LANGIT7.ID-Setiap tanggal sembilan Dzulhijjah, sebuah pemandangan kolosal tersaji di sebuah padang gersang di dekat Makkah. Jutaan manusia dari berbagai penjuru bumi berkumpul, mengenakan pakaian serbaputih yang serupa, merunduk pasrah di bawah sengatan terik matahari.
Di tempat bernama Arafah itu, sekat-sekat sosial, pangkat, dan kekayaan runtuh seketika. Namun, di balik keheningan spiritual dan riuh doa yang dipanjatkan, Hari Arafah menyimpan dimensi teologis yang sangat masif. Hari ini diyakini sebagai waktu di mana pengampunan Tuhan turun dalam skala yang paling megah, mengosongkan catatan dosa, dan membebaskan hamba dari ancaman api neraka.
Begitu utamanya hari ini, sampai-sampai para fukaha dari mazhab Syafi'i menggunakan Hari Arafah sebagai tolok ukur tertinggi dalam perkara hukum keluarga.
Dalam kitab-kitab fikih klasik mazhab tersebut, disebutkan sebuah permisalan ekstrem: jika seorang suami bersumpah bahwa istrinya jatuh talak pada hari yang paling utama sepanjang tahun, maka talak tersebut seketika jatuh pada Hari Arafah.
Pilihan fikih ini menunjukkan konvensi yang kuat di kalangan ulama bahwa tidak ada hari yang lebih mulia di atas bumi selain hari wukuf tersebut.
Keistimewaan Hari Arafah ini disokong oleh dua lapis dalil, yaitu dalil umum dan dalil khusus. Secara umum, Arafah merupakan bagian tak terpisahkan dari sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Ketika para sahabat bertanya apakah keutamaan itu bisa menandingi jihad di jalan Allah, Nabi menjawab tidak, kecuali bagi seorang pejuang yang keluar mempertaruhkan seluruh jiwa dan hartanya lalu tidak kembali lagi karena gugur di medan perang.
Bobot spiritual sepuluh hari pertama Dzulhijjah ini bahkan memicu analisis komparatif yang menarik di kalangan pemikir Islam.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab Majmu al-Fatawa merumuskan sebuah kesimpulan yang presisi. Beliau menyatakan bahwa siang hari pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah jauh lebih utama daripada siang hari pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.
Sebaliknya, malam sepuluh terakhir Ramadan tetap lebih utama daripada malam sepuluh hari pertama Dzulhijjah karena keberadaan Lailatul Qadar. Skema ini mendudukkan Hari Arafah, yang bersinar di siang hari, sebagai puncak dari segala waktu utama.
Namun, daya ledak spiritual sesungguhnya dari Hari Arafah terpancar melalui dalil khusus yang secara spesifik merekam momentum pembebasan manusia. Ibunda kaum mukminin, Aisyah radhiyallahu anhuma, meriwayatkan khotbah Nabi Muhammad SAW yang sangat menggetarkan jiwa.
Nabi bersabda:
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟Ma min yaumin aktsara min an yu'tiqallahu fiihi abdan minan naari min yaumi arafah, wa innahu layadnuu tsumma yubaahii bihimul malaaikata fayaquulu: maa araada haaulaai?Artinya:
Tidak ada hari di mana Allah Azza wa Jalla membebaskan hamba dari neraka lebih banyak daripada Hari Arafah, dan sungguh Dia mendekat lalu membanggakan mereka di depan para malaikat dan berkata: Apa yang mereka inginkan? Hadis sahih ini terdokumentasi dalam Kitab Shahih Muslim nomor seribu tiga ratus empat puluh delapan.
Pertanyaan retoris dari Tuhan mengenai apa yang diinginkan oleh para jemaah haji tersebut dibedah secara filosofis oleh para pensyarah hadis. Jawabannya mengarah pada satu kesimpulan: tidak ada motivasi lain yang menggerakkan jutaan manusia itu untuk meninggalkan tanah air, melupakan kenyamanan rumah, dan menguras harta, selain demi mengejar ketaatan dan rida Ilahi. Pengorbanan fisik itulah yang dibalas Allah dengan kedekatan rahmat-Nya dan pembebasan massal dari siksa neraka.
Lebih jauh lagi, Hari Arafah tidak lagi dipandang sekadar kalender ritual tahunan yang mekanistis. Ia adalah oase pengampunan terbesar yang disediakan bagi umat manusia. Bagi jemaah yang hadir di padang tersebut maupun umat Islam yang menyertainya lewat ibadah puasa sunah di tanah air, Hari Arafah adalah sebuah undangan terbuka untuk membersihkan diri, sebuah momen krusial di mana gerbang neraka dikunci rapat dan ampunan Tuhan tumpah meruah ke bumi.
(mif)