Peradaban Islam Mampu Ciptakan Harmonisasi Hubungan Antarnegara di Dunia
Muhajirin
Kamis, 13 Juli 2023 - 18:42 WIB
Anggota DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, menjelaskan, peradaban Islam selalu mampu menciptakan harmonisasi hubungan antarnegara di dunia.
Anggota Dewan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Rieke Diah Pitaloka, menjelaskan, peradaban Islam selalu mampu menciptakan harmonisasi hubungan antarnegara di dunia.
Berdasarkan catatan sejarah, peradaban Islam sangat jelas tidak anti-Barat atau pun Amerika, membuat Islam menjadi diplomasi internasional.
Rieke mengutip memori kolektif Menteri Keuangan Iran, Ali Amini, saat pembukaan Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung. Rieke setuju bahwa negara Islam tulus berkolaborasi guna menciptakan kerjasama yang bermanfaat di semua benua di dunia.
“Kami bisa memberikan pembuktian bahwa bangsa Afrika-Asia jauh dari perasaan permusuhan seperti anti-Barat, anti-Amerika, atau anti-Eropa,” kata Rieke dalam pembukaan pertemuan pendahuluan Forum Kerja Sama Arsip Nasional Negara-Negara Berpenduduk Mayoritas Muslim dan Seminar Arsip Sejarah Peradaban Islam dan Diplomasi Internasional Jakarta, Rabu (12/7/2023).
Baca juga:Tolak LGBT Se-ASEAN, DPR RI: Salahi Norma di Indonesia
Hal tersebut bisa dicontoh untuk menciptakan sebuah atmosfir yang tulus dan kolaborasi yang bermanfaat bagi semua benua dan negara, baik negara maju dan kurang maju, bangsa Barat dan bangsa Timur, negara besar dan negara kecil, sebuah tanah air yang universal untuk semua umat manusia demi rasa kemanusiaan, kebebasan, persamaan, toleransi, dan saling menghormati.
Rieke mengatakan, gagasan Ali Amini itu seirama dengan pemikiran para pemimpin negara-negara yang saat itu menjadi peserta Konferensi Asia Afrika. Pemikiran tentang perdamaian dunia, membebaskan bangsa-bangsa dari kolonialisme dan imperialisme.
Berdasarkan catatan sejarah, peradaban Islam sangat jelas tidak anti-Barat atau pun Amerika, membuat Islam menjadi diplomasi internasional.
Rieke mengutip memori kolektif Menteri Keuangan Iran, Ali Amini, saat pembukaan Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung. Rieke setuju bahwa negara Islam tulus berkolaborasi guna menciptakan kerjasama yang bermanfaat di semua benua di dunia.
“Kami bisa memberikan pembuktian bahwa bangsa Afrika-Asia jauh dari perasaan permusuhan seperti anti-Barat, anti-Amerika, atau anti-Eropa,” kata Rieke dalam pembukaan pertemuan pendahuluan Forum Kerja Sama Arsip Nasional Negara-Negara Berpenduduk Mayoritas Muslim dan Seminar Arsip Sejarah Peradaban Islam dan Diplomasi Internasional Jakarta, Rabu (12/7/2023).
Baca juga:Tolak LGBT Se-ASEAN, DPR RI: Salahi Norma di Indonesia
Hal tersebut bisa dicontoh untuk menciptakan sebuah atmosfir yang tulus dan kolaborasi yang bermanfaat bagi semua benua dan negara, baik negara maju dan kurang maju, bangsa Barat dan bangsa Timur, negara besar dan negara kecil, sebuah tanah air yang universal untuk semua umat manusia demi rasa kemanusiaan, kebebasan, persamaan, toleransi, dan saling menghormati.
Rieke mengatakan, gagasan Ali Amini itu seirama dengan pemikiran para pemimpin negara-negara yang saat itu menjadi peserta Konferensi Asia Afrika. Pemikiran tentang perdamaian dunia, membebaskan bangsa-bangsa dari kolonialisme dan imperialisme.