Putaran Baru Perundingan Gencatan Senjata Gaza di Qatar Berlanjut Jumat Ini
Nabil
Jum'at, 16 Agustus 2024 - 07:14 WIB
Putaran Baru Perundingan Gencatan Senjata Gaza di Qatar Berlanjut Jumat Ini
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, mengumumkan pada Jumat bahwa perundingan gencatan senjata dan pembebasan sandera di Gaza akan dilanjutkan hari ini. Upaya mediasi yang melibatkan Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat terus berlangsung untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata yang akan memfasilitasi pembebasan sandera dan memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan dalam jumlah besar ke Gaza.
Perundingan ini merupakan upaya untuk mengakhiri 10 bulan pertempuran di wilayah Palestina dan memulangkan 115 sandera Israel dan asing. Momentum perundingan muncul saat Iran terlihat siap membalas serangan Israel setelah pembunuhan pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, di Teheran pada 31 Juli lalu.
Amerika Serikat telah mengerahkan kapal perang, kapal selam, dan pesawat tempur ke kawasan untuk melindungi Israel dan mencegah potensi serangan. Washington berharap kesepakatan gencatan senjata di Gaza dapat meredam risiko perang regional yang lebih luas.
Pejabat Hamas, yang telah menuduh Israel mengulur-ulur waktu, tidak bergabung dalam pembicaraan Kamis. Namun, mediator berencana untuk berkonsultasi dengan tim negosiasi Hamas yang berbasis di Doha setelah pertemuan tersebut, menurut seorang pejabat yang mengetahui perundingan tersebut.
Gedung Putih pada Kamis mendesak semua pihak untuk menghadiri perundingan guna mencapai kesepakatan. Mereka menghimbau Israel dan Hamas untuk berkompromi, menegaskan bahwa kemajuan masih mungkin dicapai dalam beberapa hari mendatang.
Juru bicara keamanan nasional Gedung Putih, John Kirby, dalam wawancara dengan CNN, juga menyatakan bahwa informasi menunjukkan Iran belum mengurungkan ancamannya untuk menyerang Israel, termasuk kemungkinan melalui kelompok proksi. AS mengawasi situasi dengan seksama dan siap menghadapi segala kemungkinan.
Delegasi Israel terdiri dari kepala mata-mata David Barnea, kepala badan keamanan dalam negeri Ronen Bar, dan kepala urusan sandera militer Nitzan Alon. Sementara itu, Direktur CIA Bill Burns dan utusan AS untuk Timur Tengah Brett McGurk mewakili Washington dalam pembicaraan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, dengan kehadiran kepala intelijen Mesir Abbas Kamel.
Perundingan ini merupakan upaya untuk mengakhiri 10 bulan pertempuran di wilayah Palestina dan memulangkan 115 sandera Israel dan asing. Momentum perundingan muncul saat Iran terlihat siap membalas serangan Israel setelah pembunuhan pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, di Teheran pada 31 Juli lalu.
Amerika Serikat telah mengerahkan kapal perang, kapal selam, dan pesawat tempur ke kawasan untuk melindungi Israel dan mencegah potensi serangan. Washington berharap kesepakatan gencatan senjata di Gaza dapat meredam risiko perang regional yang lebih luas.
Pejabat Hamas, yang telah menuduh Israel mengulur-ulur waktu, tidak bergabung dalam pembicaraan Kamis. Namun, mediator berencana untuk berkonsultasi dengan tim negosiasi Hamas yang berbasis di Doha setelah pertemuan tersebut, menurut seorang pejabat yang mengetahui perundingan tersebut.
Gedung Putih pada Kamis mendesak semua pihak untuk menghadiri perundingan guna mencapai kesepakatan. Mereka menghimbau Israel dan Hamas untuk berkompromi, menegaskan bahwa kemajuan masih mungkin dicapai dalam beberapa hari mendatang.
Juru bicara keamanan nasional Gedung Putih, John Kirby, dalam wawancara dengan CNN, juga menyatakan bahwa informasi menunjukkan Iran belum mengurungkan ancamannya untuk menyerang Israel, termasuk kemungkinan melalui kelompok proksi. AS mengawasi situasi dengan seksama dan siap menghadapi segala kemungkinan.
Delegasi Israel terdiri dari kepala mata-mata David Barnea, kepala badan keamanan dalam negeri Ronen Bar, dan kepala urusan sandera militer Nitzan Alon. Sementara itu, Direktur CIA Bill Burns dan utusan AS untuk Timur Tengah Brett McGurk mewakili Washington dalam pembicaraan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, dengan kehadiran kepala intelijen Mesir Abbas Kamel.