Pentingnya Pemimpin Cerdas
Tim langit 7
Ahad, 07 Januari 2024 - 09:00 WIB
Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali.Foto/ist
Dalam ajaran Islam, merujuk kepada karakterisitik dasar para nabi, Amanah, Fathonah, Shiddiq, dan Tablig yang sekaligus juga menjadi karakteristik utama pemimpin dalam pandangan Islam. Tentu pada level dan defenisi yang berbeda.
Satu di antara empat karakteristik itu adalah “al-fathonah” atau kecerdasan. Jika karakter ini menjadi penting bagi para nabi karena mereka penerima wahyu dan harus paling memahami wahyu itu, maka pemimpin adalah penerima amanah (mandat) rakyat untuk mengelolah kehidupan jama’i (publik).
Kecerdasan pemimpin itu akan terlihat dalam beberapa tingkatan dan aspek:
Pertama, aspek edukasi atau pendidikan. Saat ini kita hidup dalam dunia yang sangat maju dalam pendidikan. Tidak saja dalam pendidikan formal. Bahkan dalam berbagai pendidikan yang dikategorikan non formal mengalami kemajuan yang sangat luar biasa. Untuk mengimbangi tingkat pendidikan yang semakin tinggi dan maju ini pemimpin harus memiliki tingkat pendidikan yang memadai. Hal ini akan sangat menentukan bagaimana pemimpin itu akan mengelolah (managing) kehidupan publik (masyarakat).
Kedua, aspek akal dan pemikiran. Seorang pemimpin tidak saja diharapkan memiliki tingkatan pendidikan yang solid. Bahkan tidak saja penting memilki latar belakang pendidikan yang valid dan ijazah yang tidak pertanyakan. Tapi seorang pemimpin harus memiliki akal dan pemikiran yang cerdas. Hal itu karena seorang pemimpin harus tajam dan jeli dalam melihat segala permasalahan bangsa, sekaligus cerdas meneropong kemungkinan solusi (possible solutions) dari permasalahan-permasalahan itu. Seringkali pula seorang pemimpin berhadapan dengan kancil-kancil licik dari berbagai belahan dunia. Jika tidak cerdik dan tajam berpikir maka kancil-kancil itu akan menari-nari di atas penderitaan bangsa karena kebodohan sang pemimpin itu.
Baca juga:KPU Tetapkan 5 Perubahan pada Debat Ketiga Capres 2024
Ketiga, aspek ide dan gagasan. Seorang pemimpin yang pintar dan cerdik pastinya memiliki banyak ide dan gagasan. Pemimpin yang pintar tidak sekedar menunggu ide dan gagasan dari para pakar yang disewa. Lebih runyam lagi ketika ide dan gagasan itu hanya disuapkan kepadanya sehingga m dia sendiri sesungguhnya tidak paham dan menguasai konsep (ide dan gagasan) yang dipersiapkan oleh pakar yang disewa. Akibatnya, jika ditanya oleh orang lain tentang visi misinya, dia hanya akan menjawab dengan “Silahkan baca di buku saya”. Atau dengan jawaban: “untuk visi misi akan dielaborasi oleh jubir saya”.
Satu di antara empat karakteristik itu adalah “al-fathonah” atau kecerdasan. Jika karakter ini menjadi penting bagi para nabi karena mereka penerima wahyu dan harus paling memahami wahyu itu, maka pemimpin adalah penerima amanah (mandat) rakyat untuk mengelolah kehidupan jama’i (publik).
Kecerdasan pemimpin itu akan terlihat dalam beberapa tingkatan dan aspek:
Pertama, aspek edukasi atau pendidikan. Saat ini kita hidup dalam dunia yang sangat maju dalam pendidikan. Tidak saja dalam pendidikan formal. Bahkan dalam berbagai pendidikan yang dikategorikan non formal mengalami kemajuan yang sangat luar biasa. Untuk mengimbangi tingkat pendidikan yang semakin tinggi dan maju ini pemimpin harus memiliki tingkat pendidikan yang memadai. Hal ini akan sangat menentukan bagaimana pemimpin itu akan mengelolah (managing) kehidupan publik (masyarakat).
Kedua, aspek akal dan pemikiran. Seorang pemimpin tidak saja diharapkan memiliki tingkatan pendidikan yang solid. Bahkan tidak saja penting memilki latar belakang pendidikan yang valid dan ijazah yang tidak pertanyakan. Tapi seorang pemimpin harus memiliki akal dan pemikiran yang cerdas. Hal itu karena seorang pemimpin harus tajam dan jeli dalam melihat segala permasalahan bangsa, sekaligus cerdas meneropong kemungkinan solusi (possible solutions) dari permasalahan-permasalahan itu. Seringkali pula seorang pemimpin berhadapan dengan kancil-kancil licik dari berbagai belahan dunia. Jika tidak cerdik dan tajam berpikir maka kancil-kancil itu akan menari-nari di atas penderitaan bangsa karena kebodohan sang pemimpin itu.
Baca juga:KPU Tetapkan 5 Perubahan pada Debat Ketiga Capres 2024
Ketiga, aspek ide dan gagasan. Seorang pemimpin yang pintar dan cerdik pastinya memiliki banyak ide dan gagasan. Pemimpin yang pintar tidak sekedar menunggu ide dan gagasan dari para pakar yang disewa. Lebih runyam lagi ketika ide dan gagasan itu hanya disuapkan kepadanya sehingga m dia sendiri sesungguhnya tidak paham dan menguasai konsep (ide dan gagasan) yang dipersiapkan oleh pakar yang disewa. Akibatnya, jika ditanya oleh orang lain tentang visi misinya, dia hanya akan menjawab dengan “Silahkan baca di buku saya”. Atau dengan jawaban: “untuk visi misi akan dielaborasi oleh jubir saya”.