BMKG: Waspadai Cuaca Ekstrem saat Akhir Tahun per 21-27 Desember
Mahmuda attar hussein
Rabu, 21 Desember 2022 - 08:35 WIB
BMKG: Waspadai Cuaca Ekstrem saat Akhir Tahun per 21-27 Desember. (Foto: Istimewa).
BMKGmenyampaikan potensi cuaca ekstrem saat Natal dan Tahun Baru (Nataru). Kondisi ini harus diwaspadai masyarakat yang bepergian atau mudik saat akhir tahun.
Hasil monitoring BMKG terkait perkembangan kondisi cuaca, untuk sektor penerbangan, ada pertumbuhan awan komulonimbus pada 21 - 27 Desember 2022 di sejumlah wilayah Indonesia.
"Potensi awan kumulonimbus terdeteksi di wilayah udara di Indonesia kaitannya dengan jalur penerbangan," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat jumpa pers virtual via zoom, Selasa (20/12/2022) malam.
Baca Juga: Prakiraan BMKG: Seluruh Wilayah Jakarta Diguyur Hujan Malam Hari
Pertumbuhan awan kumulonimbus itu dengan persentase cakupan spasial lebih dari 75 persen atau kategori frequent. Artinya perlu diwaspadai karena bisa sampai mengganggu aktivitas penerbangan.
"Kategori frequent artinya ini perlu diwaspadai dapat mengganggu penerbangan," tuturnya.
Dia mengemukakan, pertumbuhan awan kumulonimbus itu berpotensi terjadi di wilayah Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.
Hasil monitoring BMKG terkait perkembangan kondisi cuaca, untuk sektor penerbangan, ada pertumbuhan awan komulonimbus pada 21 - 27 Desember 2022 di sejumlah wilayah Indonesia.
"Potensi awan kumulonimbus terdeteksi di wilayah udara di Indonesia kaitannya dengan jalur penerbangan," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat jumpa pers virtual via zoom, Selasa (20/12/2022) malam.
Baca Juga: Prakiraan BMKG: Seluruh Wilayah Jakarta Diguyur Hujan Malam Hari
Pertumbuhan awan kumulonimbus itu dengan persentase cakupan spasial lebih dari 75 persen atau kategori frequent. Artinya perlu diwaspadai karena bisa sampai mengganggu aktivitas penerbangan.
"Kategori frequent artinya ini perlu diwaspadai dapat mengganggu penerbangan," tuturnya.
Dia mengemukakan, pertumbuhan awan kumulonimbus itu berpotensi terjadi di wilayah Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.