Suara Hati Atlet Muslim Prancis Soal Larangan Berjilbab di Olimpiade Paris 2024
Esti setiyowati
Jum'at, 19 Juli 2024 - 18:00 WIB
pebola basket Prancis, Diaba Konat juga terancam larangan bermain di negaranya sendiri karena ia mengenakan jilbab.Foto/ist
Salimata Sylla, pemain bola basket Prancis, mengungkapkan kekecewaannya setelah Prancis melarang atletnya mengenakan jilbab di Olimpiade Paris 2024.
Atlet berhijab ini mengaku sedih dan merasa rendah dilahirkan di negara yang tak menginginkannya.
Sejak tahun 1905, Prancis memisahkan antara agama dan negara dengan melarang menggunakan simbol agama seperti jilbab atau kalung salib besar. Hal itu dilakukan demia prinsip netralitas.
Larangan atlet mengenakan simbol agama di Prancis memang menjadi bahan perdebatan. Beberapa pihak mendukung larangan tersebut, sementara yang lain percaya bahwa kebijakan tersebut dapat mengecualikan perempuan Muslim di olahraga.
Sylla atau dikenal dengan nama "Sali" menyuarakan penolakannya terhadap larangan berjilbab di Olimpiade Paris sejak Januari. Dalam wawancaranya dengan Anadolu, atlet berusia 26 tahun ini mengaku tidak terkejut dengan pengumuman Menteri Olahraga Amelie Oudea-Castera tentang larangan jilbab bagi atlet Prancis di Olimpiade.
"Mereka tidak pernah ingin kami bermain sejak awal. "Prancis sama sekali tidak ingin kita mendapat manfaat dari acara olahraga ini." katanya, melansir TRT World, Jumat (19/7/2024).
“Sangat menyedihkan melihat kita sebagai remaja putri Muslim, dikucilkan. Menyadari bahwa kita dilahirkan di negara yang tidak menginginkan kita bukan hanya menyedihkan tapi juga merendahkan. Mereka tidak menginginkan kita apa adanya, dan itu sangat menyedihkan. Olahraga harus inklusif untuk semua orang,” kata Sylla yang lahir di Prancis.
Atlet berhijab ini mengaku sedih dan merasa rendah dilahirkan di negara yang tak menginginkannya.
Sejak tahun 1905, Prancis memisahkan antara agama dan negara dengan melarang menggunakan simbol agama seperti jilbab atau kalung salib besar. Hal itu dilakukan demia prinsip netralitas.
Larangan atlet mengenakan simbol agama di Prancis memang menjadi bahan perdebatan. Beberapa pihak mendukung larangan tersebut, sementara yang lain percaya bahwa kebijakan tersebut dapat mengecualikan perempuan Muslim di olahraga.
Sylla atau dikenal dengan nama "Sali" menyuarakan penolakannya terhadap larangan berjilbab di Olimpiade Paris sejak Januari. Dalam wawancaranya dengan Anadolu, atlet berusia 26 tahun ini mengaku tidak terkejut dengan pengumuman Menteri Olahraga Amelie Oudea-Castera tentang larangan jilbab bagi atlet Prancis di Olimpiade.
"Mereka tidak pernah ingin kami bermain sejak awal. "Prancis sama sekali tidak ingin kita mendapat manfaat dari acara olahraga ini." katanya, melansir TRT World, Jumat (19/7/2024).
“Sangat menyedihkan melihat kita sebagai remaja putri Muslim, dikucilkan. Menyadari bahwa kita dilahirkan di negara yang tidak menginginkan kita bukan hanya menyedihkan tapi juga merendahkan. Mereka tidak menginginkan kita apa adanya, dan itu sangat menyedihkan. Olahraga harus inklusif untuk semua orang,” kata Sylla yang lahir di Prancis.