Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 17 Januari 2026
home masjid detail berita

Tinjauan Islam: Banjir Besar dan Jejak Ulah Manusia

miftah yusufpati Sabtu, 13 Desember 2025 - 05:45 WIB
Tinjauan Islam: Banjir Besar dan Jejak Ulah Manusia
Kerusakan bisa dicegah jika manusia kembali pada keadilan dan keseimbangan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Di banyak wilayah Indonesia, banjir tiba lebih cepat daripada musimnya. Hujan ekstrem merendam kota, sungai meluap melewati tepiannya, dan daerah yang dulu dianggap aman kini ikut tenggelam. Di ruang-ruang seminar, para ahli hidrologi mengutip data IPCC tentang meningkatnya anomali cuaca dan kerentanan kawasan urban. Namun, dari sudut pandang ajaran Islam, fenomena ini bukan semata soal meteorologi dan tata ruang, melainkan cermin relasi manusia dengan bumi—relasi yang disebut al-Qur’an rapuh akibat ulah manusia itu sendiri.

Salah satu ayat yang sering dikembalikan dalam diskusi itu berbunyi:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan tangan manusia. [ar-Rûm/30:41]

Para ulama memahaminya sebagai gambaran luas tentang kerusakan moral, sosial, dan ekologis. Ibnu Katsîr menafsirkan ayat ini sebagai isyarat bahwa maksiat manusia dapat memicu bencana alam. Tafsir ath-Thabari menyebut kerusakan yang tampak di bumi sebagai efek berantai dari perilaku manusia yang melanggar tatanan yang telah diperbaiki oleh Allah. Syaikh as-Sa’di mengulasnya dengan nada lebih kontemporer: musibah yang menimpa manusia, termasuk bencana alam, berkaitan dengan pelanggaran manusia terhadap keseimbangan yang dititahkan.

Di lapangan, temuan ilmiah memperkuat gagasan itu. Hasil riset BRIN dalam kajian hidrologi menyebut 70 persen banjir besar di Indonesia disebabkan kombinasi curah hujan ekstrem dan perubahan fungsi lahan, terutama penggundulan hutan dan pembangunan yang tak mengikuti analisis dampak lingkungan. Kajian ekolog Janine Benyus atau Fritjof Capra melihat kerusakan lingkungan sebagai hasil sistem hidup manusia yang tak sinkron dengan pola alam.

Di titik ini, tafsir klasik dan sains modern berdiri di titik temu: manusia adalah variabel paling menentukan.

Banjir besar yang menimpa berbagai daerah memantulkan pola yang telah lama diperingatkan agama. Dalam al-A’raf ayat 56, seruan itu muncul lebih tajam:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

Janganlah membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.

Para mufasir menyebut ayat ini sebagai fondasi etika ekologis Islam. Ibnul Qayyim membaca maksiat dan syirik sebagai kerusakan terbesar yang kemudian beranak melalui kerusakan fisik di bumi: banjir, kekeringan, hingga bencana sosial. Ketika manusia mengabaikan prinsip keadilan, keseimbangan, dan tanggung jawab, alam mengambil perannya sendiri mengembalikan keseimbangan tersebut.

Dalam literatur fikih lingkungan modern—seperti karya Yûsuf al-Qaradawi atau tulisan Mustafa Abu Sway—kerusakan ekologis dipandang sebagai bentuk pelanggaran terhadap amanah khalifah fil ardh. Manusia diberi mandat menjaga bumi, bukan mengeksploitasinya tanpa batas. Melanggar amanah itu, menurut mereka, bukan hanya dosa moral, melainkan pelanggaran ekologis yang berakibat langsung pada keseharian hidup.

Fakta di beberapa kota memperkuat wacana itu. Sungai-sungai dipersempit, daerah resapan berubah menjadi perumahan, dan hutan yang dulu menahan limpasan air kini hilang. Di Jakarta, misalnya, analisis tata air menunjukkan kapasitas sungai tak lagi sebanding dengan debit masuk yang meningkat. Di Sumatera dan Kalimantan, banjir besar berulang setelah pembukaan lahan massif untuk perkebunan. Ilmu pengetahuan menguraikan mekanismenya, sementara agama menegaskan sumber nilai yang melandasi perilaku itu.

Seyyed Hossein Nasr dalam Man and Nature menulis bahwa krisis ekologis lahir dari krisis spiritual: manusia memandang alam bukan lagi sebagai ayat Tuhan, tetapi sebagai sumber eksploitasi. Perspektif itu bergema dengan nasihat klasik para ulama bahwa kerusakan bumi berawal dari kerusakan hati.

Dalam tafsir ayat-ayat itu, perintah berdoa dengan takut dan harap—خَوْفًا وَطَمَعًا—bukan sekadar ritus spiritual, tetapi sumber etika: rasa takut membuat manusia berhati-hati, rasa harap menggerakkannya untuk memperbaiki. Dua energi batin itu dibaca ulang sebagai landasan tanggung jawab ekologis.

Banjir besar yang kini datang berkali-kali seperti menggemakan ajaran itu. Ia bukan hanya air yang meluap, tetapi penanda bahwa hubungan manusia dengan bumi sedang retak.

Di antara reruntuhan rumah, jalan yang terendam, dan sungai yang tak lagi mengenali tepinya, satu pesan lama seakan muncul kembali: kerusakan bisa dicegah jika manusia kembali pada keadilan dan keseimbangan. Selebihnya, banjir akan terus datang—mengulang pelajaran yang belum sepenuhnya kita pahami.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 17 Januari 2026
Imsak
04:18
Shubuh
04:28
Dhuhur
12:06
Ashar
15:30
Maghrib
18:19
Isya
19:33
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan