Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 10 Februari 2026
home masjid detail berita

Jangkar Persatuan di Tengah Badai: Menenun Barisan Ahli Kiblat

miftah yusufpati Kamis, 08 Januari 2026 - 04:15 WIB
Jangkar Persatuan di Tengah Badai: Menenun Barisan Ahli Kiblat
Pada akhirnya, Kaidah al-Manar ini adalah sebuah ajakan untuk dewasa dalam beragama. Ilustrasi: AI

LANGIT7.ID-Sejarah peradaban manusia sering kali menyerupai sebuah siklus yang ironis: kemajuan besar diraih melalui persatuan, namun keruntuhan total hampir selalu bermula dari retakan-retakan kecil di dalam fondasi internalnya. Dalam konteks dunia Islam kontemporer, perpecahan bukan sekadar bumbu perdebatan di warung kopi, melainkan lubang hitam yang siap menelan kedaulatan bangsa-bangsa muslim. Di tengah fragmentasi ideologi yang kian tajam, al-Allamah Sayyid Rasyid Ridha, sang pemikir pembaru dari madrasah Salafiyyah al-Haditsah, menyodorkan sebuah kompas moral yang dikenal sebagai Kaidah al-Manar adz-Dzahabiyyah.

Kaidah ini berbunyi lugas namun memiliki daya dobrak yang menantang: Kita bantu-membantu dalam masalah yang kita sepakati, dan bersikap toleran dalam masalah yang kita perselisihkan. Bagi banyak orang, ungkapan ini mungkin terdengar seperti utopia puitis. Namun, bagi Syaikh Yusuf Qardhawi, sebagaimana dituangkan dalam mahakaryanya, Fatwa-fatwa Kontemporer (Gema Insani Press), kaidah ini adalah manifesto politik dan teologis yang lahir dari rahim kebutuhan mendesak umat Islam untuk bertahan hidup.

Qardhawi menjelaskan bahwa Rasyid Ridha tidak memetik kaidah ini dari ruang hampa. Ia adalah hasil tadabbur mendalam terhadap Surat Al-Anfal ayat 73. Di sana, Allah memperingatkan dengan nada yang sangat keras: Adapun orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah itu (saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. Qardhawi menafsirkan bahwa kekalahan umat Islam sering kali bukan karena musuh yang terlalu kuat, melainkan karena absennya proteksi timbal balik antar sesama ahli kiblat.

Dalam perspektif jurnalisme interpretatif, kaidah ini adalah antitesis dari sifat eksklusivisme dan fanatisme buta yang sering menghinggapi kelompok-kelompok keagamaan. Rasyid Ridha, lewat majalah al-Manar, mengamati sebuah anomali: kekuatan luar—mulai dari zionisme internasional, imperialisme Barat, hingga ideologi materialistik—mampu bekerja sama dalam satu orkestra yang rapi meskipun mereka memiliki latar belakang filosofis yang berbeda. Sementara itu, umat Islam justru gemar melakukan bunyitaktis; terjebak dalam perang saudara karena perbedaan masalah cabang (furu’iyyah).

Interpretasi ini kemudian diamini dan dipopulerkan oleh al-Imam asy-Syahid Hasan al-Banna. Di tangan al-Banna, kaidah ini diterjemahkan ke dalam gerakan masif yang melintasi batas-batas mazhab. Ia menyadari bahwa energi umat akan habis jika setiap hari digunakan untuk saling mengkafirkan atau membid'ahkan sesama muslim yang masih bersujud ke arah Ka'bah yang sama. Kesepakatan pada pokok-pokok agama (ushuluddin) seharusnya menjadi lem yang lebih kuat daripada perdebatan tentang posisi tangan saat shalat atau jumlah rakaat tarawih.

Namun, mengaplikasikan kaidah ini dalam realitas sosial yang kompleks tentu memicu pertanyaan kritis: bagaimana kita harus memosisikan diri terhadap ahli bid'ah atau mereka yang dianggap melenceng? Di sinilah kecemerlangan argumentasi Qardhawi diuji. Ia menjelaskan bahwa bid'ah bukanlah sebuah blok monolitik; ia memiliki tingkatan dan strata. Ada bid'ah yang berat hingga mengeluarkan pelakunya dari Islam, namun lebih banyak bid'ah yang sifatnya ringan atau khilafiyah.

Dalam menghadapi ancaman yang lebih besar, Islam mengenal kaidah fikih irtikaabu akhaffidh dhararain—memilih mudarat yang paling ringan di antara dua pilihan yang buruk. Qardhawi mencontohkan bagaimana Al-Qur'an secara implisit dalam Surat Ar-Rum menunjukkan simpati pada bangsa Romawi yang beragama Nasrani (Ahli Kitab) dibandingkan bangsa Persia yang Majusi, karena kaum Nasrani lebih dekat secara teologis. Jika terhadap orang luar saja Islam bisa menentukan prioritas kerja sama demi kemaslahatan, apalagi terhadap sesama muslim yang mungkin hanya berbeda dalam interpretasi teks.

Dunia hari ini melihat bagaimana "Yahudi Internasional" atau kekuatan ekonomi global dapat bersatu demi kepentingan material mereka. Qardhawi menggugat nurani para cendekiawan muslim: Mampukah kita menyeru ahli kiblat untuk bersatu dalam satu barisan guna menghadapi kekuatan musuh yang memiliki senjata, strategi, dan program untuk menghancurkan umat Islam secara spiritual maupun material?

Kerja sama ini tidak berarti kita harus menyetujui kesesatan. Qardhawi memberikan contoh elegan dari tradisi intelektual klasik: bagaimana ulama Ahlus Sunnah memanfaatkan ilmu sastra dan balaghah dari kitab Tafsir al-Kasysyaf karya az-Zamakhsyari yang seorang Muktazilah. Mereka mengambil madunya dan membuang racunnya. Inilah esensi dari bantu-membantu dalam kesepakatan; kita bergerak pada irisan kepentingan yang sama demi martabat umat.

Pada akhirnya, Kaidah al-Manar ini adalah sebuah ajakan untuk dewasa dalam beragama. Ia meminta kita untuk mengubur ego sektoral demi menyelamatkan kapal besar bernama umat Islam agar tidak karam dihantam badai. Sebab, seperti yang diperingatkan Qardhawi, jika kita terus memilih untuk bercerai-berai, maka kerusakan besar yang dijanjikan Al-Qur'an bukan lagi sekadar ancaman, melainkan realitas yang sedang kita gali sendiri kuburnya.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 10 Februari 2026
Imsak
04:29
Shubuh
04:39
Dhuhur
12:10
Ashar
15:26
Maghrib
18:20
Isya
19:31
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan