Budaya Politik Indonesia Cenderung pada Harmoni, Namun Oposisi Tetap Dibutuhkan
Tim langit 7
Ahad, 18 Februari 2024 - 13:00 WIB
Ketua PBNU KH Ulil Abshar Abdalla.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ulil Abshar Abdalla mengungkapkan bahwa tradisi politik Indonesia, pemenang selalu ingin merangkul yang kalah, dan itu merupakan bagian dari budaya politik Indonesia.
“Tradisi politik Indonesia, itu pemenang selalu ingin merangkul yang kalah, ini bagian dari budaya politik kita memang. Kita tidak bisa komplain atau apa tapi ya begitu faktanya,” ujarnya dilansir dari kanal Youtube NU Online, Sabtu (17/2/2024).
Ia menekankan, meskipun budaya politik Indonesia mengutamakan harmoni, keselarasan, dan kerukunan, keberadaan kekuatan oposisi yang cukup kuat tetaplah penting.
Menurutnya, kekuasaan politik yang tidak diimbangi oleh kontrol dan kritik dari luar tidak akan menghasilkan situasi yang sehat.
“Kekuatan-kekuatan oposisi yang terlalu kuat itu tidak disukai memang, tetapi kita tahu kalau tidak ada penyeimbang itu kan tidak bagus ya. Suatu kekuasaan politik itu pasti membutuhkan kontrol, pasti membutuhkan kritik dari luar,” terangnya.
Baca juga:Pemilu Usai, MUI Ajak Rajut Kembali Kebersamaan untuk Membangun Indonesia
Gus Ulil juga mengungkapkan kekhawatirannya tentang kemungkinan budaya politik harmoni yang berlanjut di masa depan. Ia meragukan apakah harmoni ini akan tetap bertahan atau bahkan memburuk dari sebelumnya.
“Tradisi politik Indonesia, itu pemenang selalu ingin merangkul yang kalah, ini bagian dari budaya politik kita memang. Kita tidak bisa komplain atau apa tapi ya begitu faktanya,” ujarnya dilansir dari kanal Youtube NU Online, Sabtu (17/2/2024).
Ia menekankan, meskipun budaya politik Indonesia mengutamakan harmoni, keselarasan, dan kerukunan, keberadaan kekuatan oposisi yang cukup kuat tetaplah penting.
Menurutnya, kekuasaan politik yang tidak diimbangi oleh kontrol dan kritik dari luar tidak akan menghasilkan situasi yang sehat.
“Kekuatan-kekuatan oposisi yang terlalu kuat itu tidak disukai memang, tetapi kita tahu kalau tidak ada penyeimbang itu kan tidak bagus ya. Suatu kekuasaan politik itu pasti membutuhkan kontrol, pasti membutuhkan kritik dari luar,” terangnya.
Baca juga:Pemilu Usai, MUI Ajak Rajut Kembali Kebersamaan untuk Membangun Indonesia
Gus Ulil juga mengungkapkan kekhawatirannya tentang kemungkinan budaya politik harmoni yang berlanjut di masa depan. Ia meragukan apakah harmoni ini akan tetap bertahan atau bahkan memburuk dari sebelumnya.