sukma kelak, ada satu titik krusial yang menjadi penentu nasib akhir manusia: melewati shirath. Ia adalah jembatan yang terbentang angkuh di atas kawah neraka menuju gerbang surga.
Secara etimologi, shirath berarti jalan lurus yang terang. Namun, dalam lanskap eskatologi Islam, ia menjelma menjadi sebuah infrastruktur akhirat yang mendebarkan. Keyakinan akan eksistensi jembatan ini bukanlah sekadar mitos atau buah bibir, melainkan konsensus atau ijma para ulama Ahlus Sunnah yang bersandar pada dalil-dalil kuat dari al-Qur’an dan as-Sunnah.
Salah satu rujukan utama yang sering dikemukakan para ulama adalah firman Allah Azza wa Jalla dalam surat Maryam ayat 71:
وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّاDan tidak ada seorang pun dari kalian, melainkan akan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.Bagi orang awam, kata mendatangi neraka mungkin terdengar seperti vonis hukuman. Namun, melalui kacamata para sahabat Nabi seperti Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, hingga Ka’ab bin Ahbar, ayat ini memberikan interpretasi yang lebih spesifik: bahwa setiap manusia, tanpa kecuali, akan meniti shirath yang berada tepat di atas neraka Jahannam. Inilah momen di mana keberanian logika duniawi runtuh, digantikan oleh akumulasi amal yang menjadi satu-satunya pelindung.
Gambaran fisik shirath pun tak kalah mengerikan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan secara Muttafaqun alaih, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memberikan deskripsi yang membuat para sahabat saat itu bertanya-tanya dengan penuh kecemasan.
ثُمَّ يُؤْتَى بِالْجَسْرِ فَيُجْعَلُ بَيْنَ ظَهْرَيْ جَهَنَّمَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْجَسْرُ قَالَ مَدْحَضَةٌ مَزِلَّةٌ عَلَيْهِ خَطَاطِيفُ وَكَلَالِيبُ وَحَسَكَةٌ مُفَلْطَحَةٌ لَهَا شَوْكَةٌ عُقَيْفَاءُ تَكُونُ بِنَجْدٍ يُقَالُ لَهَا السَّعْدَانُKemudian didatangkan jembatan lalu dibentangkan di atas permukaan neraka Jahannam. Kami (para Sahabat) bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana bentuk jembatan itu? Jawab beliau: Licin lagi menggelincirkan. Di atasnya terdapat besi-besi pengait dan kawat berduri yang ujungnya bengkok, ia bagaikan pohon berduri di Nejd, dikenal dengan pohon Sa’dan.Deskripsi ini menunjukkan bahwa shirath bukanlah jembatan biasa yang kokoh dan stabil. Ia adalah titian yang licin dengan ancaman fisik berupa kaitan-kaitan besi yang siap menyambar dan menyeret siapa pun yang tidak memiliki cahaya amal untuk melewatinya. Keberadaan pengait ini menegaskan bahwa keselamatan di atas shirath tidak ditentukan oleh ketangkasan fisik, melainkan oleh rahmat Allah yang diturunkan berdasarkan kadar keimanan hamba-Nya selama di dunia.
Mengapa kita wajib meyakini hal ini, meski nalar manusia mungkin sulit menjangkaunya? Karena peristiwa akhirat tidak bisa di-qiyaskan atau disamakan dengan peristiwa di dunia. Akhirat adalah alam yang penuh kedahsyatan dan keluarbiasaan. Menolak iman terhadap shirath hanya karena dianggap tidak logis berarti meruntuhkan pilar keimanan terhadap hari akhir.
Pesan yang tersirat di balik narasi shirath adalah pengingat keras tentang konsekuensi setiap perbuatan. Jika shirath adalah jalan lurus yang terang, maka kehidupan di dunia seharusnya menjadi miniatur dari jalan tersebut. Keistiqamahan seseorang dalam meniti jalan syariat di dunia akan menjadi cermin bagi kecepatannya saat meniti shirath di akhirat nanti. Ada yang melesat secepat kilat, ada yang berlari, dan ada pula yang merangkak dengan penuh luka akibat sabetan kawat berduri.
Akhirnya, shirath adalah jembatan harapan sekaligus ketakutan. Ia memisahkan antara derita abadi di bawahnya dan kenikmatan tiada tara di ujungnya. Sebagai Mukmin, doa terbaik yang bisa kita panjatkan adalah memohon agar Allah Azza wa Jalla memberikan kemudahan dan keteguhan kaki saat hari yang menakjubkan sekaligus menakutkan itu tiba.
(mif)