Sejarawan: Indonesia Dibangun Para Cendekia dan Aktivis Muslim
Muhajirin
Rabu, 16 Agustus 2023 - 11:53 WIB
Republik Indonesia dibangun oleh para cendekia dan aktivis muslim. Berbeda dengan negara-negara di Timur Tengah yang punya kecenderungan dibangun politisi lama
Doktor Sejarah FIB UI, Tiar Anwar Bachtiar, mengungkapkan, Republik Indonesia dibangun oleh para cendekia dan aktivis muslim. Berbeda dengan negara-negara di Timur Tengah yang punya kecenderungan dibangun oleh politisi lama atau raja-raja.
"Sebetulnya Indonesia sendiri memiliki potensi ke arah sana (sebagaimana Timur Tengah), dalam hal ini, Van Mook selaku Gubernur Jenderal di wilayah Hindia-Belanda saat itu mendirikan negara bagian. Konteksnya saat itu memanfaatkan politisi-politisi lama. Meski tidak semua bangsawa pro-Belanda, misalnya Sultan Yogyakarta ini kan masuk kategori pro-republik," kata Tiar melalui kanal Masjid Kampus UGM, dikutip Rabu (16/8/2023).
Tiar mengutip Plato, filosof Yunani klasik, yang menyatakan tampuk pimpinan harus diberikan pada kaum intelegensi, atau pemikir. Memang sejarah Indonesia berpihak ke arah tersebut. Tiar menyebut mencontohkan KH Agus Salim atau H.O.S Cokroaminoto, yang merupakan pemikir sekaligus aktivis.
"Dalam hal ini, misalnya, H.O.S Cokroaminoto kan kita tahu berwacana mengenai bentuk ideal bagi Indonesia ke depannya yang menurutnya Islam dan sosialisme," tuturnya.
Sejarah mencatat, Soekarno tampil dalam rumusannya mengenai NASAKOM. Rumusan itu nantinya direalisasikan saat diri Bung Karno berada di tampuk kekuasaan. Itu menandakan Indonesia sangat didominasi oleh pemikir dan aktivis.
"Jadi artinya, Indonesia ini sangat didominasi oleh para pemikir, aktivis. Gagasan keindonesiaan ini bukan dilahirkan dari pragmatisme politik yang hanya sekadar ingin mengambil keuntungan sesaat," katanya.
Tiar memaparkan, memang terdapat ketegangan yang mewarnai cakrawala perpolitikan Tanah Air. Hingga kemudian, para pemikir bersepakat dengan rumusan yang dikenal dengan Pancasila. Dalam konteks ini, para pemikir berkontestasi menawarkan hasil perenungan dan penghayatan, yang kemudian disepakati Pancasila.
"Sebetulnya Indonesia sendiri memiliki potensi ke arah sana (sebagaimana Timur Tengah), dalam hal ini, Van Mook selaku Gubernur Jenderal di wilayah Hindia-Belanda saat itu mendirikan negara bagian. Konteksnya saat itu memanfaatkan politisi-politisi lama. Meski tidak semua bangsawa pro-Belanda, misalnya Sultan Yogyakarta ini kan masuk kategori pro-republik," kata Tiar melalui kanal Masjid Kampus UGM, dikutip Rabu (16/8/2023).
Tiar mengutip Plato, filosof Yunani klasik, yang menyatakan tampuk pimpinan harus diberikan pada kaum intelegensi, atau pemikir. Memang sejarah Indonesia berpihak ke arah tersebut. Tiar menyebut mencontohkan KH Agus Salim atau H.O.S Cokroaminoto, yang merupakan pemikir sekaligus aktivis.
"Dalam hal ini, misalnya, H.O.S Cokroaminoto kan kita tahu berwacana mengenai bentuk ideal bagi Indonesia ke depannya yang menurutnya Islam dan sosialisme," tuturnya.
Sejarah mencatat, Soekarno tampil dalam rumusannya mengenai NASAKOM. Rumusan itu nantinya direalisasikan saat diri Bung Karno berada di tampuk kekuasaan. Itu menandakan Indonesia sangat didominasi oleh pemikir dan aktivis.
"Jadi artinya, Indonesia ini sangat didominasi oleh para pemikir, aktivis. Gagasan keindonesiaan ini bukan dilahirkan dari pragmatisme politik yang hanya sekadar ingin mengambil keuntungan sesaat," katanya.
Tiar memaparkan, memang terdapat ketegangan yang mewarnai cakrawala perpolitikan Tanah Air. Hingga kemudian, para pemikir bersepakat dengan rumusan yang dikenal dengan Pancasila. Dalam konteks ini, para pemikir berkontestasi menawarkan hasil perenungan dan penghayatan, yang kemudian disepakati Pancasila.