لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ ﴿١٥﴾ فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ ﴿١٦﴾ ذَٰلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا ۖ وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَLANGIT7.ID- Pada suatu masa, di jazirah selatan Arab, berdiri sebuah negeri yang digambarkan Al-Qur’an sebagai
baldah ṭayyibah. Negeri yang baik, makmur, dan berlimpah. Kaum Saba’ hidup di antara dua kebun besar, kanan dan kiri lembah Ma’rib, dengan sistem irigasi paling maju di dunia kuno. Sejarawan Philip K. Hitti dalam
History of the Arabs menyebut Saba’ sebagai salah satu peradaban paling stabil di Arabia pra-Islam, ditopang teknologi bendungan dan perdagangan internasional.
Namun Al-Qur’an tidak sedang menulis pujian sejarah. Ia sedang menyusun peringatan. Nikmat itu disertai syarat: bersyukur dan menjaga keseimbangan. Tafsir ath-Thabari dan Ibnu Katsir mencatat bahwa perintah
“كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ” bukan sekadar ajakan spiritual, melainkan etika sosial: menikmati sumber daya tanpa merusaknya.
Dalam kajian arkeologi modern, bendungan Ma’rib memang terbukti sebagai mahakarya teknik hidrolik. Penelitian Wendell Phillips dan Jacques Ryckmans menunjukkan bendungan ini menopang pertanian ribuan hektare selama berabad-abad. Tapi keunggulan teknologi tidak dibarengi dengan ketundukan moral. Ketika kekuasaan, keserakahan, dan konflik internal menggerogoti tatanan, bendungan itu menjadi simbol kesombongan kolektif.
Al-Qur’an menyebut kehancuran itu sebagai
سَيْلَ الْعَرِمِ, banjir besar yang menghapus kemakmuran. Para mufasir berbeda pendapat tentang sebab teknisnya: tikus, perang saudara, atau sabotase musuh. Namun Ibnu ‘Asyur menegaskan, sebab sejarah hanyalah medium. Penyebab hakikinya adalah pembangkangan struktural terhadap amanah nikmat.
Setelah bendungan runtuh, dua kebun diganti dengan tanaman pahit, atsl dan sidr yang sedikit. Dalam bahasa politik modern, ini adalah degradasi ekologis total. Jared Diamond dalam Collapse menyebut kehancuran Saba’ sebagai contoh klasik runtuhnya peradaban akibat kegagalan mengelola lingkungan dan konflik elite.
Kaum Saba’ kemudian tercerai-berai. Migrasi besar terjadi. Struktur sosial runtuh. Yang tersisa hanyalah jejak dan kisah. Al-Qur’an menutupnya dengan kalimat yang tajam dan sunyi:
ذَٰلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا. Balasan itu bukan datang tiba-tiba, melainkan akumulasi dari pengingkaran panjang.
Kisah Saba’ bukan nostalgia religius. Ia adalah laporan peradaban yang ditulis ulang sebagai peringatan moral lintas zaman. Dalam setiap negeri yang merasa terlalu makmur untuk runtuh, gema Ma’rib selalu menunggu. Dan sejarah, seperti Al-Qur’an, jarang berbohong.
(mif)