Fort Rotterdam, Bangunan Ikonik Bersejarah di Pesisir Barat Makassar
Hasanah syakim
Selasa, 29 November 2022 - 05:00 WIB
Bangunan Fort Rotterdam di Makassar (foto: Langit7/ iStock)
Fort Rotterdam merupakan bangunan ikonik bersejarah yang ada di wilayah pesisir barat Makassar, Sulawesi Selatan.
Fort Rotterdam merupakan benteng yang berasal dari Kerajaan Gowa abad ke-16 hingga penjajahan Belanda. Kemegahan benteng ini kerap memikat wisatawan. Benteng ini dibangun pada 1545 di era Imanrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung, atau Karaeng Tunipalangga Ulaweng, Raja Gowa Kesepuhan.
Konon, pada mulanya bangunan benteng ini terbuat darii campuran batu dan tanah liat yang dibakar, dan berbentuk persegi khas gaya arsitektur Portugis. Kemudian, benteng tersebut juga diperluas dan mengambil bentu baru menyerupai penyu, sehingga benteng ini diberi nama baru, yaitu Benteng Pannyua.
Baca juga:Gua Mesas, Destinasi Wisata Alam Istimewa di Desa Muara Satu
Tak hanya unik, benteng ini juga mengandung makna mendalam karena seperti halnya penyu yang hidup di darat dan di laut. Sehingga, hal ini juga dimaknai sebagaimana kejayaan Kerajaan Gowa juga terbentang di darat maupun di laut. Saat itu Suku Bugis memang menjadi kekuatan yang diakui dan dihormati di seluruh lautan Indonesia.
Bahkan kejayaan tersebut diakui hingga ke Selat Malaka. Gubernur Jenderal Speelman kemudian membangun kembali bagian benteng yang telah hancur. Tidak hanya menerapkan gaya khas Belanda pada strukturnya, Speelman menambahkan bastion lain di sisi baratnya.
Benteng ini kemudian berganti nama menjadi kampung halaman Speelman,Rotterdam. Benteng tersebut berkembang menjadi pusat penimbunan rempah-rempah, dan Entrepot penting. Akhirnya hal ini menyebabkan Makassar menjadi pusat pemerintahan Kolonial Belanda di Indonesia Timur.
Fort Rotterdam merupakan benteng yang berasal dari Kerajaan Gowa abad ke-16 hingga penjajahan Belanda. Kemegahan benteng ini kerap memikat wisatawan. Benteng ini dibangun pada 1545 di era Imanrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung, atau Karaeng Tunipalangga Ulaweng, Raja Gowa Kesepuhan.
Konon, pada mulanya bangunan benteng ini terbuat darii campuran batu dan tanah liat yang dibakar, dan berbentuk persegi khas gaya arsitektur Portugis. Kemudian, benteng tersebut juga diperluas dan mengambil bentu baru menyerupai penyu, sehingga benteng ini diberi nama baru, yaitu Benteng Pannyua.
Baca juga:Gua Mesas, Destinasi Wisata Alam Istimewa di Desa Muara Satu
Tak hanya unik, benteng ini juga mengandung makna mendalam karena seperti halnya penyu yang hidup di darat dan di laut. Sehingga, hal ini juga dimaknai sebagaimana kejayaan Kerajaan Gowa juga terbentang di darat maupun di laut. Saat itu Suku Bugis memang menjadi kekuatan yang diakui dan dihormati di seluruh lautan Indonesia.
Bahkan kejayaan tersebut diakui hingga ke Selat Malaka. Gubernur Jenderal Speelman kemudian membangun kembali bagian benteng yang telah hancur. Tidak hanya menerapkan gaya khas Belanda pada strukturnya, Speelman menambahkan bastion lain di sisi baratnya.
Benteng ini kemudian berganti nama menjadi kampung halaman Speelman,Rotterdam. Benteng tersebut berkembang menjadi pusat penimbunan rempah-rempah, dan Entrepot penting. Akhirnya hal ini menyebabkan Makassar menjadi pusat pemerintahan Kolonial Belanda di Indonesia Timur.