Fakta-fakta Seputar Bukit Shafa dan Marwa
Tim langit 7
Rabu, 29 Mei 2024 - 11:00 WIB
Bukit Shafa dan Marwa memiliki sejumlah fakta menarik.Foto/ist
Bagi yang pernah melaksanakan haji dan umrah, tentu tidak asing dengan dua bukit yang berada di sisi sebelah timur Masjidil Haram yang juga termasuk salah satu tempat dalam rangkaian ibadah haji dan umrah, yaitu bukit Shafa dan Marwa.
Dua bukit ini ternyata memiliki sejumlah fakta menarik, apa saja fakta menarik itu ?
Berada di sebelah timur Masjidil Haram dengan jarak sekitar 130 meter dari Ka’bah, ternyata bukit Shafa awalnya bersambung dengan bukit Abu Qubays, di sisi selatan dan bukit Marwa berjarak sekitar 300 meter dari Ka’bah bersambung dengan bukit Qa’ayqa’an, berhadapan dengan bukit Shafa ada di sebelah utaranya.
Sehingga bisa disimpulkan bahwa Ka’bah terletak di lembah tandus yang dipenuhi dengan bukit dan pasir, seperti halnya yang bisa disaksikan di Makkah.
Baca juga:Pengukuran Arah Kiblat dengan Lokasi Terbanyak Raih Rekor Muri
Bukit Shafa dan Marwa kemudian dipisahkan dari bukit lainnya ketika adanya perluasan Masjidil Haram pertama oleh Kerajaan Arab Saudi pada sekitar tahun 1955-1956, dan menjadikan keduanya menjadi satu bagian dari Masjidil Haram. Antara kedua bukit itu, terdapat jalan untuk melakukan Sa’i yang lazim disebut sebagai Mas’a.
Kata “shafa” berasal dari kata shafa’ atau shafwan atau shafwa’ yang identik dengan makna “lembut” atau “murni”, sedangkan dalam kaitannya dengan penamaan bukit ini, mengandung makna sebagai bukit bebatuan yang besar, keras, dan halus, bercampur dengan kerikil dan pasir.
Dua bukit ini ternyata memiliki sejumlah fakta menarik, apa saja fakta menarik itu ?
Berada di sebelah timur Masjidil Haram dengan jarak sekitar 130 meter dari Ka’bah, ternyata bukit Shafa awalnya bersambung dengan bukit Abu Qubays, di sisi selatan dan bukit Marwa berjarak sekitar 300 meter dari Ka’bah bersambung dengan bukit Qa’ayqa’an, berhadapan dengan bukit Shafa ada di sebelah utaranya.
Sehingga bisa disimpulkan bahwa Ka’bah terletak di lembah tandus yang dipenuhi dengan bukit dan pasir, seperti halnya yang bisa disaksikan di Makkah.
Baca juga:Pengukuran Arah Kiblat dengan Lokasi Terbanyak Raih Rekor Muri
Bukit Shafa dan Marwa kemudian dipisahkan dari bukit lainnya ketika adanya perluasan Masjidil Haram pertama oleh Kerajaan Arab Saudi pada sekitar tahun 1955-1956, dan menjadikan keduanya menjadi satu bagian dari Masjidil Haram. Antara kedua bukit itu, terdapat jalan untuk melakukan Sa’i yang lazim disebut sebagai Mas’a.
Kata “shafa” berasal dari kata shafa’ atau shafwan atau shafwa’ yang identik dengan makna “lembut” atau “murni”, sedangkan dalam kaitannya dengan penamaan bukit ini, mengandung makna sebagai bukit bebatuan yang besar, keras, dan halus, bercampur dengan kerikil dan pasir.