Ibadah Haji Tidak Sekadar Spiritual, Tapi Ada Aspek Ekonomi
Tim langit 7
Rabu, 25 Oktober 2023 - 06:00 WIB
Bendahara Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Hilman Latief
Bendahara Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Hilman Latief menyebut bahwa perlu perbaikan dalam membaca dan menafsirkan perintah haji dalam Al Qur’an
Perbaikan tersebut bukan sekadar simbolis, atau memperbaiki makhraj hurufnya saja, tetapi membaca yang lebih mendalam dan menemukan substansi dari pesan yang dibawakan oleh Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, dan umat Islam pada khususnya.
“Saya baru menyadari bahwa cara membaca Al Qur’an kita gak terlalu serius, cara menafsirkan Al Qur’an kita baru sekadar mengejar spiritualitasnya,” ungkap Hilman di hadapan peserta tasyakur Milad ke-75 Ponpes Karangasem Muhammadiyah Lamongan.
Baca juga:Gusdurian dan UNESCO Latih Tokoh Agama Kampanye Pemilu Damai di Medsos
Guru Besar Bidang Filantropi Islam ini mencontohkan, misalnya perintah berhaji dalam Al Qur’an selama ini masih dimaknai dari sisi spiritualitasnya saja, padahal dalam pelaksanaan ibadah haji juga ada sisi ekonomi yang selama ini luput digarap umat Islam.
Selama ini jamaah haji dan pemerintah Indonesia telah menggelontorkan triliunan rupiah selama prosesi ibadah haji. Namun hanya sedikit yang kembali umat muslim Indonesia, bahkan mungkin tidak sama sekali. Saat ini menurutnya, harus dipikirkan dengan serius tentang ekosistem ekonomi ibadah haji dan umrah.
“Jadi ngurusi haji dan umrah itu bukan sekadar kita mempersiapkan para pemimbing haji, tetapi justru menyiapkan generasi baru, di mana adik-adik ini menjadi ahli manajemen, ada yang menjadi ahli manajemen keuangan triliunan rupiah,” ungkapnya.
Perbaikan tersebut bukan sekadar simbolis, atau memperbaiki makhraj hurufnya saja, tetapi membaca yang lebih mendalam dan menemukan substansi dari pesan yang dibawakan oleh Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, dan umat Islam pada khususnya.
“Saya baru menyadari bahwa cara membaca Al Qur’an kita gak terlalu serius, cara menafsirkan Al Qur’an kita baru sekadar mengejar spiritualitasnya,” ungkap Hilman di hadapan peserta tasyakur Milad ke-75 Ponpes Karangasem Muhammadiyah Lamongan.
Baca juga:Gusdurian dan UNESCO Latih Tokoh Agama Kampanye Pemilu Damai di Medsos
Guru Besar Bidang Filantropi Islam ini mencontohkan, misalnya perintah berhaji dalam Al Qur’an selama ini masih dimaknai dari sisi spiritualitasnya saja, padahal dalam pelaksanaan ibadah haji juga ada sisi ekonomi yang selama ini luput digarap umat Islam.
Selama ini jamaah haji dan pemerintah Indonesia telah menggelontorkan triliunan rupiah selama prosesi ibadah haji. Namun hanya sedikit yang kembali umat muslim Indonesia, bahkan mungkin tidak sama sekali. Saat ini menurutnya, harus dipikirkan dengan serius tentang ekosistem ekonomi ibadah haji dan umrah.
“Jadi ngurusi haji dan umrah itu bukan sekadar kita mempersiapkan para pemimbing haji, tetapi justru menyiapkan generasi baru, di mana adik-adik ini menjadi ahli manajemen, ada yang menjadi ahli manajemen keuangan triliunan rupiah,” ungkapnya.