LANGIT7.ID- Dalam narasi eskatologi Islam, perjalanan manusia menuju surga mencapai klimaksnya saat mereka berdiri di bibir shirâth. Ini bukan sekadar titian fisik, melainkan sebuah manifestasi dari akumulasi hidup seseorang selama di dunia. Berdasarkan berbagai riwayat shahih, keadaan manusia saat melintasi jembatan yang membujur di atas neraka Jahannam ini sangat bervariasi, menciptakan sebuah drama teologis yang mencekam sekaligus penuh harapan.
Etape ini dimulai dengan satu saksi yang tidak biasa. Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa ketika manusia mulai melangkah, amanah dan ar-rahm (tali silaturahmi) diutus untuk berdiri di sisi kanan dan kiri shirâth.
وَتُرْسَلُ الْأَمَانَةُ وَالرَّحِمُ فَتَقُومَانِ جَنَبَتَيْ الصِّرَاطِ يَمِينًا وَشِمَالًاKehadiran dua entitas ini menjadi "pos penjagaan" moral. Barangsiapa yang di dunia mengkhianati amanah atau memutuskan tali persaudaraan, langkah kaki mereka akan gemetar saat melewati saksi-saksi bisu yang kini menuntut pertanggungjawaban di tempat paling berbahaya tersebut.
Kecepatan manusia di atas shirâth menjadi sorotan utama dalam teks-teks hadits. Menariknya, kecepatan ini tidak ditentukan oleh ketangkasan motorik, melainkan sinkron dengan responsivitas mereka terhadap perintah Allah Azza wa Jalla saat di dunia. Bagi mereka yang menyambut perintah Tuhan secepat kilat, maka kilat pula kecepatan mereka di sana.
Rasulullah memberikan analogi yang sangat visual dalam riwayat Muslim: ada yang lewat secepat kedipan mata (tharfata 'ain), secepat kilat, secepat angin, secepat burung terbang, hingga secepat kuda pacuan. Di sisi lain, ada hamba-hamba yang lemah amalannya. Mereka tertatih, berjalan terseret, bahkan ada yang tidak mampu bergerak kecuali dengan merangkak (zahfan).
تَجْرِي بِهِمْ أَعْمَالُهُمْ وَنَبِيُّكُمْ قَائِمٌ عَلَى الصِّرَاطِ يَقُولُ رَبِّ سَلِّمْ سَلِّمْDi atas jembatan yang lebih halus dari rambut itu, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam berdiri dengan cemas sembari terus memanjatkan doa: "Ya Allah, selamatkanlah! Selamatkanlah!" Ini adalah momen transendental di mana setiap rasul menyaksikan umat mereka dengan degup jantung spiritual yang kencang, memohon keselamatan bagi para pengikutnya.
Kengerian semakin nyata dengan adanya kalalib atau besi pengait yang bergantung di pinggir shirâth. Besi-besi ini diperintahkan secara otomatis untuk menyambar siapa saja yang layak disambar. Dalam Muttafaqun alaih, disebutkan tiga kategori nasib manusia di sini: ada yang selamat tanpa luka sedikit pun (naajin musallam), ada yang selamat namun penuh luka tercabik besi (naajin makhduush), dan ada yang terjungkir masuk ke dalam api neraka (makduus fi naari jahannam).
Satu hal yang menjadi pemandu utama dalam kegelapan di atas neraka tersebut adalah cahaya. Berdasarkan tafsir Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu terhadap surat al-Hadîd ayat 12:
يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْCahaya ini bersifat personal. Ada orang yang memiliki cahaya sebesar gunung yang menerangi jalan lurus di hadapannya, namun ada pula yang hanya memiliki cahaya sebesar ibu jarinya—sesekali menyala, sesekali padam. Saat cahaya itu padam, ia berhenti; saat menyala, ia melangkah kembali.
Interpretasi atas peristiwa ini membawa sebuah pesan kuat bagi manusia yang masih bernafas: shirâth di akhirat adalah bayangan dari shirâth (syariat) di dunia. Barangsiapa yang melesat dalam kebaikan saat ini, ia akan melesat di sana kelak. Sebaliknya, keengganan untuk melangkah dalam ketaatan sekarang akan berujung pada langkah yang merangkak penuh luka di ambang keabadian.
(mif)