Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 26 Mei 2026
home masjid detail berita

Marib: Bendungan, Berkah, dan Banjir yang Mengakhiri Sebuah Peradaban

miftah yusufpati Kamis, 18 Desember 2025 - 16:31 WIB
Marib: Bendungan, Berkah, dan Banjir yang Mengakhiri Sebuah Peradaban
Kisah Marib bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah laporan tentang bagaimana teknologi, kekuasaan, dan iman harus berjalan seiring. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Mengapa sebuah lembah di selatan Jazirah Arab pernah begitu subur, sementara wilayah di sekitarnya dikenal gersang? Jawabannya terletak pada satu bangunan raksasa: Bendungan Ma’rib, atau yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai ‘Arim. Struktur sepanjang 620 meter, lebar 60 meter, dan tinggi 16 meter itu menjadi tulang punggung peradaban kaum Saba’.

Sejarawan dan arkeolog modern menyebut Bendungan Ma’rib sebagai salah satu prestasi teknik hidrolik paling maju di dunia kuno. Jacques Ryckmans dan Wendell Phillips mencatat bahwa bendungan ini memungkinkan pengaturan air hujan musiman secara presisi, mengairi kebun-kebun luas di kanan dan kiri lembah. Al-Qur’an merekam kemakmuran itu dengan singkat namun padat makna:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ
Sungguh, bagi kaum Saba’ terdapat suatu tanda (kekuasaan Allah) di tempat tinggal mereka, yaitu dua kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri.” (QS. Saba’: 15)

Teknologi bendungan bukan sekadar solusi teknis. Dalam sejumlah tafsir klasik, seperti karya ath-Thabari dan al-Qurthubi, pembangunan bendungan juga dipahami sebagai respons politik terhadap konflik perebutan air. Riwayat yang dikutip Ibnu Katsir dan al-Baghawi menyebut Ratu Bilqis sebagai figur sentral yang memprakarsai bendungan demi mencegah pertumpahan darah akibat sengketa sumber daya.

Dengan bendungan itu, air tidak lagi menjadi ancaman atau rebutan. Ia menjadi berkah bersama. Pertanian tumbuh, perdagangan berkembang, dan Ma’rib menjelma pusat kemakmuran. Namun Al-Qur’an segera menambahkan prasyarat moral atas keberlimpahan itu:

كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
“Makanlah dari rezeki Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu adalah) negeri yang baik dan (Tuhanmu) Maha Pengampun.” (QS. Saba’: 15)

Menurut Ibnu Katsir, baldah ṭayyibah bukan hanya negeri dengan tanah subur, tetapi juga tatanan hidup yang seimbang antara nikmat material dan tauhid. Qatadah menegaskan, perintah bersyukur berarti menaati hukum Allah dan menjauhi maksiat dalam pengelolaan nikmat.

Dalam perspektif sejarah lingkungan, pesan ini terasa modern. Jared Diamond dalam Collapse menyebut kehancuran Saba’ sebagai contoh awal bagaimana peradaban maju bisa runtuh bukan karena kekurangan teknologi, melainkan karena kegagalan menjaga kohesi sosial, etika kekuasaan, dan relasi dengan alam.

Ketika kaum Saba’ berpaling, Al-Qur’an mencatat titik balik itu dengan kalimat yang dingin:

فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ
Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirimkan kepada mereka banjir besar (Sail al-‘Arim).” (QS. Saba’: 16)

Para mufasir berbeda pendapat tentang makna ‘Arim: bendungan, banjir besar, atau sebab kehancuran. Riwayat populer menyebut tikus besar yang melubangi bendungan. Ibnu ‘Asyur menawarkan penjelasan struktural: perang saudara dan kelalaian perawatan, ditambah sabotase musuh. Semua sebab itu bermuara pada satu kesimpulan: runtuhnya amanah kolektif.

Sekitar tahun 542–550 M, bendungan Ma’rib benar-benar jebol. Air yang dulu diatur berubah menjadi banjir perusak. Dua kebun yang subur diganti dengan tanaman pahit, atsl dan sidr yang sedikit:

وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ
“Dan Kami ganti bagi mereka dua kebun itu dengan dua kebun yang menghasilkan buah-buahan pahit, pohon atsl, dan sedikit pohon bidara.” (QS. Saba’: 16)

Ibnu Abbas dan Mujahid menafsirkan khamṭ sebagai tanaman berbuah pahit yang nyaris tak bernilai ekonomi. Dalam bahasa hari ini, itu adalah degradasi ekologis total. Basis produksi runtuh. Negara kehilangan fondasi.

Kaum Saba’ pun tercerai-berai, bermigrasi ke Yaman dan Syam. Sebuah peradaban berakhir, meninggalkan puing dan pelajaran. Al-Qur’an menutup kisah ini tanpa emosi, hanya dengan pernyataan sebab-akibat:

ذَٰلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا ۖ وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ
"Demikianlah Kami membalas mereka karena kekafiran mereka. Dan tidaklah Kami memberi balasan kecuali kepada orang yang sangat ingkar.”

Kisah Ma’rib bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah laporan tentang bagaimana teknologi, kekuasaan, dan iman harus berjalan seiring. Ketika salah satunya runtuh, bendungan setinggi apa pun tak lagi mampu menahan banjir sejarah.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 26 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)