Tiga Hal Penting dalam Transformasi Digital
Tim langit 7
Senin, 28 Agustus 2023 - 07:00 WIB
Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf.
Dunia digital sudah semakin kuat pengaruhnya dan mengarah kepada dominasi dari perilaku masyarakat. Masyarakat perlu memperhatikan tiga hal yang relevan dengan operasionalisasi demokrasi di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Ketiganya adalah partisipasi masyarakat, lingkaran jaringan sosial, dan relevansi ideologi," kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dikutip Senin (28/8/2023)
Pertama, terkait dengan partisipasi. Menurut Gus Yahya, platform digital membuka partisipasi dengan tanpa batas. Semua orang berpartisipasi. Pengaruh dari partisipasi yang sangat terbuka itu tidak bisa diblokir, tidak terhindarkan terhadap dinamika politik, sehingga belum diketahui arahnya ke mana.
Menurutnya, tidak hanya orang-orang yang dianggap kompeten tentang satu topik, tapi siapa saja bisa ikut berpartisipasi di dalam topik apa pun.
"Politisi yang jadi pemegang wewenang pemerintahan dengan orang-orang di jalanan enggak ada bedanya, partisipasinya. Dan, ini nanti akan sangat mengubah dinamika politik itu sendiri," ujar kiai yang juga meminati kajian sosiologi itu.
Baca juga:Pemerintah Lempar Wacana Larangan Haji Lebih dari Sekali
Kedua, lingkaran jaringan sosial. Dalam hal ini, Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang, itu melihat jika kemarin-kemarin dalam urusan politik primadonanya adalah statistik, untuk bisa melihat secara lebih dalam terhadap dinamika yang terjadi, kini sudah mulai makin populer dengan apa yang disebut sebagai social network analysis (SNA).
"Ketiganya adalah partisipasi masyarakat, lingkaran jaringan sosial, dan relevansi ideologi," kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dikutip Senin (28/8/2023)
Pertama, terkait dengan partisipasi. Menurut Gus Yahya, platform digital membuka partisipasi dengan tanpa batas. Semua orang berpartisipasi. Pengaruh dari partisipasi yang sangat terbuka itu tidak bisa diblokir, tidak terhindarkan terhadap dinamika politik, sehingga belum diketahui arahnya ke mana.
Menurutnya, tidak hanya orang-orang yang dianggap kompeten tentang satu topik, tapi siapa saja bisa ikut berpartisipasi di dalam topik apa pun.
"Politisi yang jadi pemegang wewenang pemerintahan dengan orang-orang di jalanan enggak ada bedanya, partisipasinya. Dan, ini nanti akan sangat mengubah dinamika politik itu sendiri," ujar kiai yang juga meminati kajian sosiologi itu.
Baca juga:Pemerintah Lempar Wacana Larangan Haji Lebih dari Sekali
Kedua, lingkaran jaringan sosial. Dalam hal ini, Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang, itu melihat jika kemarin-kemarin dalam urusan politik primadonanya adalah statistik, untuk bisa melihat secara lebih dalam terhadap dinamika yang terjadi, kini sudah mulai makin populer dengan apa yang disebut sebagai social network analysis (SNA).